Kesehatan

MENGENAL Apa Varian Delta Covid Kenapa Menyerang Semua Kelompok Usia, Dampak Fatal Varian delta

Mutasi virus corona (covid-19) yang memunculkan varian baru Delta kini lebih berbahaya.

Editor: Salomo Tarigan
SCMP
Dampak Fatal Varian delta. FOto Ilustrasi anak mengenakan masker 

TRIBUN-MEDAN.com - Mutasi virus corona (covid-19) yang memunculkan varian baru Delta kini lebih berbahaya.

Penyebab lonjakan kasus covid-19 di Indonesia terdeteksi dari varian baru yakni Delta yang sudah menyebar di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya Jakarta dan wilayah Jawa.

SITUASI Darurat Covid, 20 TKA asal China Berani Masuk ke Indonesia, Ini Jawaban Imigrasi

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan bahwa dalam fenomena lonjakan kasus virus corona (Covid-19), yang harus dicatat adalah varian B.1.617.2 (Delta) 'menyerang semua kelompok usia'.

Varian yang diklaim lebih mudah menular ini, kata dia, bahkan dapat menyebabkan dampak yang fatal bagi kelompok lanjut usia (lansia), serta mereka yang memiliki penyakit penyerta atau kondisi khusus.

"Yang jelas penyakit ini, khususnya Delta variant ini menyerang semua usia, fatal terutama memang di usia lanjut atau yang memiliki komorbid atau kerawanan lainnya. orang yang berisiko ini akan sangat rawan," ujar Dicky, kepada Tribunnews, Minggu (4/7/2021).

Kendati saat ini banyak anak-anak yang turut terinfeksi Covid-19, khususnya di wilayah DKI Jakarta, namun ia menyebut varian ini tidak secara khusus menyerang kelompok usia anak.

Baca juga: SEBELUM Meninggal Jane Shalimar Sempat Kesal Kenapa Dibawa ke RS, di ICU Jane Sempat Sadar

"Jadi tidak khusus menyerang anak ya," kata Dicky.

Ia kemudian memprediksi puncak peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia akan terjadi menjelang akhir Juli 2021.

Terlebih saat ini fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) sudah tidak mampu menampung lonjakan kasus positif.

Baca juga: SOSOK Mantan Suami Jane Shalimar Seorang Pengusaha, Datang ke Pemakaman Jane Sendirian

Sehingga banyak di antara pasien yang memiliki gejala beragam ini terpaksa mengisolasi secara mandiri di rumah.

"Situasi ini masih akan berlanjut sampai mendekati akhir bulan ini sebagai puncaknya. Apalagi kita ini di tengah situasi di mana semakin banyak pasien yang tidak tertangani ya," papar Dicky.

Saat ini, angka laporan kasus memang mengalami peningkatan, kata dia, namun belum terlalu tinggi lantaran testing yang dianggap kurang optimal.

Dicky pun berharap penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga 20 Juli mendatang, dapat memaksimalkan upaya testing ini hingga mencapai angka 500.000.

"Karena memang sudah sangat banyak ini laporan kasus, (tapi) kita belum menunjukkan peningkatan yang berarti karena memang testingnya juga 'segitu', belum meningkat, kita harapkan dari ppkm darurat itu bisa 500.000," jelas Dicky.

Sehingga nantinya bisa menemukan banyak kasus infeksi baru, kemudian segera ditindaklanjuti melalui upaya isolasi, baik mandiri maupun yang difasilitasi oleh pemerintah.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved