Ibu Ini Paksa Putrinya Lakukan Lompat Tali 3.000 Kali Sehari Karena Alasan Ini, Berujung Tragis

Ia mengalami masalah tersebut disebabkan dipaksaa ibunya untuk lompat tali sebanyak 3.000 kali sehari sebagai cara yang aneh untuk tumbuh lebih tinggi

Penulis: Liska Rahayu | Editor: Liska Rahayu
Unsplash
Ibu Ini Paksa Putrinya Lakukan Lompat Tali 3.000 Kali Sehari Karena Alasan Ini, Berujung Tragis. 

Karena ibu Yuanyuan merasa waktunya hampir habis dan dia tidak dapat melihat hasil apa pun dalam hal penambahan tinggi badan, sejak awal liburan musim panas, ibunya meningkatkan rutinitas lompat tali harian gadis itu dari 1.000 menjadi 3.000.

Baca juga: Curiga Putrinya Bersikap Aneh di Rumah, Ibu Ini Kaget Temukan Tato Aneh di Lengannya Hingga Histeris

Baca juga: Ibu Ini Tak Marah Pergoki Menantu Selingkuh dengan Suami Orang, Cara Balasnya Bikin Takjub

Anak berusia 13 tahun itu diharuskan melakukan 1.000 lompatan di pagi hari, 1.000 lompatan lagi di siang hari, dan 1.000 lompatan di malam hari.

Setelah tiga bulan, lompatan berlebihan mulai membebani lututnya.

Ibunya awalnya mengira dia hanya malas, tetapi akhirnya membawanya ke ahli ortopedi.

Sayangnya, kisah Yuanyuan tidak pernah terdengar.

Faktanya, Departemen Traumatologi di Rumah Sakit Ortopedi Pengobatan Tradisional Tiongkok Hangzhou Fuyang baru-baru ini melaporkan kasus serupa.

Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dirawat dengan nyeri tumit akut setelah dipaksa oleh orang tuanya untuk lompat tali 2.000 hingga 3.000 kali sehari selama tiga bulan terakhir.

Orang tuanya masing-masing setinggi 1,5 meter dan 1,6 meter, dan mereka takut dia tidak akan tumbuh cukup tinggi tanpa bantuan.

Seorang gadis 13 tahun didiagnosis dengan penyakit sendi serius. Ia mengalami masalah tersebut disebabkan dipaksaa ibunya untuk lompat tali sebanyak 3.000 kali sehari sebagai cara yang aneh untuk tumbuh lebih tinggi.
Seorang gadis 13 tahun didiagnosis dengan penyakit sendi serius. Ia mengalami masalah tersebut disebabkan dipaksaa ibunya untuk lompat tali sebanyak 3.000 kali sehari sebagai cara yang aneh untuk tumbuh lebih tinggi. (Oddity Central)

Sama seperti dalam kasus Yuanyuan, anak laki-laki itu mulai mengeluh kesakitan dan mencengkeram kakinya saat lompat tali.

Namun ibunya hanya membawanya ke dokter setelah beberapa hari.

Dia curiga bahwa anaknya hanya berpura-pura sakit untuk menghindari latihan.

Pada akhirnya, dokter mendiagnosis bocah itu dengan calcaneal apophysitis.

Baca juga: Teriak Ajari Anaknya, Rahang Pria Ini tak Bisa Menutup, si Istri Beber Penderitaan Suaminya

Baca juga: 600 Orang Napi Lapas Tanjung Gusta Belum Divaksinasi karena Terkendala Administrasi Kependudukan

Dokter memperingatkan orangtua bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti olahraga, tidur, nutrisi, suasana hati, genetika, dan lain-lain.

Olahraga saja tidak dapat menentukan.

(yui/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved