Hal yang Kemungkinan Terjadi Pada Indonesia Bila Joe Biden Jadi Presiden AS, Kerja Sama Makin Sulit?
Trump lebih suka dengan kesepakatan bilateral, ini memungkinkan Indonesia melakukan lobi dan menciptakan kesepakatan perdagangan/investasi bilateral
TRIBUN-MEDAN.com - Joe Biden mendekati detik-detik kemenangan Pilpres Amerika 2020.
Update penghitungan suara sementara Pilpres AS, Joe Biden mengungguli Donald Trump di beberapa negara bagian.
Bila Joe Biden menjadi Presiden Amerika Serikat, ada dampak besar yang akan dialami Indonesia.
Apa yang terjadi pada Indonesia bila Joe Biden jadi presiden?
Baca juga: Gibran Rakabuming Latihan Pidato, Persiapan Debat Terbuka yang Akan Disiarkan Stasiun Televisi
Hingga saat ini belum bisa dipastikan siapa yang akan terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS), apakah Donald Trump atau kandidat dari Partai Demokrat Joe Biden.
Dilansir Tribunmedan.com Kontan , meski masih menunggu hasil pemilihan, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta W.
Kamdani mengatakan, kedua kandidat itu memiliki pro kontra, dan masing-masing kandidat memiliki gaya yang berbeda serta efek kebijakan yang berbeda pula.
"Kami tidak bisa bilang bahwa pemerintahan Trump atau Biden, presiden dari Partai demokrat atau Republik lebih baik atau lebih buruk untuk Indonesia dan pelaku usaha Indonesia. Hanya saja gayanya berbeda dan efek kebijakannya juga berbeda," ujar Shinta kepada Kontan.co.id, Rabu (4/10).
Dia pun berpendapat, Indonesia yang perlu fleksibel dalam menyesuaikan diri, baik dari sisi daya tarik iklim usaha dan investasi di dalam negeri maupun dalam melakukan lobi.
Dengan begitu, Indonesia masih tetap mendapatkan keuntungan dari kebijakan Presiden AS.
Bandingkan dua kepemimpinan
Shinta pun membandingkan kepemimpinan keduanya.
Menurut Shinta, kepemimpinan Trump sangat berbeda dengan pemerintahan Demokrat.
Trump lebih suka dengan kesepakatan bilateral, ini memungkinkan Indonesia melakukan lobi dan menciptakan kesepakatan perdagangan/investasi bilateral pula.
Menurutnya, kesepakatan bilateral tersebut hampir tidak mungkin bisa ada bila Presiden AS bukan Donald Trump.
"Namun, di sisi lain Trump juga tipe presiden yang bergerak berdasarkan sentimennya sendiri dan cenderung punitive atau menghukum pada negara yang tidak disukai sehingga menciptakan uncertainty bagi pelaku usaha negara tersebut," jelasnya.
Menurut Shinta, Indonesia juga ikut terdampak gaya pemerintahan Trump tersebut.
Ini melihat, sepanjang pemerintahan Trump, Indonesia untuk pertama kalinya di-review sampai dua kali untuk mempertahankan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP).
Akibat kebijakan Trump pula, mekanisme dispute settlement di WTO menjadi tidak berfungsi, sehingga kasus-kasus yang ingin dimenangkan Indonesia melalui WTO sulit memiliki perkembangan yang cepat.
Dia juga berpendapat, kebijakan Trump terhadap China turut menciptakan peluang ekonomi bagi Indonesia.
Namun, Shinta menilai, Indonesia tidak memperoleh keuntungan yang berarti dari peralihan perdagangan juga Investasi dari AS maupun China sepanjang 2018-2019.
Baca juga: Mantan Pramugari Ini Bongkar Perilaku Para Artis di Pesawat, Urutkan 10 Artis Berperilaku Baik
Bahkan, investasi maupun ekspor Indonesia-AS cenderung lebih rendah di 2019 bila dibandingkan dengan 2019.
"Karena perang dagang pun nilai tukar kita jadi melemah pasca Q3 2018 dan sampai sekarang belum bisa mencapai level 13.000 lagi. Trump juga membuat Indonesia diklasifikasikan sebagai “negara maju” dalam hal penerapan mekanisme anti subsidi di AS sehingga ke depannya Indonesia lebih sulit memenangkan sengketa anti-subsidi bilateral dengan AS," terang Shinta.
Berbeda dengan Trump, gaya pemerintahan Demokrat cenderung lebih formal dan mematuhi prinsip multilateral.
Menurut Shinta, hal ini menciptakan kepastian relasi dagang dan investasi.
Ini pun terlihat pada kepemimpinan Obama, dimana Indonesia bisa meningkatkan ekspor dan investasi, yang tidak pernah terjadi saat masa kepemimpinan Trump.
"Namun, di sisi negatifnya penekanan pada “fair trade” yang menyebabkan peningkatan kasus-kasus trade remedies yang dilakukan AS secara bilateral maupun multilateral terhadap Indonesia. Ini bisa mengancam bahkan mematikan ekspor unggulan nasional bila kita kalah," kata Shinta.
Lebih lanjut, Shinta mengatakan, bila nantinya yang menjadi Presiden AS berikutnya adalah Trump, maka usulan limited trade deal Indonesia-AS kemungkinan besar bisa lebih mudah dan lebih cepat direalisasikan karena sifat pemerintahnya lebih pragmatis.
Sementara, bila Biden yang terpilih, maka limited trade deal mungkin akan membutuhkan waktu lebih lama atau perlu ditransformasikan.
Dia menilai, hal ini dikarenakan Biden memiliki agenda tersendiri terkait mulitlateralisme dan AS yang mungkin beralih menjadi lebih menyukai kesepakatan dagang yang patu dengan aturan WTO.
"Di luar itu, kami tidak memproyeksikan banyak perubahan karena semua tergantung pada daya tarik iklim usaha dan investasi Indonesia, khususnya karena konflik AS-China dan negara-negara cenderung terus dipertahankan oleh Biden karena kebutuhan ekonomi internalnya sendiri, khususnya untuk job creation," kata Shinta.
Baca juga: Sebelum Meninggal di Ruang Sidang, Hakim Haposan Sirait Mengeluh Berat Badannya Turun Drastis
Dia juga menambahkan, sektor-sektor ekonomi nasional yang diuntungkan dari Amerika Serikat masih sama saja mengingat tidak ada perubahan yang signifikan berkaitan dengan komoditas ekspor unggulan maupun sektor investasi yang diminati AS di Indonesia baik bila dipimpin Trump ataupun Biden.
Siapa sebenarnya Joe Biden
Pemilihan Presiden Amerika Serikat atau Pilpres AS 2020 telah menyelesaikan tahapan pertama debat calon presiden, Selasa (29/9/2020) malam.
Pada Pilres AS 2020, Donald Trump akan menjadi lawan Joe Biden seorang anak pembersih tungku.
Joe Biden dari Partai Demokrat bahkan sempat membentak Trump pada debat pertama.
Biden adalah politisi berusia 77 tahun yang berjanji akan melanjutkan nilai-nilai yang diwarisi oleh Obama,
Ia berjanji akan menyatukan AS di masa yang penuh dengan tantangan seperti pandemi Covid-19 ini.
Tidak aneh, karena diketahui Biden pernah menjabat sebagai Wakil Presiden ke-47 AS.
Biden duduk di kursi AS-2 selama 2 periode, yakni 2009-2013 dan 2013-2017 bersama pasangan yang sama, yakni Barack Obama ketika itu.
Baca juga: Sosok Wanita Cantik Pengganti Gisel, Pamer saat Gading Marten Liburan di Labuan Bajo, Foto-fotonya!
Jauh sebelum menjadi wakil presiden, Biden pernah menjadi senator dari Delware selama 6 kali masa jabatan dan pertama kali terpilih pada 1972.
Ketika itu, ia menjadi senator termuda ke-5 AS dalam sejarah.
Dengan begitu, laki-laki kelahiran 20 November 1942 di Scranton, Pennsylvania ini sudah aktif sebagai pelayan publik sekitar setengah abad lamanya.
Melihat usianya saat ini, jika nantinya terpilih, Biden akan dilantik sebagai presiden pada usia 78 tahun, ini adalah yang tertua dalam sejarah AS.
Pun dengan Trump, jika dalam pemilihan kali ini ia terpilih, maka tahun depan ia akan dilantik pada usia 74 tahun, ini juga rekor sebagai usia pelantikan presiden tertua.
Meski meninggalkan tanah kelahirannya sejak usia 13 tahun dan pindah ke Delware, namun Biden masih menjaga hubungan yang kuat dengan Pennsylvania.
Negara bagian itu merupakan wilayah dengan banyak pemilih kritis yang pada Pemilu 2016 dimenangkan oleh Trump.
Sementara itu, dikutip dari Biography, sebelum terjun di dunia politik, Biden sempat berkarier sebagai seorang pengacara.
Biden terlahir dari pasangan orantua Joseph Biden Sr dan Catherine Eugenia "Jean" Finnegan.
Sang ayah adalah seorang pembersih tungku dan penjual mobil bekas.
Biden menyebut banyak nilai yang diajarkan oleh orangtuanya, tertanam di dalam dirinya.
Misalnya tangguh, kerja keras, dan ketekunan.
Biden selalu mengingat pesan yang disampaikan oleh sang Ayah,
"Nilai seseorang bukanlah seberapa sering dia dijatuhkan, tetapi seberapa cepat dia bangun."
Ilmu politik banyak ia pelajari dan dapatkan selama menimba ilmu di Delware University. Bekal itulah yang menjadi dasar hingga mengantarkan sosok Biden di posisi saat ini, kandidat presiden AS.
(*)
Sumber: Kontan.co.id dan Kompas.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/joe-biden-pilpres-as.jpg)