Perdagangan Manusia Kian Mengkhawatirkan, Siswa Sekolah Dirangkul Sebagai Penyintas

Human Trafficking masih menjadi masalah serius yang butuh perhatian semua pihak. Karena kasus ini tak jarang melibatkan anak-anak

Tayang:
HO
Foto bersama Ketua JPIC (Justice Peace and Integrity of Creation) dan Pimpinan Umum SFD (Suster Fransiskus Dina) Indonesia dengan 20 siswi Duta Anti Human Trafficking dan pembina Duta Anti Human Trafficking, di Aula Santa Theresia Jalan Pemuda Nomor 1, Kota Medan, Senin (14/6/2021). (HO) 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN-Kasus perdagangan manusia kian mengkhawatirkan akhir-akhir ini.

Korbannya bukan saja kalangan laki-laki atau perempuan dewasa, tapi tak jarang ada juga anak-anak.

Untuk mengantisipasi agar tindakan ini tidak terus terjadi di tengah masyarakat, JPIC (Justice Peace and Integrity of Creation) dan SFD (Suster Fransiskus Dina) Indonesia menunjuk SMA Santa Maria Kota Medan menjadi sekolah Duta Anti Human Trafficking

Dalam kesempatan ini, siswa sekolah dirangkul menjadi penyintas. 

Baca juga: TNI Temukan Mayat ABK Indonesia di Freezer Kapal China, 22 WNI Jadi Korban Human Trafficking

Pembina Duta Anti Human Trafficking Mardimpu Sihombing mengatakan, dia prihatin melihat masih banyaknya korban perdagangan manusia.

Sebagai laki-laki, dia ingin mengubah mindset kaum pria untuk menjadi pelindung. 

"Saya laki-laki satu-satunya yang terjun melibatkan diri di anti trafficking. Karena saya ingin mengingatkan bahwa laki-laki harus memiliki mindset penjaga dan pelindung bagi wanita," kata Mardimpu, Selasa (15/6/2021). 

Dia mengatakan, hal-hal yang menjadi penyebab perdagangan manusiamuncul akibat sejumlah faktor, baik itu ekonomi, pendidikan dan niat untuk mengubah hidup dengan cepat. 

Sehingga dari hal itu dapat dengan mudah menerima penawaran yang membawa penyesalan.

Baca juga: Delia Pratiwi Sitepu Edukasi Pekerja Migran, Antisipasi Human Trafficking dan Perbudakan

Maka satu upaya yang dilakukan oleh Duta Anti Trafficking yaitu mengedukasi ke pedalaman untuk mengubah mindset. 

Saat ini, kata Mardimpu, pimpinan dengan para suster mengenalkan mengenai bagaimana bahayanya human trafficking kepada kaum muda dan anak.

Kegelisahan SFD (Suster Fransiskus Dina) untuk membangun wadah rehabilitas untuk para korban human trafficking. 

Maka SFD yang menjadi satu diantara agen transformasi itu. 

"Saya salut kepada para suster SFD yang jauh berpikir dan menjangkau kesana, kita kaum awam perlihatkan bahwa kita lebih peduli. Karena mereka generasi tunas bangsa, kita mau Indonesia maju melalui adanya program-program yang dijalankan kedepannya, " tuturnya. 

Baca juga: Pilu Jelang Ramadhan, Jenazah TKI Asal Medan Tertahan di RS Melaka, Keluarga Terkendala Biaya

Maka dalam bentuk perhatian da segala bentuk kepedulian dapat membuat para korban bisa kembali pulih. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved