Update Covid19 Sumut 12 Mei 2020

Perawat Relawan Covid19 di RS Martha Friska Ini Sedih Tak Bisa Rayakan Ulang Tahun Anak

Syahrial mengaku, kendalanya di awal bertugas adalah meninggalkan keluarga yang sangat mengkhawatirkan keselamatannya.

TRIBUN MEDAN/HO
SYAHRIAL, perawat relawan covid-19 yang bertugas di RS Martha Friska Medan. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Membulatkan tekad untuk bergabung menjadi relawan Covid-19 di rumah sakit rujukan utama Covid-19 RS Martha Friska Medan membuat Syahrial harus berpisah untuk sementara waktu dengan keluarga.

Meskipun awalnya istri dan ke dua anaknya sangat berat hati untuk mengijinkan Syahrial bertugas, ia mencoba meyakinkan keluarga kecilnya itu.

Syahrial mulai bertugas di rumah sakit Martha Friska sejak tanggal 10 April 2020, tepat lebih satu bulan yang lalu.

Saat itu ia harus meninggalkan istri dan ke dua anaknya, di mana bertepatan 12 April 2020, selang dua hari setelah Syahrial pergi, anaknya yang pertama berulang tahun.

"Di situ selang dua hari saya bertugas anak sulung saya ulang tahun yang ke-8. Dia video call saya, minta saya pulang ke rumah, sambil nangis dia menelpon saya. Saya bilang saya masih bekerja dan belum bisa pulang, saya pun tak bisa membendung air mata saya di situ. Saya bilang nanti kalau saya pulang kita rayakan lagi ulang tahunnya meskipun hanya pakai kue saja,"
ungkap Syahrial saat berbincang dengan Tri bun Medan, Selasa (12/5/2020).

Syahrial mengaku, kendalanya di awal bertugas adalah meninggalkan keluarga yang sangat mengkhawatirkan keselamatannya.

Ia tinggal di Perdagangan, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun. Sehari setelah keberangkatannya ke Medan untuk menjalankan tugas sebagai relawan, sang istri menelponnya hingga berbincang sampai tiga jam.

"Waktu awal saya sampai di Medan, mereka (istri) menelpon lagi, bertanya apakah tidak bisa dibatalkan bertugasnya. Saya bilang tidak bisa, sudah ditugaskan. Di awal-awal juga kami telponan sampai tiga jam, dia bertanya tentang keadaan saya di sini," katanya.

Berusaha untuk menerapkan sumpah perawat sebagaimana mestinya menjadi motivasi bagi Syahrial untuk tetap ingin bergabung menjadi relawan Covid-19 meskipun berat bagi keluarganya.

Ia ditugaskan bertiga dengan rekannya yang lain dari Rumah Sakit Karya Husada, Perdagangan, Simalungun.

Kisah Radiografer Relawan Covid-19 di RS Gl Tobing, Hampir Pingsan saat Pakai APD

"Karena kebetulan saya dari daerah, jadi ada perasaan bertanggung jawab saja sebagai warga Sumut. Ingin mengabdi kepada masyarakat," tuturnya.

Sebagai perawat yang menangani pasien langsung di Unit Gawat Darurat (UGD) bagi Syahrial setiap pasien sangat memiliki keluhan yang berbeda-beda. Hal ini menjadi pengalaman tersendiri baginya.

"Karena keluhannya bermacam-macam, itu juga sih yang unik, jadi kita mencoba memahami keluhan pasien ini. Ada juga pasien yang tidak ada keluhan sama sekali tapi hasil tes nya positif corona, itu unik juga. Yang membingungkan juga kalau pasien yang sudah tidak sadarkan diri, kita mah bertanya apapun mengenai kondisinya dia tidak bisa nendengarkan dan merespon, di situ kadang sulitnya," jelasnya.

Terlebih saat mendengarkan cerita masing-masing pasien, baginya setiap pasien selalu punya caranya masing-masing dalam menghadapi situasi yang tengah terjadi.

Tak jarang Syahrial bercanda tawa dengan pasien agar mereka tetap merasa senang dan semangat.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved