Ramadhan 2020
Tiga Tahun Jalani Ramadan di Polandia, Effsal Rindu Masakan Pedas Berbuka Buatan Ibu
Effsal menuturkan bahwa untuk mengobati rasa rindu terhadap masakan ibunya, setiap Ramadan ia rutin memasak beraneka makanan khas Indonesia.
TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Bulan Ramadan selalu disambut suka cita oleh kaum muslim di seluruh dunia untuk berkumpul bersama keluarga dalam momen berbuka atau sahur.
Momen inilah yang sangat dirindukan Muhammad Effsal Hadinata, mahasiswa Sumut yang sedang menempuh pendidikan di Warsaw University of Life Sciences, Polandia.
Effsal sudah menjalani tiga tahun Ramadan jauh dari tanah air tepatnya pada September 2017.
Ia menuturkan bahwa awal menjalani puasa di Polandia sempat merasa home sick atau rindu rumah.
"Pertama kali menjalani Ramadan jauh dari tanah kelahiran sih terasa seperti ada yang kurang karena kalau di Indonesia kan setiap sahur dan berbuka pasti selalu bersama keluarga. Apalagi masakan ibu yang paling dirindukan. Tidak ada yang bisa menggantikan cita rasanya," ungkap Effsal, Rabu (29/4/2020).
Effsal menuturkan bahwa untuk mengobati rasa rindu terhadap masakan ibunya, setiap Ramadan ia rutin memasak beraneka makanan khas Indonesia.
"Waktu itu saya pernah coba bikin disini mulai dari bakso, rendang, kare, soto, sate, dan capcay. Namun yang belum kesampaian buat masak pepes. Cuma rasanya beda karena ibu kalau masak selalu pedas dan aku suka pedas, disini cabenya manis kalaupun pedas ya tidak sepedas cabe di indonesia," ujar Effsal.
Berpuasa di Polandia memiliki durasi yang panjang sama seperti negara Eropa lainnya. Negeri yang berbatasan dengan Jerman ini memiliki durasi puasa selama 18 jam dengan rincian waktu berbuka sekitar pukul 21.00 hingga pukul 2.00 pagi.
Effsal mengungkapkan awal berpuasa sempat kaget dengan durasi lima jam lebih lama dari Indonesia. Namun, ia menuturkan bahwa rutinitas kuliah dapat mengisi waktu untuk sambil menunggu berbuka.
"Awalnya sih kaget ya, cuma ya lambat laun kayak udah biasa aja. Ya alhamdulillah diberi kekuatan dan keringanan buat ngejalaninnya. Kalau untuk puasanya biasa kita habiskan waktu untuk kuliah dari pagi hingga pukul lima atau enam sore jadi tidak terlalu terasa terus istirahat sampe jam tujuh malam dan jam delapan malamnya sudah mulai menyiapkan waktu buat buka," terang Effsal.
• Jeritan Pilu Pedagang Lemang Gara-gara Covid-19, Tak Lagi Jadi Menu Berbuka Favorit Saat Ramadan
Walau jauh dari tanah air, Effsal dapat mengobati rasa kerinduan dengan berkumpul dalam satu apartemen bersama setanah air.
"Kita tinggal seatap dengan enam orang Indonesia lainnya jadi kalau sahur biasanya kita bikin sendiri-sendiri tapi kalau buka kita Alhamdullilah buka bersama terus, nah untuk tarawih biasanya kita bikin jamaah sendiri di hostel dan imam ganti-gantian," ujar Effsal.
Effsal juga rutin berbuka puasa dengan muslim lainnya dari berbagai negara seperti Yaman Palestina, Turki, India dan Algeria yang memberikan pengalaman berkesan bagi Effsal.
Masyarakat Polandia menurut Effsal sejauh ini sangat toleransi antarumat beragama.
Effal menuturkan bahwa tidak jarang warga Polandia yang penasaran mengenai puasa dan ikut mencoba puasa selama sehari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/effdal-puasa.jpg)