Viral Medsos

Viral Postingan Dokter Amelia Martira, Luapkan Perasaannya saat Lakukan Intubasi ke Pasien Covid-19

Intubasi adalah prosedur medis untuk memasukkan alat bantu napas berupa tabung ke dalam tenggorokan.

Editor: AbdiTumanggor
ISTIMEWA
Dokter Amelia Martira 

Dalam cuitannya yang lain, Amelia lebih dalam mengungkapkan perasaannya selama menangani pasien Covid-19.

"Pernah dalam satu hari beberapa pasien meninggal dalam waktu hampir bersamaan. Dengan perasaan 'biasa', gue segera hubungi IGD untuk segera pindahkan ke ICU, pasien yang telah ngantri berhari-hari. Kesedihan satu keluarga memberikan harapan ke keluarga lain. Boleh dibilang (saya) enggak sempat sedih," ujar Amelia.

"Kadang setelah memasang ventilator ke pasien dan kondisinya tak kunjung membaik juga. Terlintas dalam pikiran, 'Ya Allah, bener ga ya keputusan gue untuk pasang ventilator. Pasien juga percaya gue memberikan keputusan terbaik'. Saat itu, gue sih masih biasa aja. Tapi...

Kalau sudah malam menjelang tidur, saat gue mulai overthinking; hal ini bikin gw merasa bersalah. Ini saatnya gue merasa amat-amat sangat kecil sebagai manusia, yang ga tau apa-apa," lanjutnya.

Kepada Kompas.com, Amelia menjelaskan bagaimana sisi profesionalisme sebagai dokter harus menutupi perasaannya sebagai manusia biasa.

"Sebagai dokter yg bekerja di area kritis dan akhir kehidupan, memang kita dilatih untuk menyiapkan fisik dan mental. Termasuk bagaimana berkomunikasi dengan pasien dan keluarga dan menghargai nilai-nilai yang dimiliki keluarga. Kita juga dilatih untuk berempati, tetapi tetap menjaga profesionalisme agar tetap bisa fokus dan objektif.

Hanya saja, sebagai manusia, jika harus berhadapan dengan situasi pandemi yang enggak pernah dihadapi sebelumnya, pertahanan mental juga bisa runtuh," kata Amelia.

Menurut Amelia, para dokter terkadang butuh dibantu oleh dokter psikiatri atau psikolog guna menopang mental mereka selama menangani pasien Covid-19.

"Saya sendiri secara pribadi memang belum meminta bantuan teman sejawat. Namun, saya dari awal (pandemi) sudah menyadari risiko burn out yang mungkin terjadi," ucapnya.

Untuk mengatasi kelelahan baik fisik maupun mental, Amelia sejauh ini punya berbagai hal yang dapat dilakukan seperti berbagi cerita dengan para sahabatnya, menonton, mendengarkan musik, hingga bermain bersama keluarga sembari tetap optimistis mengikuti perkembangan terbaru perihal Covid-19 dari jurnal kedokteran.

"Juga tawakal. Saya terus meyakini bahwa hidup adalah tempat berusaha melakukan yang terbaik dengan niat yang baik," katanya.

Masyarakat, tolong bantu para tenaga kesehatan

Dengan meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di Jabodetabek, Amelia hanya bisa berharap masyarakat bisa kembali disiplin melaksanakan protokol kesehatan.

"Bulan Juni-Juli 2020 itu kasus Jabodetabek sangat rendah. Saat itu, masyarakat disiplin menjaga, tidak berkerumun, mobilitas dan interaksi dibatasi, serta selalu menggunakan masker. Alangkah baiknya kita mengulang hal itu lagi. Bersabar adalah kunci," ujar Amelia.

Amelia pun meminta masyarakat jangan sampai lelah bersabar.

"Bosan, lelah, masalah ekonomi adalah masalah kita semua, termasuk dunia. Namun, kalau kita lelah bersabar sekarang, maka pandemi ini akan sangat panjang dan keterpurukan kita di kesehatan dan ekonomi semakin dalam. Kurangi interaksi dengan banyak orang, jangan jadikan diri kita sumber penular bagi keluarga dan kerabat lainnya," tuturnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved