Terkenang Nasib Miris Istri DN Aidit & Bupati Tokoh PKI, Sempat Sukses Menyamaran ke Jakarta
Terkenang nasib miris istri DN Aidit dan Bupati tokoh PKI. Keduanya sempat sukses dalam penyamarannya ke Jakarta.
Tiga hari setelah G30S/PKI meletus, Soetanti sadar jika dirinya kemungkinan besar tak akan ketemu suaminya lagi.
Ia kemudian langsung meninggalkan rumah bersama tiga anaknya.
Soetanti pergi ke Boyolali menyusul DN Aidit dan bertemu dengan Bupati Boyolali yang saat itu merupakan tokoh PKI.
Namun, entah ia ketemu dengan DN Aidit atau tidak.
Lalu, Soetanti dan Bupati Boyolali berangkat ke Jakarta dengan cara menyamar sebagai suami istri.
Mereka juga membawa dua orang anak untuk menyempurnakan penyamarannya.
Awalnya, sandiwara mereka sukses tapi kemudian tetangga mulai curiga karena sikap anak mereka yang tak pernah manja ke orangtuanya.
Bahkan aparat awalnya juga tertipu dengan penyamaran keduanya.
Setelah diketahui jika Soetanti ialah istri DN Aidit, ia langsung diringkus oleh aparat keamanan Indonesia.
Semasa penahanan, Soetanti mengalami perpindahan penjara dari satu penjara ke penjara lainnya sampai tahun 1980, diantaranya tahanan Kodim 66 dan Penjara Bukit Duri.
Lepas dari masa hukuman, Tanti sempat membuka praktek sebagai dokter.
Meski demikian, ia mengalami sakit-sakitan dan meninggal dunia tahun 1991.
Nasib tak kalah miris juga dialami oleh Sumini, mantan ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) ranting Pati, Jawa Tengah.
Sumini pernah memberikan pengakuan atas segala siksaan yang ia terima.
Gerwani merupakan organisasi yang dianggap sebagai sayap PKI, sehingga Sumini pun harus terjaring oleh aparat pada saat pembersihan PKI kala itu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/dn-aidit-bersama-istri-dan-anggota-keluarga.jpg)