Materi Belajar Sekolah

Materi Belajar Sejarah: Penyebab Perang Padri di Tiga Periode & Runtuhnya Benteng Bonjol

Perang Padri adalah salah satu perlawanan rakyat pada masa kolonialisme Belanda di Indonesia pada abad ke-19.

Ist
Tuanku Imam Bonjol dalam Perang Padri 

Tanggal 10 Februari 1821, Residen Du Puy dan Tuanku Saruaso meminta bantuan kepada Belanda dengan ganti konsesi beberapa wilayah di Minangkabau.

Letnan Kolonel Raaf datang pada Maret 1822 dan sukses menduduki Batusangkar dan Luhak Ahgam. Namun serangan terus-menerus dari Tuanku Nan Renceh membuat Belanda harus kembali ke Batusangkar.

Benteng Van der Capellen didirikan sebagai posisi baru Belanda di Pagaruyung, namun kematian mendadak Raaf pada April 1824 membuat gerakan Belanda terhambat.

Sementara itu pada September 1824, Mayor Laemlin menguasai beberapa wilayah di Luhak Agam. Laemlin yang kemudian gugur pada bulan desember sehingga pergerakan Belanda kembali terhenti.

2. Periode Kedua (1825-1830)

Meletusnya Perang Jawa pada tahun 1825 membuat Belanda harus memikirkan ulang berlarut-larutnya perang Padri. Kolonel Stuers berhasil membuat kontak dengan kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Keramat.

Perjanjian dilakukan di Ujung Karang dan ditandatangani di Padang pada 15 November 1825. Menyatakan bahwa Belanda mengakui kedudukan para Tuanku di beberapa wilayah dan meminta untuk menghormati kepentingan satu sama lain di wilayah tersebut.

Perjanjian ini memberikan kelegaan terhadap Belanda untuk dapat membawa sebagian besar pasukannya ke Jawa. Di sisi lain, Kaum Padri memanfaatkan ini untuk mengonsolidasikan kekuatan dan memperbesar pengaruh ke berbagai wilayah. Menjelang tahun 1830, ketegangan kembali memuncak.

3. Periode Ketiga (1830-1838)

Pada periode ketiga, Belanda kini dapat memusatkan seluruh kekuatannya untuk menaklukkan Minangkabau. Belanda berhasil menduduki Pandai Sikek dan Lintau yang merupakan posisi kuat Padri.

Belanda kemudian mendirikan Fort de Kock di Bukittinggi. Tuanku Lintau dan Tuanku Rao menjadi tokoh Harimau Salapan selanjutnya yang dikalahkan Belanda pada Januari 1833.

Pada bulan yang sama, garnisun Belanda diserang dan menewaskan 139 serdadu. Hal ini menandai kompromi antara kaum adat dan kaum Padri, sehingga Belanda kemudian menangkap Raja Pagaruyung Sultan Tangkal Alam Bagagar.

Menghadapi seluruh masyarakat Minangkabau, Belanda melunakkan sedikit konfrontasinya dengan mengeluarkan Plakat Panjang. Pernyataan bahwa Belanda datang hanya untuk berdagang.

Baca juga: Materi Belajar Ekonomi: Pengertian Wirausaha dan sebagai Pendorong Perekonomian

Baca juga: Materi Belajar Sekolah: Penyebab Air dan Minyak Tidak Bisa Menyatu

Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens mengirim Mayor Jenderal Cochius pada 1837 untuk menggempur Bonjol.

Bonjol belum berhasil ditaklukkan sejak awal tahun 1833. Belanda mengepung benteng Bonjol selama enam bulan sejak Maret sampai Agustus 1837. Pada bulan Agustus benteng berhasil dijatuhkan dan Imam Bonjol melarikan diri.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved