TRIBUNWIKI
Mardoton, Festival Unik Era Kebangkitan 'Pandaram' di Danau Toba Secara Kearifan Lokal
Melihat keresahaan ini, segenap Komunitas Anak Tao (Komunitas Pemuda Krearif Toba) berberinisiatif mengembalikan kejayaan "Pandaram" masa lalu.
Penulis: Arjuna Bakkara | Editor: Ayu Prasandi
Doton yang rusak, pada masanya tidak ujuk-ujuk langsung diganti doton baru. Ada ilmu spesialis untuk memperbaikinya oleh pandaram.
"mangumei" istilahnya, yang dalam praktiknya menyatukan kembali yang terpisah, merajut benang-benang yang terkoyak.
Festival Mardoton kali ini, tepatnya jatuh pada Bulan Sipaha Sada pada Penanggalan Kalender Batak.
Festival ini digelar sepanjang Bibir Pantai Tuktuk dan sekitarnya.
Sekadar Mardoton, sekilas tentang pengertiannya. Mardoton, merupakan cara bertangkap ikan yang dilakukan sejak puluhan tahun belakangan oleh para orang-orang tua di Kawasan Danau Toba.
Pada mulanya menggunakan bubu, kemudian penggunaan doton pun mulai akrab.
Bahan doton terbuat dari atom maupun berbahan kain yang dirajut menjadi mata jaring beragam ukuran setelah diproduksi massal secara pabrikan.
Pada festival ini Kata Febry Siallagan, Komunitas Anak Tao Berfokus pada Edukasi melalui beberapa rangkaian kegiatan.
Antara lain, Focus Group Discussion, pembentukan komunitas Pardoton, Perlombaan Manopong Doton, Edukasi Ekosistem Danau Toba, Penaburan 20.000 Benih Ikan Jahir dan 200 Benih Endemik Toba, lomba menghias solu, pameran kuliner ikan Danau Toba, pemutaran film semi documenter "Ahu Pardoton" hingga penanaman dan 100 bibit pohon yang tentu harus diikuti perawatan (bukan sekedar tanam).
Dalam rangkaian menurunkan perahu ke Danau Toba atau "Poda Patuat Solu", biasanya ada ritual tertentu.
"Manduda nitak asa horas-horas mamakke, jala dapot-dapotan mabbuat dekke. Jala dipangido i tu Par Aek Silio-tio. Ima na di dok Namboru Saneang Naga Laut,"kata Oppu Disnan Sigiro saat tempo hari.
Apa yang dilafalkan Oppu Disnan adalah kutipan doa yang biasa dia lakukan saat menurunkan solu ke Danau Toba sebelum dipakai bertangkap ikan atau "mandaram".
Oppu Disnan Sigiro, sesepuh dalam lingkar Pandaram yang bahkan separuh hidupnya menghabiskan waktu sebagai Pandaram di Pulau Samosir.
Dia seorang yang masih setia dengan pesan dan petuah-petuah leluhur.
Oppu Disnan berkata, ada prosesi tertentu agar solu membawa keberuntungan pada pengguna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/nelayan-tradisional-danau-toba-sedang-memasang-jaring-atau-doton-di-danau-toba.jpg)