Kisah Cinta Para Nyai, Syarat Pergundikan Meneer Kompeni, Lahirnya Bisnis Prostitusi di Batavia

Maklum, kisah para nyai pada dasarnya merupakan praktik pergundikan dari para meneer kompeni yang pada akhirnya malah melahirkan bisnis prostitusi di 

Wikimedia Commons
Mariam si Manis Jembatan Ancol dan Nyai Dasima - Kisah Cinta Para Nyai, Syarat Pergundikan Meneer Kompeni, Lahirnya Bisnis Prostitusi di Batavia 

Nyai Dasima versi G Francis melukiskan, selain Edward, semua lakon bertabiat buruk. Kisah dibikin agar pembaca mendapat kesan negatif tentang masyarakat Betawi. Maklum saja, versi ini adalah versi kolonial.

Selain Nyai Dasima, ada nyai lain yang juga bernasib tragis, Mariam. Ia gundik sinyo Belanda, John. Cinta sembunyi-sembunyi antara Mariam dan John akhirnya terputus dengan adanya Husin.

Husin, tukang sado, semula hanya menolong Mariam dengan berpura-pura mengawini Mariam agar hubungan dengan cowok bule tak terendus sang ayah.

Namun, pernikahan itu ternyata malah membakar api cemburu di hati John. Tak tanggung-tanggung, Husin dan Mariam pun ditangkap serdadu kompeni. Mayat Mariam ditemukan di sekitar jembatan Ancol.

Baca juga: Sudah Bangkrut Sebelum Pandemi, Rekan Bisnis Batu Bara Suami Pertama Jennifer Jill Ditangkap KPK

Dipulangkan setelah melahirkan

Kemunculan Nyai dimulai ketika para pegawai VOC tiba di Nusantara sekitar abad 16.

Terbatasnya perempuan Eropa yang ada saat itu membuat para pegawai VOC dan penduduk laki-laki Eropa terpaksa mencari pasangan dari perempuan-perempuan lokal (pribumi) yang tidak hanya mengurus rumah tangga tapi juga tidur dengannya. Mereka itulah yang kemudian dikenal sebagai Nyai.

Meskipun kehidupan para Nyai umumnya mapan dari segi materi, namun dalam status sosial kehadirannya sering dianggap sebagai perempuan murahan, karena tidak bisa mendapatkan status "istri" meski banyak diantara mereka telah memiliki anak dari hasil hubungan dengan majikannya.

Malahan yang sering terjadi adalah, setelah melahirkan, mereka diperintahkan pergi ("dikirim kembali ke kampung") guna memberi tempat pada perempuan Eropa (Reggie Baay; 2010).

Baca juga: Cerita Amanda Manopo, Andin Ikatan Cinta Beruntung Tangannya Ditepis Karena Nyaris Kena Pelet

Jadi pada masa Kolonial, Nyai berarti gundik, selir, atau wanita piaraan para pejabat dan serdadu Belanda. Pergundikan ini tentu saja tidak 'direstui' oleh pemerintah Hindia Belanda, karena itu tidak banyak dokumen yang menceritakan masalah ini.

Meski begitu, pergundikan tetap bertahan kuat selama masa Kolonial. Dari sedikit cerita, ada satu kejadian menarik yang melibatkan seorang Nyai terjadi di Batavia pada tahun 1928.

Kejadian ini diceritakan dalam koran Sin Po, berikut ceritanya; "Peristiwa malang menimpa S, seorang penggawe Gemeente (pegawai Kotamadya), yang telah menikah dengan seorang perempuan Sunda dan bertempat tinggal di gang Penghulu Tanah Abang.

Kejadian mengejutkan terjadi pada beberapa hari berselang. Waktu itu sekonyong-konyong rumah S kedatangan seorang Belanda yang mengaku dirinya polisi.

Baca juga: Nyaman Tidur Bareng Cewek Karaoke, Suami Malas Pulang, Zina Berkali-kali hingga Lupa Istri Hamil Tua

Belanda ini mengatakan pada S bahwa perempuan Sunda yang menikah padanya adalah ia punya bekas Nyai dan sekarang ia mau ambil itu perempuan, kalau S tidak kasih ia nanti jadi celaka.

Sambil mengatakan itu, ia lantas mengancam S dengan revolver, hingga S jadi ketakutan dan tinggal diam saja. Akhirnya Belanda itu dengan leluasa membawa pergi ia punya istri.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved