Ancaman Baru China di Laut Natuna Utara, Pesawat Jatuhkan Bom dan Ranjau, Ini Potensi Migas di Sana

Klaim China atas wilayah Laut Natuna Utara masih menimbulkan gejolak. Posisinya berbatasan langsung dengan Laut China Selatan.

Tayang:
Editor: Salomo Tarigan
Dok/Tribun Medan
Kapal Perang China masuk Laut Natuna 

TRIBUN-MEDAN.com - Klaim China atas wilayah Laut Natuna Utara masih menimbulkan gejolak.

Posisinya berbatasan langsung dengan Laut China Selatan.

Dikabarkan, China mengirimkan pesawat melepas bom hingga ranjau di sejumlah pulau..

China melibatkan Armada militer milik Beijing dalam hal ini Tentara Pembebasan China (PLA) H-6J 

Mereka dilaporkan menggelar latihan militer secara intens di sana.

Baca juga: BERITA TIMNAS - Kini Giliran Vietnam, Setelah Timnas Indonesia Taklukkan Laos dan Kamboja

China sebelumnya masih bersikeras jika Laut Natuna Utara merupakan wilayahnya.

Yang terbaru, mereka bahkan mengirim surat resmi ke Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia serta meminta aktivitas pengeboran minyak dan gas (migas) untuk dihentikan.

Potensi migas di Laut Natuna Utara memang tak bisa dianggap remeh.

 Laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat jika cadangan minyak bumi di Laut Natuna Utara sebesar 92,63 juta standar barel atau milion stock tank barrel (MMSTB).

Sementara itu, cadangan potensial minyak bumi di Laut Natuna Utara adalah 137,13 MMSTB.

Cadangan potensial itu terdiri dari cadangan harapan sebesar 88,90 MMSTB dan cadangan mungkin 48,23 MMSTB.

Di sisi lain, cadangan gas bumi terbukti di Laut Natuna Utara adalah 1.045,62 juta kaki kubik atau billions of standard cubic feet (BSCF).

Sedangkan cadangan gas bumi potensial di Laut Natuna Utara sebesar 1.605,24 BSCF yang terdiri dari 1.083,61 BSCF cadangan harapan dan 521,63 BSCF cadangan mungkin.

Sementara itu dalam skala nasional, cadangan minyak bumi di Indonesia sebesar sebesar 3.774,6 MMSTB dan gas bumi sebesar 77,29 triliun kaki kubik atau trillions of standard cubic feet (TSCF)

Pemerintah Republik Indonesia mengatakan ujung selatan Laut China Selatan tersebut zona ekonomi eksklusifnya menurut Konvensi PBB tentang Hukum Laut.

Indonesia menamai wilayah tersebut dengan Laut Natuna Utara pada 2017.

Baca juga: BERITA TIMNAS - Kini Giliran Vietnam, Setelah Timnas Indonesia Taklukkan Laos dan Kamboja

 Dengan payung hukum itu, Indonesia memiliki kewenangan penuh untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam di sana.

Dilansir dari Global Times seperti diberitakan Tribunnews.com, armada militer China H-6J berpartisipasi dalam latihan tembak-menembak di Laut China Selatan.

Pesawat tersebut juga menjatuhkan bom di pulau-pulau dan meletakkan ranjau laut.

H-6J diketahui berafiliasi dengan salah satu unit penerbangan PLA yang berbasis di Provinsi Hainan.

Pada hari Jumat (3/12), CCTv melaporkan bahwa latihan melibatkan bom udara berdaya ledak tinggi dan ranjau dasar laut.

Beberapa unit H-6J lepas landas pada malam hari dan langsung membentuk formasi udara.

Semuanya tiba di wilayah laut yang ditentukan saat fajar.

Kondisi cuaca saat itu dilaporkan cukup kompleks, ditandai dengan adanya awan tebal.

Pesawat pertama-tama menjatuhkan ranjau laut, kemudian menjatuhkan bom di beberapa titik.

