TERKAIT Pertemuan Luhut dan Erick Thohir dengan China, Ini Sejumlah Kesepakatan yang Akan Dilakukan

Pemerintah Indonesia baru saja lakukan pertemuan dengan pemerintah China pada Sabtu 5/6/2021 kemarin.

Editor: AbdiTumanggor
ist
Menko Maritim dan Investasi Luhut Pandjaitan bersama Menlu China Wang Yi di Parapat, Sumut, Selasa (12/1/2021) lalu. 

"Pada era pandemi yang mana seluruh negara terdampak, maka kerja sama menjadi jawaban untuk bisa bersama mengatasi krtisis. Apalagi kerja sama antara dua negara besar dunia, yakni Indonesia dan Cina. Ini menjadi komitmen dan usaha bersama untuk berkontribusi memberi perbaikan di segala sektor pasca-pandemi," ungkapnya.

Soal Nikel 

Dalam pemberitaan sebelumnya, Luhut Panjaitan berbicara soal cengkeraman China pada industri nikel Indonesia.

Ya, Indonesia memiliki berbagai elemen mineral yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu produsen baterai lithium dan mobil listrik terkemuka di dunia.

“Kami mengundang semua orang dan tidak ada yang datang, kecuali orang China,” kata Luhut dalam sebuah wawancara.

“Jadi mereka disambut dan mudah ditangani.”

Ini bukan pertama kalinya Luhut membela peran China yang semakin meningkat dalam perekonomian Indonesia.

"Suka atau tidak, senang atau tidak senang, apa pun yang dikatakan, China adalah kekuatan dunia yang tidak bisa diabaikan," katanya pada kuliah umum virtual tahun lalu.

“Anda tidak bisa menghindari fakta di lapangan.”

Melansir Asia Times, pada Kamis (4/2/2021), kepentingan Eropa sering tetap terfokus hanya pada satu tingkat proses manufaktur. Sementara pengisian daya keras China sedang mengembangkan rantai pasokan yang terintegrasi penuh, dari baja tahan karat dan baterai lithium hingga bahkan kawat tembaga dan produk jadi lainnya.

Seperti yang dikatakan Luhut: “Sepanjang jalan.”

“Indonesia akan naik dari produsen dan pengekspor bahan mentah menjadi pemain penting dalam rantai pasokan dunia, di mana baterai lithium mencapai 40% dari total biaya mobil listrik,” kata Bahlil Lahadalia, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

“Tak seorang pun kecuali China yang bersedia mengambil risiko memasukkan uang ke Indonesia,” kata seorang ahli pertambangan asing yang telah mengunjungi Taman Industri Morawali di Sulawesi Tengah.

Taman Industri Morawali adalah lokasi salah satu dari dua kompleks pengolahan nikel milik Tsingshan's Steel di Indonesia timur.

Sebagai gambaran, dia mengingat seorang insinyur China yang memberitahunya selama tur di pabrik: “Kami melihat angkanya dan mencari tahu apakah kami akan berada di 25% terendah dalam hal biaya produksi. Setelah kami menentukannya, kami tahu kami tidak akan pernah bisa gulung tikar. "

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved