TRIBUN-MEDAN-WIKI: Brandan Bumi Hangus, Jejak Pertempuran Lawan Belanda, Kota Minyak Jadi Lautan Api

Sejarah mencatat, Pangkalan Brandan menjadi salah satu daerah yang memiliki nilai historis tentang perjuangan rakyat Indonesia melawan Kolonial Beland

Editor: Juang Naibaho
HO
Dokumentasi peristiwa Brandan Bumi Hangus pada 13 Agustus 1947. 

Penghancuran itu bertujuan agar bangunan-bangunan tersebut tidak menjadi kantong-kantong tentara Belanda.

Singkat cerita, Belanda berhasil menguasai Tanjungpura pada tahun 1947. Kemudian, para pejuang mulai mundur. Pejuang dari Langkat hulu maupun hilir pindah ke Pangkalan Brandan.

Para pejuang berkumpul di Teluk Aru, dan menyatukan kekuatan untuk mempertahankan Pangkalan Brandan. Jadi, batas pertempuran pejuang dengan tentara Belanda adalah di Markas Sigebang.

Lalu, 10 Agustus 1947 ratalah Markas Sigebang dihantam pejuang. Tentara Belanda pun pindah dan bermarkas di bangunan sekolah Jamaiyah Mahmudiyah.

Pada 8 Agustus 1947, tentara Belanda sudah melancarkan serangan ke Pangkalan Brandan. Belanda menembakkan meriam dari Tanjungpura ke arah Brandan.

Kemudian, pada 11 Agustus 1947, para pejuang berhasil menangkap seorang kaki tangan Belanda, bernama Hafiz. Setelah diinterogasi, diperoleh informasi bahwa Belanda akan melakukan serangan untuk menaklukkan Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu.

Serangan yang bertujuan menguasai pangkalan minyak ini, rencananya dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 1947.

Salah satu rencana Belanda adalah melancarkan serangan lewat laut untuk menduduki Pangkalan Brandan.

Untuk menghadang pertempuran, Mayor Rawi menyiapkan serangan bersama laskar-laskar yang ada di Brandan.

Namun, pasukan Mayor Rawi berhasil didesak mundur. Untuk menghambat pasukan Belanda, akhirnya para pejuang menghancurkan jembatan Titi Panjang dan jembatan Pelawi. Hal ini agar pasukan Belanda tidak masuk ke Brandan.

Di sisi lain, ketika itu pimpinan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), serta Komandan Keamanan Tambang Minyak dan Perkeretaapian Bersama, Mayor Nazaruddin berkumpul di kantor Telkom yang menyatu dengan kantor PJKA, tepatnya di depan kantor Koramil.

Dalam pertemuan itu, disimpulkan bahwa Pangkalan Brandan tidak dapat dipertahankan lagi karena Belanda ingin menyerang dari laut.

Akhirnya Mayor Nazaruddin memutuskan bahwa Pangkalan Brandan harus dibumihanguskan. Tambang atau kilang minyak juga dibakar. Rencananya, Brandan dibumihanguskan tanggal 13 Agustus dini hari.

Satu hari sebelumnya, Kota Pangkalan Brandan harus sudah dalam keadaan kosong. Penduduk harus mengungsi lebih kurang 3 Km dari kawasan Brandan. Maka terjadilah gelombang pengungsian ke arah Besitang, Kuala Simpang, Langsa, dan seterusnya.

Pada 13 Agustus dini hari, Mayor Nazaruddin berserta anggotanya dan pejuang membakar rumah-rumah di Brandan dan tambang minyak. Pangkalan Brandan menjadi lautan api selama 3 hari.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved