China Lakukan Provokatif, Sebut AS Tak Sekuat yang Dibayangkan Orang, Bakal Pecah Perang Dunia Ke-3

Media pemerintah China mencap perang Afghanistan sebagai "pelajaran menyakitkan" bagi AS dan Sekutunya.

Editor: AbdiTumanggor
ISTIMEWA
MILITER AUSTRALIA SIAP SIAGA: Ketegangan antara Australia - Taiwan - Filipina dengan China semakin meningkat belakangan ini. Dengan situasi tersebut, Amerika Serikat (AS) dan Inggris berencana untuk mengirimkan lebih banyak persenjataannya ke Australia. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Setelah Amerika dan sekutunya mengakhiri pendudukan 20 tahun Afghanistan yang diklaim Taliban sebagai kemerdekaan penuh, 31 Agustus 2021, China langsung melancarkan aksi provokatif.

Media pemerintah China mencap perang Afghanistan sebagai "pelajaran menyakitkan" bagi AS dan Sekutunya.

Editor tabloid Partai Komunis China (PKC) Global Times, Hu Xijin, mengatakan perang di Afghanistan harus diingat sebagai pelajaran menyakitkan dalam sejarah AS.

"AS tidak sekuat yang dipikirkan orang Amerika sendiri," tulisnya dalam postingan terpisah di Twitter dan Weibo.

"Mereka tidak dapat mengubah dunia; mereka harus belajar untuk rendah hati dan melepaskan gagasan gila tentang Amerika sebagai 'suar demokrasi'," lanjutnya, Selasa (31/8/2021).

Sementara itu pada pertemuan Dewan Keamanan PBB, perwakilan China Geng Shuang mengatakan, tindakan pasukan asing di Afghanistan selama 20 tahun terakhir, termasuk pertanggungjawaban pidana atas pembunuhan sembarangan warga Afghanistan oleh pasukan AS dan Sekutunya, tidak dapat dihapuskan dan harus diselidiki.

Kini, setelah berakhirnya pendudukan di Afghanistan, AS dan sekutunya mulai meningkatkan pertahanan di kawasan Lait China Selatan.

Bahkan beberapa pakar mengungkapkan Sebelum bahwa perang dunia tiga bakal pecah bermula dari kawasan dekat dengan wilayah China dan Taiwan tersebut.

Hal itu ternyata bukan isapan jempol belaka terbukti dari beberapa negara di sekitar China yang mulai meningkatkan pertahanan mereka.

Salah satunya adalah Jepang yang kini makin sering bersitegang dengan China di perbatasan kedua negara.

Sebagai perbandingan, anggaran pertahanan Jepang untuk tahun fiskal 2021 adalah 5,3 triliun yen.

Nilai ini menandai kenaikan anggaran selama 10 tahun berturut-turut.

Jumlah itu belum termasuk pengeluaran yang terkait dengan menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, yang mencapai 200 miliar yen per tahun.

Peningkatan anggaran pertahanan Jepang ini jelas bertujuan untuk mempercepat peningkatan kemampuan dalam domain baru, dan mempromosikan pengembangan teknologi baru untuk menghadapi kehadiran militer China yang semakin meningkat.

Dilansir dari Kyodo, permintaan anggaran untuk tahun 2022 tersebut telah diajukan oleh Kementerian Pertahanan Jepang pada hari Selasa (31/8/2021), sebelum nantinya harus dibahas terlebih dahulu oleh parlemen.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved