Jalani Puasa di Korsel, Malikah Obati Rindu Kampung Halaman dengan Berbuka Bareng Teman Indonesia
Ia berharap di masa pandemi di bulan Ramadhan kali ini bisa dijalani dengan lancar dan sehat hingga lebaran Idul Fitri mendatang.
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Menjalani Ramadhan jauh dari rumah bukan kali pertama bagi perempuan dengan nama lengkap Malikah Najibah (23) yang sudah tinggal di Korea Selatan sejak 2019 lalu.
Mahasiswa Korea Institute of Science and Technology (KIST) ini mengaku menjalani puasa di Korea Selatan menjadi tantangan tersendiri baginya.
"Di tahun ini kita masuk musim semi, kalau tahun lalu musim dingin. Temperaturnya kalau sekarang sekitar 13 derajat celcius, masih dingin banget. Tapi puasanya gak selama tahun lalu sih," ujar Malikah saat berbincang dengan tribun-medan.com, Minggu (18/4/2021).
Malikah mengatakan, puasa terberat yang ia jalani di Korea Selatan adalah pada tahun 2019 di mana ia baru pertama kali merasakan puasa di negeri yang masyarakat muslimnya minoritas.
"Jujur di 2019 itu puasa terberat bagi saya, pertama kali saya ke Korea Selatan itu tahun 2019 dan bertepatan dengan Bulan Ramadhan. Di mana saya harus beradaptasi. Waktu berbuka jam 9 malam dan waktu sahur jam 3 pagi," katanya.
Menurut Malikah, ini adalah tahun ketiganya berpuasa di Korea. Perlahan ia sudah mulai menyesuaikan diri dengan situasi berpuasa dan waktu berpuasa yang sangat berbeda dari Indonesia.
"Alhamdulillah sekarang sudah menyesuaikan, sudah mulai bisa beradaptasi jadi tidak terkejut lagi," tuturnya.
Ia pun mengaku, jika rindu kampung halaman, hal yang paling bisa mengobati rasa rindu Malikah adalah dengan berbuka puasa bersama dengan teman pelajar Indonesia lainnya di Korea Selatan.
"Pasti yang namanya rindu itu ada ya. Saya rutin video call kalau abis buka sama sahur, nanya kabar keluarga di rumah. Tapi tetap yang paling bisa mengobati rindu itu adalah berbuka bareng teman-teman Indonesia di sini," tuturnya.
Alumni jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengaku, situasi Ramadhan di Korea sangat berbeda dari Indonesia. Tidak begitu meriah dan hangat seperti di kampung halamannya.
"Kalau mau ngebandingin dengan negara lain misalnya di Turki itukan banyak yang puasa. Kalau di Korea mereka kebanyakan enggak puasa. Karena kan jumlah penduduk muslim nya itu kecil sekali ya.
Dan kalau kita pakai hijab mereka anggap aneh banget gitu kalau musim panas pakai kerudung," ujar Malikah.
Namun, ia tidak memungkiri bahwa toleransi warga Korea Selatan sangat tinggi terkhusus bagi dirinya yang menjalani puasa di Bulan Ramadhan.
"Nah kalau makan siang gitu kan sering mereka ajakin, terus saya harus beritahu kalau saya sedang menjalankan ramadhan. Dan mereka masih menghormati walaupun mereka enggak puasa. Bahkan banyak yang nyiapin buka puasa, nyisahin makanan buat buka puasa kita gitu," katanya.
Malikah mengatakan, toleransi warga di Seoul Korea Selatan tempat ia berkuliah masih tinggi. Sehingga tidak perlu ada rasa takut bagi pendatang muslim untuk mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/malikah-najibah-mahasiswa-magister-di-korea-institute-of-science-and-technology.jpg)