Breaking News

1.000 UMKM Siap Ekspor Tahun Depan, Disperindag Sumut Bentuk Export Centre

Ini kita akan menaik kelaskan UKM dengan ekspor oriented agar kita ada 1.000 ekspor terbaru dalam jangka dua tahun di tahun 2022.

Editor: Eti Wahyuni
KOMPAS.com/NAZAR NURDIN
Buah Durian, merupakan salah satu komoditas yang memiliki potensi eskpor. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut kian menggenjot produk-produk lokal untuk dapat menembus pasar ekspor.

Hingga saat ini, turunan dari Cruel Palm Oil (CPO) dan turunannya menjadi primadona ekspor ke berbagai negara. Tak hanya itu, Andaliman juga kini begitu diminati oleh Negara Jepang.

Dilatarbelakangi dari hal tersebut, Kadisperindag Sumut, Riadil Akhir Lubis mengungkapkan bahwa saat ini Disperindag Sumut sedang mempersiapkan untuk pembentukan Export Centre.

"Sebelumnya ada namanya Free Trade Agreement (FTA). Tapi fungsinya kita ubah jadi namanya Export Center. Salah satu bentuknya membuat sekolah ekspor. Kita sedang siapkan kurikulumnya dan bekerja sama dengan gabungan Asosiasi Ekspor Indonesia," ungkap Riadil, Senin (17/5/2021).

Dikatakan Riadil, hadirnya Export Centre ini menargetkan 1.000 UMKM naik kelas berstandar ekspor di tahun 2022.

"Kita mencontoh yang di Jawa Timur dan di Bali. Ini kita akan menaik kelaskan UKM dengan ekspor oriented agar kita ada 1.000 ekspor terbaru dalam jangka dua tahun di tahun 2022," ujarnya.

Ada pun untuk sistematika Clinic Export di Export Centre ini, Disperindag akan membentuk kelas selama satu hingga dua minggu yang dapat diikuti dari berbagai kalangan seperti karyawan BUMN, ASN, mau pun pengusaha UMKM.

"Ini udah banyak yang kita bina untuk bisa mengekspor, ada start up. Kami siap bahkan untuk membuat label, kemasan, size, dan semua itu free," tuturnya.

Riadil mengatakan bahwa saat ini pembangunan Export Centre sedang dalam tahap pembangunan final.

"Bangunan sudah ada, tinggal aksesori dan penyiapan kurikulum. Karena fungsi ini udah dari FTA kemarin," sebut Riadil.

Untuk Clinic Export ini diprioritaskan untuk usaha pangan misalnya keripik ubi, kopi, teh, lidi yang menjadi tugas dari Clinic Export.

Riadil juga menjelaskan bahwa Clinic Export ini akan menjembatani antara buyer dan seller. Disperindag juga menargetkan pasar-pasar Asia untuk pemasaran produk.

"Kita sekarang masih memprioritaskan ekspor Asia. Kemarin juga sudah diundang Kemenlu supaya mengembangkan pasar non-tradisional ke Afrika. Ini memang strategi nasional, namanya nanti pasar utama non tradisional Afrika," pungkas Riadil.

Hanya 5 Persen yang Punya Izin

Perencanaan Klinik Ekspor dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut mendapat sambutan baik dari Asosiasi UMKM Sumut.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved