TRIBUN-MEDAN-WIKI: Menyelisik Tradisi Mandi Berdimbar di Langkat

Sumatera Utara memiliki beragam adat yang melahirkan tradisi. Satu di antaranya adat Melayu Langkat, yang memiliki tradisi Mandi Berdimbar.

Editor: Juang Naibaho
Ist
Tradisi Mandi Berdimbar Melayu Langkat 

Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Sumatera Utara memiliki beragam adat yang melahirkan tradisi. Satu di antaranya adat Melayu Langkat, yang memiliki tradisi Mandi Berdimbar.

Budayawan Langkat, Zainal arifin, AKA, menjelaskan, mandi Berdimbar merupakan tradisi adat Melayu Langkat yang sudah hilang.

Mandi Berdimbar ini dilakukan setelah melakukan pesta pernikahan dan mandi pertama setelah pesta pernikahan.

Tradisi tersebut merupakan bagian dari rangkaian upacara adat perkawinan masyarakat Melayu, dimana tradisi ini dilakukan oleh pasangan setelah menikah.

Mandi Berdimbar ini juga disebut sebagai mandi berhias atau mandi di halaman.

Sebab, kegiatan mandi ini dilakukan di sebuah tempat yang disebut dengan panca persada yang dihias seindah mungkin.

Tradisi Mandi Berdimbar dilaksanakan di halaman rumah dan juga disaksikan oleh khalayak ramai.

Lalu, tempat panca persada dikelilingi kain dan dimandikan oleh bidan pengantin atau mak pengantin.

Jadi, air yang dimandikan merupakan air dengan bunga di dalam tempayan.

Kemudian, Mayang Pinang dan air yang dimandikan dikucurkan dari pembalut Mayang Pinang.

Mayang Pinang itu dipukul-pukul sebagai tanda mengusir roh jahat, dan air yang di dalam tempayang ini memang sangat dingin.

Mandi Mandai Berdimbar ini juga dilakukan pengantin dengan berpakaian yang terhias dan ada sebuah bacaannya.

Setelah itu, dililit dengan tujuh warna benang. Hal ini dilakukan agar tidak berpisah dan sehidup semati.

Setelah mandi Berdimbar, kedua pengantin masuk ke rumah untuk ganti pakaian.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved