News Video
Gaji dan THR Tak Kunjung Cair Puluhan Pekerja Biskuit Lakukan Aksi di Depan Kantor Wali Kota Medan
Amatan tribun-medan.com di lokasi, sekitar 10 orang karyawan melakukan aksi dengan membawa poster sebesar 3 x 1 meter dengan bertuliskan sebanyak lima
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Puluhan karyawan perusahaan biskuit yang tergabung dalam Persatuan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) melakukan unjuk rasa di depan kantor Wali Kota Medan, Jalan Kapten Maulana Lubis, Selasa (4/5/2021).
Aksi ini dilakukan lantaran karyawan belum menerima gaji dan THR dari tahun 2020 dan 2021.
"Kami di sini melakukan aksi untuk meminta kepedulian dari Wali Kota Medan terhadap nasib kami yang tidak diperlakukan secara baik oleh manajemen," ujar Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) PPMI Kota Medan, Awaluddin Pane, Selasa (4/5/2021).
Dikatakan Awaluddin aksi ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut sejak Senin 3 sampai Rabu 5 Mei 2021.
"Untuk hari ini kami menggelar aksi bisu dikarenakan semalam sudah dilakukan orasi. Hari ini kami tidak lagi orasi, hanya aksi bisu," katanya.
Amatan tribun-medan.com di lokasi, sekitar 10 orang karyawan melakukan aksi dengan membawa poster sebesar 3 x 1 meter dengan bertuliskan sebanyak lima tuntutan.
Awaluddin mengatakan, permasalahan manajemen dengan karyawan sudah berlarut-larut. Beberapa di antaranya pembayaran gaji yang tertunda dan THR Agama Kristen pada tahun 2020 belum dibayarkan.
"Gaji dari tahun 2020 belum dibayarkan, THR Agama Nasrani dari tahun lalu juga belum dan perlakuan yang tidak manusiawi," katanya.
Awaluddin mengatakan, pihaknya berharap Pemerintah Kota Medan dapat lebih memperhatikan nasib karyawan yang bekerja di perusahaan biskuit ini.
"Ya harapannya kami lebih diperhatikan, bagaimana nasib kami, tidak menerima gaji dan dipersulit dalam bekerja," tuturnya.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada perwakilan dari Pemko Medan yang menemui massa aksi.
Seorang karyawan yang juga mengikuti aksi, Fawita mengatakan manajemen perusahaan juga memperlakukan karyawan dengan tidak wajar. Seperti karyawan wanita yang disuruh mengerjakan pekerjaan laki-laki.
"Pekerjaan kami semakin berat dibuat, seperti pekerjaan laki-laki kami juga mengerjakan. Padahal itu tidak layak karena alatnya sangat berat," katanya.
Fawati mengatakan selama berbulan-bulan pihaknya dipekerjakan dengan dilakukan intimidasi.
"Kami ditempatkan dengan sesuka hati, di gudang yang jauh dari tempat produksi. Harus bekerja menyusun kaleng roti dengan tidak ada penerangan dan tidak ada orang satupun. Kadang juga disuruh membersihkan lantai dengan mesin yang berat," tuturnya.