Bom yang dijatuhkan memiliki radius ledakan yang besar dan berhasil mengenai sasaran di pulau-pulau dan terumbu karang.

Setelah pengeboman gelombang pertama selesai, rombongan H-6J kembali ke pangkalan untuk menerima pemeriksaan menyeluruh dan melakukan pengisian ulang amunisi dan bahan bakar sebelum kembali lagi untuk gelombang kedua.

Selain bom dan ranjau laut, unit pesawat H-6J yang ditugaskan kali ini juga membawa rudal anti-kapal YJ-12 di bawah sayapnya.

Baca juga: BERITA TIMNAS - Kini Giliran Vietnam, Setelah Timnas Indonesia Taklukkan Laos dan Kamboja

Pesawat jenis ini baru diumumkan secara resmi oleh Kementerian Pertahanan China tahun lalu.

Menurut pakar militer yang dihubungi Global Times, latihan ini menunjukkan bahwa H-6J masih mempertahankan kemampuan pengeboman tradisionalnya.

Meskipun ia juga dapat dipersenjatai dengan senjata anti-kapal dan rudal jelajah serangan darat.

Secara umum, bom dinilai lebih efisien dan lebih murah daripada rudal.

Penggunaan bom juga akan sangat efektif apabila pesawat pembom tidak terancam oleh tembakan musuh.

China Protes ke Indonesia

Pemerintah China sebelumnya melayangkan protes ke Indonesia karena melakukan pengeboran minyak dan gas (migas) di wilayah perairan Kepulauan Natuna.

Wilayah maritim tersebut memang diklaim kedua negara.

Sebuah surat dari Diplomat China kepada Kementerian Luar Negeri Indonesia dengan jelas mengultimatum Indonesia untuk menghentikan pengeboran di rig lepas pantai untuk sementara waktu karena lokasinya berada di wilayah yang dianggap milik China.

Indonesia mengatakan ujung selatan Laut Cina Selatan adalah zona ekonomi eksklusifnya di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut.

Indonesia menamai wilayah tersebut dengan Laut Natuna Utara pada 2017, di mana sebelumnya disebut Laut China Selatan.

Sebenarnya potensi apa yang terkandung di Laut Natuna?

Peneliti Ahli Utama Bidang Oseanografi Terapan & Manajemen Pesisir, Kementerian Kelautan & Perikanan Widodo S. Pranowo mengibaratkan Laut Natuna adalah taman bunga yang selalu menghasilkan serbuk sari.

 "Sehingga banyak lebah yang akan datang karena mencium bau harum nektar dari bunga-bunga tersebut yang dihembuskan oleh angin hingga mencapai jarak yang jauh," ujarnya.

Mengapa diibaratkan demikian?

Proses pembentukan secara geologi dari basin Laut Natuna (Utara) dan Laut China Selatan selama ratusan jutaan tahun yang lalu, menimbulkan cekungan-cekungan jebakan minyak dan gas bumi di bawah dasar Laut Natuna (Utara) dan Laut China Selatan.

Akibat pembentukan geologi basin tersebut, Laut Natuna (Utara) memiliki kedalaman yang dangkal, yang menyambung ke batimetri basin yang dalam dari Laut China Selatan.

Basin tersebut kemudian membangkitkan pola sirkulasi arus laut yang unik, yakni Viet Nam Jet Current (VJC) dan Natuna Off-Shelf Current (NOC).

"Sebenarnya VJC dan NOC ini merupakan satu kesatuan polas irkulasi di Laut China Selatan," tambah Anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) itu.

Viet Nam Jet Current adalah sirkulasi arus yang mengalir dari arah Samudera Pasifik Barat Laut China Selatan dengan kecepatan tinggi.

Sirkulasi arus itu menyusur tebing Laut China Selatan di sisi barat-laut/utara yang melewati Viet Nam.

Kemudian berbalik arah ketika mendekati tebing Laut Natuna (Utara) sehingga kemudian disebut sebagai Natuna Off-Shelf Current (NOC).

Widodo menambahkan, Sungai Mekong yang bermuara di pesisir Viet Nam, memasok nutrien atau zat hara dari darat mengalir ke dasar Laut China Selatan.  

Adanya Viet Nam Ject Current dan Natuna Off-Shelf Current tersebut mengangkat zat hara dari dasar perairan menuju ke atas (upwelling).

"Kemudian perairan menjadi sangat subur menyediakan khlorofil dan oksigen yang digunakan oleh ikan dan biota laut ekonomis tumbuh dan berkembang biak," ujar Widodo yang juga sebagai 3. Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE).

Khlorofil dan oksigen tersebut juga tersebar dengan merata dan baik di seluruh perairan pesisir di Laut China Selatan dan Laut Natuna (Utara).

Sehingga tidak heran satelit Vessel Monitoring System yang disajikan oleh Global Fishing Watch mendeteksi sangat banyak kapal penangkap ikan di sana.

Bahkan aktivitas kapal penangkapan ikan secara terus menerus hampir sepanjang tahun.

Kapal-kapal tersebut ada yang memiliki identitas/izin penangkapan, dan banyak pula yang tidak memiliki identitas/izin penangkapan. 

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), bersiaga terkait adanya laporan 6 kapal China yang berada di laut Natuna Utara sejak Senin (13/9/2021). Sejumlah video yang diambil nelayan, terlihat ada enam kapal China berada di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia, pada koordinat 6.17237 lintang utara dan 109.01578 bujur timur  .

Kapal China Bikin Takut Nelayan

Sejumlah nelayan di Kepulauan Riau, ketakutan melihat enam kapal China mondar-mandir di Laut Natuna Utara, sejak Senin (13/9/2021).

Dari 6 kapal China yang terpantau, kapal yang terlihat paling jelas adalah kapal destroyer Kunming-172.

 Kapal itu terlihat jelas di antara riak gelombang air laut. Warna abu-abu khas tampak jelas tak terhalang. Namun, tidak ada kontak mereka dengan para nelayan yang memancing.

Ketua Aliansi Nelayan Natuna Hendri mengatakan keberadaan kapal ini membuat nelayan takut.

”Nelayan merasa takut gara-gara ada mereka di sana, apalagi itu kapal perang. Kami ingin pemerintah ada perhatian soal ini supaya nelayan merasa aman saat mencari ikan,” kata Hendri, seperti diberitakan Harian Kompas, Kamis (16/9/2021).

Ancaman kapal China di Laut Natuna Utara mulai menguat sejak akhir Agustus 2021.

Selain enam kapal kemarin, kapal survei Haiyang Dizhi-10 juga berulang kali terpantau satelit melintas zig-zag dikawal sejumlah kapal penjaga pantai China.

Ada juga ancaman kapal perang China di Laut Natuna dengan membawa pulang teknologi kapal perang canggih jenis Frigate tipe Arrowhead 140.

Frigate adalah jenis kapal perang ringan dengan kecepatan tinggi dan kemampuan manuver yang dilengkapi teknologi militer canggih terkini.

Arrowhead 140 dipersenjatai dengan rudal-rudal antipesawat, juga torpedo anti-kapal selam, yang membuatnya mampu memberikan pertahanan terhadap ancaman udara dan laut.

Kapal ini juga punya kemampuan untuk menjadi kapal induk mini bagi helikopter angkatan laut baik untuk misi antar-jemput personel maupun misi penyelamatan SAR search and rescue. 

Baca juga: Temuan Baru Ilmuwan Afrika soal Varian Omicron, Gejala tak Biasa Cepat Menular

Baca juga: TAJIR MELINTIR Ladyboy Sukses Dinikahi Pengusaha Kaya, Sang Pria Tergila-gila Rela Ceraikan Istri

(Tribunnews.com/TribunBatam.id /kompas

Ancaman Baru China di Laut Natuna Utara, Pesawat Jatuhkan Bom dan Ranjau, Ini Potensi Migas di Sana

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved