UPT Tahura Terus Awasi Pergerakan Harimau di Kawasan Sibayak

Kabar tentang kemunculan seekor harimau Sumatera di jalur pendakian Gunung Sibayak, hingga saat ini masih terus ditelusuri.

Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Juang Naibaho
Tribun-Medan.com/Muhammad Nasrul
Kepala UPT Pengelolaan Tahura Bukit Barisan Ir Ramlan Barus, saat ditemui di kawasan UPT Tahura, Jalan Jamin Ginting, Berastagi, Jumat (16/10/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Muhammad Nasrul

TRIBUN-MEDAN.com, BERASTAGI - Kabar tentang kemunculan seekor harimau Sumatera di jalur pendakian Gunung Sibayak, hingga saat ini masih terus ditelusuri.

Beberapa waktu lalu, tim dari Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Pengelolaan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan, bersama dengan Balai Besar Kelestarian Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan Wildlife Conservation Society (WCS) telah melakukan beberapa langkah untuk pelacakan kehadiran hewan dengan nama latin panthera tigris sumatrae ini.

Kepala UPT Pengelolaan Tahura Bukit Barisan Ir Ramlan Barus, mengungkapkan untuk melacak pergerakan harimau tim gabung kemarin susah melakukan pemasangan tiga kamera perangkap (camera trap).

Selain itu, untuk mencegah terjadinya konflik antara hewan liar dengan manusia, pihaknya telah melakukan penutupan sementara aktivitas pendakian ke kawasan Gunung Sibayak.

"Kemarin sudah kita pasang tiga kamera trap di kawasan hutan, dan mulai hari ini aktivitas pendakian kita tutup sementara," ujar Ramlan, Jumat (16/10/2020).

Ketika ditanya perihal sudah sejauh mana hasil dari pemasangan kamera perangkap itu, dirinya mengatakan pihaknya masih menunggu.

Namun begitu, dirinya mengatakan jika nantinya kembali mendapatkan laporan adanya pergerakan harimau ini pihaknya akan langsung berkoordinasi kepada tim BBKSDA dan WCS.

"Nanti kalau misalnya ada laporan selanjutnya, kita akan langsung memantau pergerakan harimau itu di rekaman yang ada di kamera yang telah dipasang," ucapnya.

Lebih lanjut, Ramlan menjelaskan untuk memantau perkembangan yang ada di lapangan pihaknya juga tetap melakukan pemantauan di lokasi yang masih dalam batas aman.

Nantinya jika ada perkembangan lebih lanjut, pihaknya akan langsung berkoordinasi dengan BBKSDA dan WCS.

Disinggung perihal penempatan perangkap, dirinya mengaku hingga saat ini langkah tersebut belum dilakukan.

Pasalnya, mengingat lokasi tempat berkeliarannya harimau ini masih berada di habitat aslinya.

Selain itu, sampai sekarang belum ada ditemukannya laporan hewan buas ini terlibat konflik dengan masyarakat.

"Kalau perangkap sampai saat ini belum, karena memang lokasinya masih jauh dengan pemukiman. Dan kehadirannya belum ada tercatat mengancam warga sekitar," ungkapnya.

Namun begitu, dirinya mengatakan pihaknya akan tetap terus melakukan pemantauan dan meminta masyarakat tetap menjauh dari kawasan hutan.

(cr4/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved