Menuju Indonesia Emas 2045, Pemuda Diminta Aktif Bangun Ketahanan Pangan

Menuju Indonesia Emas 2045, Pemuda Diminta Aktif Bangun Ketahanan Pangan

|
Editor: Aisyah Sumardi
TRIBUN MEDAN
Menuju Indonesia Emas 2045, Pemuda Diminta Aktif Bangun Ketahanan Pangan 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pada Seminar Ketahanan Pangan di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Senin (24/11/2025), perwakilan Yayasan Bina Keterampilan Pedesaan Indonesia sekaligus pemateri, Gregorius Saragih, S.Agr., memaparkan sejarah berdirinya yayasan yang telah berkiprah sejak 1986.

 

Yayasan tersebut dibangun oleh sejumlah tokoh mahasiswa Fakultas Pertanian USU pada masanya. Salah satu alumnus yang turut membangun pondasi Kelompok Masyarakat Bina Keterampilan Pedesaan Indonesia adalah Ir. Soekirman, mantan Bupati Serdang Bedagai selama dua periode.

Fokus pendampingan yayasan tersebut mencakup berbagai bidang, antara lain pengadvokasian masyarakat, khususnya terkait isu lingkungan dan perubahan iklim.

 

Berbicara mengenai ketahanan pangan, Gregorius menjelaskan bahwa konsep tersebut berkaitan dengan kecukupan pangan, yakni kemampuan suatu daerah atau negara untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya secara konsisten tanpa kekurangan.

Ia juga menyinggung peran generasi muda, yang ia definisikan sebagai kelompok usia 13 hingga 30 tahun dan dipandang sebagai agent of change. Saat ini, hanya sekitar 21 persen anak muda Indonesia yang berprofesi sebagai petani, dan sebagian besar generasi muda masih merasa gengsi sehingga terjadi krisis petani muda.

 

Menurutnya, inovasi dan penguasaan teknologi di era digital sangat memengaruhi terwujudnya ketahanan pangan suatu daerah.

“Acara seminar hari ini merupakan salah satu bentuk inovasi yang dibawa oleh generasi muda. Inovasi ini berjalan beriringan dengan teknologi yang bertransformasi secara digital untuk memasarkan produk pertanian serta menyampaikan pengelolaan pertanian sehingga informasi dapat tersebar dengan cepat,” paparnya.

 

Dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, seluruh aspek kehidupan harus dipersiapkan dengan baik. Jika ketahanan pangannya tidak kuat, maka bukan Indonesia Emas yang akan kita dapatkan, melainkan kecemasan.

 

Menurut Nara Asnanda, perwakilan Pemuda Inspirasi Nusantara yang memberikan kata sambutan sebelum seminar dimulai, pangan merupakan sesuatu yang sakral dan membutuhkan perhatian serius demi keberlangsungan hidup. “Karena bangsa yang besar, pangannya harus kuat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa memaksimalkan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui kolaborasi antardaerah. Sebagai contoh, sekitar 97 persen kebutuhan pangan Jakarta harus dipasok dari luar daerah. Jakarta tidak mungkin memenuhi pangannya sendiri dan harus berkolaborasi dengan wilayah sekitarnya yang memiliki ketahanan pangan kuat, seperti Bali dan Jawa Timur.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved