Sosok Wanita yang Baik, Nadine Devillers (60), Korban Ketiga Dalam Penyerangan di Gereja Perancis

Nadine Devillers, adalah orang ketiga yang tewas dalam serangan teror di geraja basilika Notre Dame kota Nice, Perancis

Editor: AbdiTumanggor
AFP/Valery HACHE
Petugas forensik mengerahkan tandu di lokasi serangan pisau di jalan Nice, Prancis, Kamis (29/10/2020). (AFP/Valery HACHE) 

Teman Nadine yang lain, Salvatore Gabriele, mengatakan bahwa wanita 60 tahun itu adalah orang yang perhatian dan suka menolong, meski kondisinya sederhana.

"Dia tersenyum, ramah, selalu memastikan bahwa semuanya berjalan dengan baik untuk orang lain. Meskipun kondisinya sederhana, dia tetap bermartabat dan tidak biasa menunjukkan masalah pribadinya," ungkap Gabriele.

Serangan pisau yang keji di gereja Notre Dame kota Nice menewaskan 3 orang itu diyakini oleh para penyelidik Perancis direncanakan dan diorganisir dari luar negeri.

Profil penyerang, identitas kontaknya, dan kecepatan serangan menunjukkan kekejaman itu telah direncanakan sebelumnya oleh para pelaku teror, menurut laporan surat kabar Le Parisien.

Brahim Aouissaoui (21 tahun), tersangka utama penyerangan mematikan, telah memenggal kepala Nadine Devillers (60 tahun), menggorok leher penjaga gereja Vincent Loques (55 tahun), dan menikam ibu tiga anak, Simone Barreto Silva (44 tahun).

Aouissaoui ditembak 14 kali, setelah penyerangan terjadi saat proses penangkapannya. Saat ini dia berada di rumah sakit dalam kondisi kritis.

Berbicara dari Stax, Tunisia, ibu tersangka mengatakan anaknya telah meninggalkan sekolah dan sebelumnya tragedi, dia bekerja sebagai mekanik sepeda motor.

Awalnya, dia menghabiskan gajinya untuk alkohol dan narkoba.

"Saya biasa mengatakan kepadanya, 'kita amiskin dan kamu membuang-buang uang?" ungkap ibunya.

"Dia akan menjawab, 'jika Tuhan menghendakinya, dia akan membimbing saya ke jalan yang benar, itu urusanku'," terang ibunya.

Namun, selama 2,6 tahun terkahir ini, Aouissaoui diungkapkannya berubah menjadi semakin religius dan berdiam diri di rumah.

"Dia berdoa, pergi dari rumah untuk bekerja dan kembali, tidak bergaul dengan orang lain atau meninggalkan rumah," kata ibunya.

Saudaranya, Yassine, mengatakan bahwa Aouissaoui berkerja memanen buah zaitun di Italia setelah meninggalkan Tunisia, kemudian pergi ke Perancis.

(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Teman Selama 30 Tahun Ini Ceritakan soal Korban Serangan di Gereja Perancis"

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved