Tumbuhan Porang, Jadi Komoditas Ekspor Unggulan Asal Sumut

Sementara pada periode yang sama tahun lalu hanya berhasil membukukan 8,8 ton dengan nilai barang Rp 93 juta dan dengan tujuan ekspor China saja.

TRIBUN MEDAN/HO
TUMBUHAN liar Porang (Amorphophallus oncophyllus), menjadi salah satu komoditas unggulan dari Sumut. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Tumbuhan liar Porang (Amorphophallus oncophyllus). menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan asal sumut yang akan dikirim ketiga negara, China, Thailand, dan Vietnam.

Kepala Karantina Pertanian Belawan, Hasrul mengatakan, sinergisitas dengan berbagai pihak dilakukan sejak tahun lalu.

Di mana, dari data pada sistem perkarantinaan IQFAST di Karantina Pertanian Belawan tercatat fasilitasi ekspor ketiga negara selama periode semester I/2020 tercatat 362 ton dengan nilai barang Rp 7,2 milyar.

Sementara pada periode yang sama tahun lalu hanya berhasil membukukan 8,8 ton dengan nilai barang Rp 93 juta dan dengan tujuan ekspor China saja.

"Alhamdulillah telah membuahkan hasil meningkatnya volumenya dan tujuan negara ekspor untuk komoditas porang Sibolga ini," ucap Hasrul, Rabu (24/6/2020).

Sepanjang April 2020, Nilai Ekspor Sumut Mengalami Penurunan 6,85 Persen

Hasrul menjelaskan, porang biasa disebut Atturbung di daerahnya memiliki keunggulan dengan ukurannya yang besar.

Rata-rata memiliki berat hingga 50-100 kilogram dan inilah yang menjadi daya tarik bagi para importir asal tiga negara tersebut, ukurannya yang raksasa.

Selain itu, menurut Hasrul bahwa porang memiliki serat yang tinggi dan mengandung kandungan glukoma.

"Kini setelah ekspor berjalan, komoditas raksasa ini sangat diminati industri pengolahan makanan di negara tujuan, selain bentuknya yang besar juga karena memiliki serat yang tinggi dan kandungan glukomanya hingga 45 sampai 50 persen," ucap Hasrul.

Sementara itu, Hilirasasi Produk Pertanian Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil secara terpisah menyebutkan, sejalan dengan gerakan tigakali lipat ekspor (Gratieks) yang digagas oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, pihaknya selaku fasilitator pertanian di perdagangan internasional melakukan sinergisitas dengan berbagai pihak.

"Harapannya akan dapat bertumbuh ragam komoditas baru yang menjadi unggulan ekspor daerah dan menjadi sentra berbentuk kawasan," ujarnya.

Ali mengungkapkan bahwa pengembangan kawasan dengan skema wanatani atau agrogorestri dapat menjadi pilihan untuk budidaya porang yang banyak tumbuh di area kehutanan.

Stok Diperkirakan Masih Menumpuk, Ekspor Karet dan Minyak Sumut Sepanjang April 2020 Menurun

Juga untuk komoditas unggulan dari Tapanuli Tengah lainnya yang sudah masuk pasar ekspor seperti pinang, kayu manis dan kayu lapis, pengembangan dalam bentuk kawasan perlu terus didorong.

"Hal ini untuk memudahkan dalam pengembangan pertanian skala industri. Agar dapat terjaga baik dalam jumlah produksi, mutu dan kontinuitasnga, sehingga sukses di pasar global," ungkapnya.

Saat ini Kementan terus membenahi iklim invetasi pertanian yakni dengan deregulasi dan penyediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha.

"Ke depan, jangan lagi porang ini kita ekspor dalam bentuk mentah. Agar bisa bernilai tambah dorong hilirisasi agar ekspornya dalam bentuk ramen dan tepung, minimal setengah jadi," ucap Ali. (CR23/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved