Bobby dan Edy Berseteru, RE Nainggolan: Rakyat yang Dirugikan Jika Terus Berlanjut
Tokok masyarakat RE Nainggolan buka suara soal perseteruan Gubernur Edy Rahmayadi dan Wali Kota Medan Bobby Nasution
Penulis: Hendrik Naipospos | Editor: Hendrik Naipospos
TRIBUN-MEDAN.COM - Perseteruan Gubernur Edy Rahmayadi dan Wali Kota Medan Bobby Nasution terus bergulir.
Selisih paham dimulai saat Bobby mempertanyakan lokasi karantina Covid-19 di Medan, namun pertanyaan itu malah membuat Edy jengkel.
Mantan Pangkostrad itu heran kenapa Bobby tidak tahu lokasi karantina.
Bahkan Edy mengucapkan, "kalau tidak tahu, tanya Tuhan yang maha-tahu."
“Kalau kurang dilibatkan, melibatkan diri, jangan merasa ini semua kurang," ucap Edy lagi.
Menanggapi hal ini, Bobby mengatakan informasi yang ia butuhkan adalah untuk masyarakat Kota Medan.
“Tugas kami Pemko Medan adalah untuk menginformasikan kepada masyarakat, utamanya kondisi perkembangan penanganan Covid-19," ujar Bobby Nasution kepada wartawan, Kamis (6/5/2021).
Ia menekankan, dirinya membutuhkan kejelasan mengenai karantina di hotel-hotel yang ada di Kota Medan.
"Kami ingin kejelasan, alangkah baiknya jika ada kejelasan, karantina di hotel yang ada di Kota Medan itu teknisnya bagaimana,” katanya.
Video pernyataan Bobby:
Baca juga: Disuruh Tanya Tuhan Oleh Gubernur Edy Rahmayadi, Ini Tanggapan Bobby Nasution
Perseteruan dua kepala daerah ini menjadi sorotan publik, termasuk tokoh masyarakat RE Nainggolan.
RE Nainggolan mengibaratkannya seperti perselisihan bapak dan anak, sehingga hal yang lumrah terjadi.
“Tiap kepala daerah kan punya kewenangan dan tanggung jawab masing-masing, dan di titik tertentu butuh koordinas ketika garis kewenangan itu saling bersentuhan, beririsan,” katanya.
Dia mengakui, di era media sosial dan kebebasan berekspresi, segala seuatunya memang mudah sekali menjadi keriuhan dan kegaduhan.
Dalam kaitan itu, Sekdaprovsu 2008-2010 ini mengimbau semua tokoh Sumut di berbagai bidang untuk tidak ikut memanas-manasi situasi, dengan memberi komentar memojokkan satu pihak dan seolah membenarkan pihak lain.
“Masing-masing benar, dengan concern dan kepentingan masing-masing. Sudah ada jalur koordinasinya. Mengapa jadi konsumsi publik, ya, karena kita berada di era keterbukaan. Kadang-kadang di sebuah rapat ada yang merekam dan mengunggah apa yang terjadi. Kemudian tersebar dan viral padahal sesungguhnya itu untuk konsumsi internal. Kadang ada juga wartawan yang bertanya secara doorstop, dijawab, kemudian berkembang liar menjadi sesuatu yang panas dari komentar berbagai pihak,” paparnya.
Segala keriuhan, apalagi sampai berbalas tuduhan di antara para pemimpin dan tokoh masyarakat, hanya akan menjauhkan kita dari tujuan-tujuan awal kita yang baik.
Bila Bapak dan Anak ini malah terjebak makin jauh ke dalam polemik, yang rugi seluruh warga Medan dan Sumatera Utara pada umumnya.
“Kita yakin, kedua belah pihak bisa mengatasinya. Mereka figur berkualitas yang sama-sama memperoleh kepercayaan rakyat,” pungkasnya.
(hen/tribun-medan.com)