Ramadhan 2020
Inilah Masjid Pertama di Binjai Peninggalan Kesultanan Langkat
Peradaban penyiaran agama Islam di Sumut sangat membekas, terutama dari sisi peninggalan jejak-jejak bangunannya.
Berdasarkan cerita orang-orang tua dahulu, bahwa tiang-tiang dan mimbar serta setiap sudut masjid memiliki maknya tersendiri, yang berkaitan dengan Islam.
"Sebenarnya ada maknanya ini tiang-tiang di dalam Masjid, ornamen-ornamen dan mimbar khatib. Cuman tak ada lagi refrensinya, tak bisa saya bilang. Yang mengetahui itu orang-orang tua dahulu tetapi sudah pula meninggal," tuturnya.
Sambungnya, di Masjid Raya masih ada dua sumur sejak awal berdirinya masjid tersebut. Ada juga peninggalan batu prasasti yang bertuliskan arab Melayu.
Batu prasasti tersesebut merupakan satu tanda atau keterangan waktu Masjid Raya Binjai dibangun.
Bahkan, pada masa kerajaan Langkat di depan Masjid Raya masih ada sungai yang mengalir. Namun saat ini suda tiada karena adanya renovasi jalan terhadap Pemerintah Kota Binjai.
"Di sini masih ada dua sumur peninggalan dari Kesultanan Langkat, yang masih dipakai. Air sumurnya pun banyak di mintak masyarakat, kabarnya untuk obat. Nah kalau dahulu itu di depan Masjid ada sungai yang mengalir, sekarang sungainya pun sudah dipindahkan karena ada renovasi jalan dan tata kota oleh Pemko Binjai," ucapnya.
Lanjutnya, Hanzalah menceritakan dari zaman dahulu semenjak Masjid Raya ini berdiri sampai saat ini. Setiap Ramadan selalu ada tradisi salat sunah tarawih dan tadarus. Kemudian ciri khasnya waktu berbuka ialah membagikan bubur pedas atau sekarang disebut Sup bubur daging.
"Itu waktu dahulu dan tahun lalu, sekarang pada masa covid-19 buka bersama sudah ditiadakan di masjid. Hanya saja dibagikan menu berbukanya yaitu sup bubur daging kepada masyarakat, dan lebih banyak porsinya di Ramadan 1441 Hijriah ini, karena tidak ada buka bersama di masjid," katanya.
Di masa pandemi Covid-19 dan Ramadan 1441 H ini, Masjid Raya Binjai membagikan 200 sampai 300 porsi sup bubur daging.
Sementara, pada tahun sebelumnya hanya sekitar 100 sampai 200 porsi saja. Hanzalah menjelaskan sup bubur daging tersebut merupakan khas masakan dari Melayu.
"Bubur ini juga sangat populer di kalangan Masyarakat kota Binjai. Bahkan masyarakat membawa pulang bubur tersebut untuk berbuka puasa di rumah. Kalau sup bubur daging atau dahulu bilangnya bubur pedas dari Masjid Raya itu sudah tradisi puluhan tahun,” ujarnya.
Sambungnya, biasanya di Masjid Raya Kota Binjai ini selalu ramai dengan jamaah. Hal ini karena dekat dari pusat kota dan pusat pasar pembelanjaan. Tak heran kalau yang salat Juhur sampai Isyah itu Masjid menjadi ramai. Namun, saat di masa pandemi jamaah berkurang.
"Ya pada masa pandemi jamaah terawih saja sampai dua saf setengah. Sebelum pandemi, itu sampai enam saf lebih. Ya, saya berdoa semoga wabah ini berlalu dan cepat selesai," pungkasnya.
(cr22/Tri bun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/masjid-raya-kota-binjai.jpg)