Materi Belajar Sekolah

Materi Belajar Sejarah Kedatangan VOC di Tanah Air: Tujuan, Kebijakan hingga Perlawanan Terhadap VOC

VOC adalah gabungan perusahaan-perusahaan dagang Belanda untuk perdagangan di Hindia Timur.

Ist
Tujuan pembentukan VOC, kebijakan, hingga perlawanan terhadap VOC 

1. Hak Monopoli

VOC berhak untuk memonopoli perdagangan dengan cara apapun, termasuk mengacaukan kerajaan lokal untuk memperoleh pemimpin yang mendukung monopoli VOC. Monopoli ini dapat dilangsungkan dari Tanjung Harapan sampai dengan Selat Magelhaens di seluruh wilayah dan pos dagang VOC. Salah satu kebijakan dari hak ini adalah Pelayaran Hongi yang bertujuan untuk memusnahkan kelebihan tanaman rempah-rempah sehingga harganya tidak turun. Hal ini menyebabkan kerugian bagi petani karena tanaman mereka dirusak secara sepihak.

2. Hak Kedaulatan (Soevereiniteit)

VOC berdiri sebagai perpanjangan tangan negara Belanda, ia diberikan hak-hak sebagaimana sebuah negara dapat lakukan.

Hak ini diberikan untuk mempermudah upaya menguasai perdagangan melalui kebijakan-kebijakan yang bersifat politis.

Hak kedaulatan yang dimiliki VOC antara lain adalah :

  1. Memelihara angkatan perang sendiri,
  2. Mencetak dan mengedarkan uang sendiri,
  3. Memaklumkan pengadaan perang dan perdamaian,
  4. Merebut dan menduduki daerah asing di luar Belanda
  5. Memungut pajak

Perlawanan Terhadap VOC

1. Kesultanan Gowa

Kesultanan Gowa menguasai Pelabuhan Somba Opu yang merupakan bandar utama menuju ke Nusantara Timur, sehingga VOC sangat menginginkan kekuasaan atasnya. Gowa menolak cara dagang VOC yang menghendaki monopoli, namun VOC gagal untuk memblokade Gowa untuk memaksanya.

Alhasil perang tidak dapat dielakkan, Gowa di bawah Sultan Hasanuddin berupaya untuk mengalahkan VOC di bawah Kapten Speelman yang dibantu oleh Arung Palaka dari Bone. Hasanuddin berhasil dikalahkan dan dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tahun 1667, Gowa menyerah sepenuhnya kepada VOC.

2. Kesultanan Mataram

Kesultanan Mataram yang mencapai kebesarannya pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646) merasa bahwa VOC merupakan saingan utama dalam menguasai Jawa. Terlebih saat VOC berhasil merebut Jayakarta, Sultan Agung menggempur Batavia pada 1627 dan 1629 namun gagal.

Di sisi lain, VOC harus menjalin hubungan dengan Mataram sebagai bentuk kebutuhannya memenuhi komoditas makanan pokok serta kayu untuk kapal. Keadaan memihak VOC ketika Sultan Agunkg digantikan oleh Amangkurat I yang membuka hubungan baik dengan VOC.

Ketika Amangkurat II berkuasa (1677-1703), terjadi dua kekacauan luar biasa di Mataram. Pertama adalah pemberontakan Surabaya dan Madura yang dipimpin oleh Trunojoyo, dan kedua adalah Untung Surapati yang mengacaukan keamanan dan membuat kekuasaannya di Pasuruan.

Amangkurat meminta bantuan terus-menerus kepada VOC yang berakibat semakin banyaknya konsesi ekonomi yang diberikan. Mataram terus melemah sampai akhirnya terbelah dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755 menjadi Kesultanan Yogyaarta dan Kasunanan Surakarta

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved