TERUNGKAP Penyebab Kematian Salamat Sianipar, Korban Pengeroyokan Warga Karena Terpapar Covid-19
Kematian ini bukan semata-mata Covid. Informasi yang dibocorkan sepupu salamat bernama Tetty Sianipar, ada penggumpalan darah.
Penulis: Arjuna Bakkara |
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Jenajah Salamat Sianipar tengah dipersiapkan di Ruang Jenazah RS Haji Adam Malik, Medan, untuk dibawa pulang ke Desa Pardomuan, Silaen Kabupaten Toba, Senin (02/08/2021) Pukul 00.01. Atas kematian Salamat Sianipar pada Minggu 1 Agustus Pukul 16.30 di RS Adam Malik menjadi kejanggalan bagi kerabat keluarga.
Putri sulung kandung Salamat, Anastasya Sianipar dan Risma Lisbet Sitorus istrinya menunggu pemberangkatan jenazah. Informasi yang dihimpun Tribun Medan dari Rosario Dororhy, Humas RS Haji Adam Malil, mengataian jenazah tersebut telah dirawat sejak Kamis 29 Juli 2021 lalu dan mati dengan status pasien Covid-19.
"Di data kami beliau adalah pasien Covid-19. Pemulasaran juga sesuai prokes Covid-19," ujar Rosa.
Bagi kerabat keluarga korban, kematian ini bukan semata-mata Covid. Informasi yang dibocorkan sepupu salamat bernama Tetty Sianipar, ada penggumpalan darah.
"Ada penggumpalan darah ini, dan kematian ini faktor penyebabnya karena penyiksaan kemarin,"ujar Tetty Sianipar.
Bagi Tetty, seandainya memang benar Salamat Sianipar bersalah, untuk mengantisipasi Covid-19, tidaklah juga seharusnya menggunakan tali, bambu dan balok untuk menangkapnya.
Oleh karenanya, Tetty menyesalkan Gugus Tugas Covid-19 yang seharusnya datang dengan Alat Pelindung Diri (APD), bukan dengan kayu dan balok memperlakukan Salamat seperti hewan.
Sebelumnya laporan keluarga juga sudah sampai di Polres Toba atas pengeroyokan yang juga diduga turut dilakukan aparat desa bernama Erik Sianipar.
Dalam laporan tersebut, Lisbet Sitorus, istri Salamat membuat LP/B/270/VII/2021/SPKT/POLRES TOBA/POLDA SUMUT, tertanggal 24 Juli 2021.
Sutrisno Pangaribuan, Koordinator Gotong Royong Nasional Pengendalian COVID-19, menilai, kejadian ini asdalah simbol hilangnya rasa kemanusiaan akibat Pandemi COVID-19.
"Belum lama berselang kita menyaksikan tindakan kekerasan di Toba. Salamat Sianipar mengalami perundungan, persekusi, dihalau dengan menggunakan kayu oleh sekelompok orang," ujar Sutrisno.
Menurut Sutrisno, kematiannya bukan hanya kalah menghadapi COVID-19, sesungguhnya dia kalah akibat ketidakmampuan Pemerintah Kabupaten Toba, menghadapi Pandemi COVID-19.
"Salamat Sianipar selain menghadapi beban sebagai pasien terpapar COVID-19, dia juga "dituduh" mengalami gangguan jiwa, yang diduga sengaja "diciptakan" sebagai upaya membangun persepsi publik bahwa dia harus "diamankan" dengan menggunakan kayu," ujar Sutrisno.
Dari keterangan Direktur RSUD Porsea, Salamat Sianipar telah dirujuk pada Selasa 28 Juli 2021, seminggu setelah mengalami perundungan, persekusi, penganiayaan secara bersama- sama di kampungnya sendiri. Penanganan Salamat Sianipar, sejak mengalami tindakan penganiayaan seharusnya tidak di RSUD Porsea.
Seharusnya, langsung dirujuk ke RSUP H. Adam Malik, sebab dia pasien terpapar COVID-19 "khusus", selain mengalami tekanan akibat COVID-19, dia diduga mengalami trauma akibat perundungan yang dialaminya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pasien-covid-19-di-toba-disiksa.jpg)