Pengamat Nilai Harga Saham Bukalapak Melejit karena Banyak Investor Mau Cepat Untung

Saham perusahaan ini masuk ke dalam emiten berisiko tinggi bagi investor fundamental.

TRIBUN MEDAN/Ist
FOTO ILUSTRASI: Bukalapak 

TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA - Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira melihat ada euforia berlebihan dengan melejitnya saham Bukalapak.

Padahal saham perusahaan ini masuk ke dalam emiten berisiko tinggi bagi investor fundamental.

"Ada euforia yang berlebihan karena investor retail melihat Bukalapak salah satu unicorn yang valuasinya besar meskipun secara profit belum menghasilkan," ujar Bhima kepada Tribunnews, Jumat (6/8/2021).

Menurut Bhima, Investor tidak berharap pada dividen tapi pada kecepatan pertumbuhan harga saham.

Di sisi lain kelas menengah ke atas sedang mencari aset yang keuntungan jangka pendeknya tinggi di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 di mana sektor usaha banyak yang terpukul.

"Jadi ini fenomena psikologis pasar yang tertarik ke aset dengan pertumbuhan tinggi, spekulatif di saat ekonomi tertekan," tuturnya.

Bhima mencontohkan fenomena serupa pernah terjadi pada 1998 ketika krisis Asia.

Saat itu, ucap Bhima, startup yang melantai di bursa saham dan akhirnya meledak menjadi dotcom bubble (gelembung internet).

"Masalah investasi di saham yang spekulatif adalah myopic syndrome yakni investor hanya melihat sentimen jangka pendek, mau cepat cari untung tapi tidak melakukan analisis lebih mendalam," ucap Bhima.

Padahal, menurut Bhima, seharusnya investor retail melihat historis, sehingga euforia nya tidak berlebihan, tetap melihat prospek, kinerja dan tren jangka panjang.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menjadi era baru bagi pasar modal Indonesia.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, pertama kalinya sebuah perusahaan startup teknologi unicorn secara resmi mencatatkan sahamnya di BEI.

"Selain itu, dengan jumlah dana yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 21,9 triliun, menjadikan IPO Bukalapak sebagai yang terbesar dalam sejarah bursa saham di Indonesia," ujarnya dalam keterangan pers, Jumat (6/8/2021).

Inarno berharap langkah BUKA ini akan diikuti oleh perusahaan-perusahaan teknologi lain guna semakin meningkatkan kapitalisasi pasar modal tanah air.

“Kami menyambut Bukalapak ke dalam daftar ternama perusahaan publik di BEI. Momen ini merupakan sebuah tonggak sejarah dan era baru bagi BEI," katanya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved