Mengapa Ketupat dan Opor Ayam Seakan-akan Tidak Bisa Dipisahkan Ketika Hari Raya Idul Fitri?

Hidangan berkuah kuning ini biasa disajikan dengan varian makanan lain selain ayam, seperti telur rebus, kentang, ketupat, dan nasi hangat.

Editor: AbdiTumanggor
Tribunnews.com
Ketupat dan opor ayam 

TRIBUN - MEDAN.Com - Tidak heran bila di setiap rumah yang kita kunjungi dalam silaturahmi Idul Fitri (lebaran) selalu disajikan ketupat dan opor ayam.

Ya, ketupat dan opor ayam seakan-akan tidak bisa dipisahkan ketika Hari Raya Idul Fitri.

Meski ada makanan lain yang disajikan, tetap saja ketupat selalu disandingkan dengan opor ayam.

Opor sudah menjadi makanan khas Lebaran yang selalu ditunggu-tunggu.

Misteri Pembunuhan Gadis Remaja RO (16) Siswi SMA yang Dilakukan Keluarganya Sendiri, Karena Ritual?

Lalu, mengapa opor selalu disajikan menjadi teman khusus ketupat saat Lebaran?

Hidangan berkuah kuning ini biasa disajikan dengan varian makanan lain selain ayam, seperti telur rebus, kentang, ketupat, dan nasi hangat.

Sejarawan kuliner, Fadly Rahman mengatakan, opor memiliki pengaruh budaya dua negara.

"Kalau pengaruh opor masuk ke Indonesia ini memang merupakan hasil dari akulturasi atau penyatuan budaya Indonesia dengan budaya asing.

Khususnya pengaruh Arab dan India," kata Fadly, mengutip berita Kompas.com, 20 Mei 2019.

Asal mula lahirnya opor, Fadly menjelaskan orang Indonesia memodifikasi masakan India dan Arab hingga menghasilkan apa yang kini disebut dengan opor.

"India punya kari, lalu Arab membawa gulai. Kita dengan kreatifnya melakukan modifikasi atau akulturasi budaya India dan Arab itu dengan menghasilkan opor," jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan budaya kuliner memasak kari dan gulai pertama kali masuk ke kawasan-kawasan Indonesia yang tersentuh Islam pertama kali.

Pada saat itu, Islam pertama kali dikenalkan oleh orang Arab dan India.

Mereka menyentuh kawasan-kawasan pesisir seperti Sumatera, Selat Malaka, hingga Jawa.

"Nah ini yang mencirikan ide mengapa opor bisa didapati di wilayah berakar budaya Melayu dan Jawa karena mereka di wilayah pesisir yang pertama kali menerima pengaruh Arab dan India dari abad ke abad," jelas Fadli.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved