Update covid19 Sumut 10 Juni 2020
Memasuki Fase New Normal, Ini Kata Antropolog Tentang Proses Adaptasi Perilaku Masyarakat
Dalam konteks antropologi kesehatan, kita mencoba memahami kaitan antara aspek sosial, budaya, biologi, dan linguistik dengan isu-isu kesehatan.
TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Pandemi Corona yang terjadi di hampir seluruh negara di dunia menuntut sebuah penanggulangan yang efektif.
Hal ini coba dikaji oleh para ilmuwan rumpun ilmu sosial terkhusus pada penerapan new normal di Indonesia.
Satu di antara ilmuwan sosial tersebut adalah Erna Herawati, seorang dosen di Departemen Antropologi Universitas Padjadjaran Bandung.
Dalam webinar berseri yang dilakukan Rabu (10/6/2020) Erna menjelaskan mengenai perubahan perilaku masyarakat dalam konteks penanggulangan Covid-19 atau virus Corona.
"Dalam konteks antropologi kesehatan, kita mencoba memahami kaitan antara aspek sosial, budaya, biologi, dan linguistik dengan isu-isu kesehatan. Hal ini memungkinkan untuk mendapatkan pemahaman mengenai seperti apa perilaku masyarakat dan cara adaptasi dalam menanggulangi pandemi," kata Erna.
• Mahasiswa Antropologi Unimed Gelar Teras Budaya
Diterangkannya, pemahaman, pengalaman sakit serta penyebaran penyakit melahirkan inovasi alami yang dilakukan masyarakat seperti pengobatan lokal dan sebagainya.
Perubahan perilaku masyarakat merupakan respon dari hal terdekat yang terjadi di sekitarnya. Dalam hal ini perilaku masyarakat cenderung dipicu oleh wabah penyakit itu sendiri.
"Dalam konteks pandemi covid-19, beberapa perilaku yang bisa kita uraikan misalnya adalah penerapan hidup bersih dan sehat. Seperti rajin mencuci tangan, olah raga, menjaga asupan makanan dan sebagainya. Hal ini tentu tidak bisa dibangun dalam waktu yang singkat," ungkapnya.
Penerapan perilaku yang diharapkan agar penanggulangan penyebaran covid-19 ini, lanjut Erna merupakan sesuatu yang kompleks. Hal ini dikarenakan menyangkut sebuah tatanan hidup atau keseluruhan kebudayaan yang sudah dibangun sejak lama.
"Nah hal yang sulit dan tidak banyak dipikirkan oleh kita adalah bahwa apa yang dibangun oleh masyarakat kita atau yang biasa kita sebut sebagai budaya sangat bertolak belakang dari perilaku yang diharapkan dalam penanggulangan wabah virus ini," kata Erna.
• Era Revolusi Industry 4.0, Prodi Antropologi FIS Unimed Latih Dosen Tingkatkan Penulisan Jurnal
"Misalnya saja physical distancing. Kita tidak bisa secara instan memastikan seluruh lapisan masyarakat menerapkannya karena bersalaman, berbicara intens dan sopan sudah merupakan bagian dari kebudayaan kita yang sudah dilakukan turun temurun," tambahnya.
Oleh karena itu, ujar Erna dalam menerapkan penanggulangan virus covid-19 tidak hanya bisa melalui imbauan melainkan perlu dilakukan pendekatan khusus dan kajian efektif.
"Makanya kalau dilihat di permukaan, tak sedikit protes secara terang-terangan ataupun secara sembunyi-sembunyi," katanya.
Menurutnya, ditinjau dari segi kognitif masyarakat, Corona memiliki definisi yang sangat beragam.
"Ada yang memandang Corona sebagai sebuah hal yang menakutkan, mengganggu berbagai macam aktivitas vital yang seharusnya dilakukan. Serta ada pula yang menganggap ini sebagai titik untuk memulai pergerakan-pergerakan sosial," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/webinar-antropologi.jpg)