Ramadhan 2020

Inilah Masjid Pertama di Binjai Peninggalan Kesultanan Langkat

Peradaban penyiaran agama Islam di Sumut sangat membekas, terutama dari sisi peninggalan jejak-jejak bangunannya.

Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN/AQMARUL AKHYAR
Masjid Raya Kota Binjai 

Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar

TRI BUN-MEDAN.com - Peradaban penyiaran agama Islam di Sumut sangat membekas, terutama dari sisi peninggalan jejak-jejak bangunannya.

Satu di antaranya bangunan masjid tertua dan pertama di Kota Binjai, yang dahulu masuk dalam kawasan Kesultanan Langkat.

Masjid tersebut bernama Masjid Raya Kota Binjai.

Imam Masjid Raya Kota Binjai, Ustaz Muhammad Hanzalah, menceritakan masjid ini dibangun oleh Sultan Langkat, Tuanku Sultan Haji Musa Al Khalid Al- Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) Bin Raja Ahmad. Ia juga yang meletakan batu pertama di Masjid tersebut pada tahun 1887.

"Alasan pembangunan karena pada masa itu belum ada Masjid untuk rumah beribadah umat muslim atau Islam. Hal ini juga terjadi karena kerajaan Kesultanan Langkat sendiri merupakan kerajaan yang menganut agama Islam di Langkat," tuturnya.

Namun, di masa pembangunan masjid tersebut, Tuanku Sultan Haji Musa telah mangkat.

Setelah itu, Kesultanan pun diperintah oleh putranya Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmat Shah.

Nah, pada masa kepemimpinan Tuanku Sultan Abdul Aziz, barulah masjid ini selesai dan diresmikan pada tahun 1890.

"Pada saat itu juga wilayah ini masih wilayah kerajaan Langkat, lalu berganti menjadi kabupaten langkah. Makanya nama masjidnya dahulu hanya Masjid Raya," ucapnya.

Ia juga menuturkan bangunan masjid ini masih asli. Belum ada sama sekali perombakan bangunan atau rehab.

Bangunan masjid ini bernuansa atau arsitektur perpaduan kebudayaan arab dan melayu.

Hal ini dapat dilihat dari jendela, pintu, terus mimbar, serta ornamen-ornamen Melayu yang terdapat di dalam masjid.

"Kalau yang direnovasi hanya bagian teras masjid saja. Lasan fak direnovasi, karena masyarakat Binjai ingin agar bangunan tersebut masih kelihatan sejarah peninggalan dari Kesultanan Langkat," katanya.

Ia menceritakan bagian unik dari masjid ini ialah tiang-tiang yang ada di dalam masjid. Begitu juga dengan sebuah mimbar khatib.

Berdasarkan cerita orang-orang tua dahulu, bahwa tiang-tiang dan mimbar serta setiap sudut masjid memiliki maknya tersendiri, yang berkaitan dengan Islam.

"Sebenarnya ada maknanya ini tiang-tiang di dalam Masjid, ornamen-ornamen dan mimbar khatib. Cuman tak ada lagi refrensinya, tak bisa saya bilang. Yang mengetahui itu orang-orang tua dahulu tetapi sudah pula meninggal," tuturnya.

Sambungnya, di Masjid Raya masih ada dua sumur sejak awal berdirinya masjid tersebut. Ada juga peninggalan batu prasasti yang bertuliskan arab Melayu.

Batu prasasti tersesebut merupakan satu tanda atau keterangan waktu Masjid Raya Binjai dibangun.

Bahkan, pada masa kerajaan Langkat di depan Masjid Raya masih ada sungai yang mengalir. Namun saat ini suda tiada karena adanya renovasi jalan terhadap Pemerintah Kota Binjai.

"Di sini masih ada dua sumur peninggalan dari Kesultanan Langkat, yang masih dipakai. Air sumurnya pun banyak di mintak masyarakat, kabarnya untuk obat. Nah kalau dahulu itu di depan Masjid ada sungai yang mengalir, sekarang sungainya pun sudah dipindahkan karena ada renovasi jalan dan tata kota oleh Pemko Binjai," ucapnya.

Lanjutnya, Hanzalah menceritakan dari zaman dahulu semenjak Masjid Raya ini berdiri sampai saat ini. Setiap Ramadan selalu ada tradisi salat sunah tarawih dan tadarus. Kemudian ciri khasnya waktu berbuka ialah membagikan bubur pedas atau sekarang disebut Sup bubur daging.

"Itu waktu dahulu dan tahun lalu, sekarang pada masa covid-19 buka bersama sudah ditiadakan di masjid. Hanya saja dibagikan menu berbukanya yaitu sup bubur daging kepada masyarakat, dan lebih banyak porsinya di Ramadan 1441 Hijriah ini, karena tidak ada buka bersama di masjid," katanya.

Di masa pandemi Covid-19 dan Ramadan 1441 H ini, Masjid Raya Binjai membagikan 200 sampai 300 porsi sup bubur daging.

Sementara, pada tahun sebelumnya hanya sekitar 100 sampai 200 porsi saja. Hanzalah menjelaskan sup bubur daging tersebut merupakan khas masakan dari Melayu.

"Bubur ini juga sangat populer di kalangan Masyarakat kota Binjai. Bahkan masyarakat membawa pulang bubur tersebut untuk berbuka puasa di rumah. Kalau sup bubur daging atau dahulu bilangnya bubur pedas dari Masjid Raya itu sudah tradisi puluhan tahun,” ujarnya.

Sambungnya, biasanya di Masjid Raya Kota Binjai ini selalu ramai dengan jamaah. Hal ini karena dekat dari pusat kota dan pusat pasar pembelanjaan. Tak heran kalau yang salat Juhur sampai Isyah itu Masjid menjadi ramai. Namun, saat di masa pandemi jamaah berkurang.

"Ya pada masa pandemi jamaah terawih saja sampai dua saf setengah. Sebelum pandemi, itu sampai enam saf lebih. Ya, saya berdoa semoga wabah ini berlalu dan cepat selesai," pungkasnya.

(cr22/Tri bun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved