Harga Jahe Anjlok, Dinas Pertanian Minta Kelompok Tani Saling Belajar
Kelompok tani harus saling berbagi informasi untuk memperkuat lintas petani di daerah.
Penulis: Alija Magribi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, SIMALUNGUN- Jatuhnya harga jahe merah di Kabupaten Simalungun beberapa bulan terakhir membuat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, Ruslan Sitepu angkat bicara.
Ia meminta peran kelompok tani (Poktan) bersinergi bersama membahas jahe merah.
Kepada Tribun Medan, Ruslan Sitepu mengakui mayoritas petani di Kabupaten Simalungun adalah petani tradisional. Para petani selalu memanfaatkan momentum untuk tanam dan panen.
"Mayoritas petani kita masih tradisional. Kemarin, saat awal Covid-19, yang mana harga jahe merah melonjak, semua berbondong-bondong tanam jahe. Eh rupanya Covid-19 mereda dan jadi masalah karena harga jahe anjlok," kata Ruslan.
Baca juga: Akhirnya Pengacara Kondang Razman Arif Buka Suara Soal Kasus Albert Kang
Kata Ruslan, peran serta kelompok tani saat ini, di mana produksi jahe merah melonjak dan permintaan berkurang penting dirasakan.
Kelompok tani harus saling berbagi informasi untuk memperkuat lintas petani di daerah.
"Peran kelompok tani untuk saling berbagi itu penting. Misalnya kalau ada produk turunan dari jahe merah ada, tentu bisa disampaikan ke petani lainnya. Petani bisa terus belajar," kata Ruslan kembali.
Sesuai rencana, ujar Ruslan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara akan menggelar festival rempah pada Desember 2021 mendatang.
Ia meminta para petani bisa datang dan belajar dengan petani lainnya untuk menghasilkan produk yang evergreen.
"Bulan 12 kita ada event. Mudah-mudahan para petani bisa belajar di sana," jelas Ruslan kembali.
Sebelumnya, para petani jahe merah di Kabupaten Simalungun dirundung pilu.
Pasalnya, komoditas yang sempat hits karena dipercaya dapat meningkatkan imun menangkal infeksi Covid-19, kini tak berharga.
Saat ini harga jahe merah perkilogram yang ditawarkan ke petani hanya berada di kisaran Rp 2.500 - Rp 3.000.
Nilai yang sangat kecil bila melihat biaya yang dikeluarkan petani mulai pembibitan hingga panen.
Baca juga: Setahun Tak Naik Gaji, Buruh Sumut Berharap UMP Tahun 2021 Meningkat 16 Persen
"Hancur harganya. Kalau Rp 2.500 - Rp 3.000 dari mana lagi kita ambil untung, Pak. Malah jual rugi kalau pengepul menawarkan harga demikian," ujar Jonathan Sipayung, petani di Simpang Sigodang, Kecamatan Raya, Minggu (14/11/2021).
Jonathan mengatakan, anjloknya harga jahe merah tersebut sudah terjadi dalam 3 bulan terakhir. Permintaan terhadap jahe merah merosot. Sementara para petani masih harus mengeluarkan kocek untuk biaya bongkar (panen).
"Saat panen aja, yang punya lahan agak luas mesti ngeluarkan biaya Rp 1.500 per kilogram untuk sewa traktor. Harga di pengepul Rp 2.500 - Rp 3.000, lantas dari mana untung? Makanya banyak petani nggak mau panen," kata Jonathan kembali.
(alj/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/aktivitas-pertanian-jahe-merah-di-simpang-sigodang.jpg)