Virus Corona
Warga Hanoi Bergembira, Vietnam Akhiri Physical Distancing, Kunci 0 Kematian Corona, Kucing Hitam?
Tak perlu lagi jaga jarak di tengah pandemi ini. Mereka sudah sukses melawan Covid-19. Vietnam telah cabut masa pembatasan sosial (social distancin
TRI BU-MEDAN.com - Warga Hanoi dan Ho Chi Minh sedang berbahagia di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.
Dua kota besar di Vietnam itu kini sudah menjadi kota seutuhnya.
Tak perlu lagi jaga jarak di tengah pandemi ini.
Mereka sudah sukses melawan Covid-19.
Vietnam telah cabut masa pembatasan sosial (social distancing).
Dikutip dari Telegraph.co.uk, aktivitas di Vietnam berangsur kembali normal.
• MUI Kota Medan Jelaskan Hukum Puasa Bagi Orang yang Terpapar Covid-19
Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc menyebut jika sudah tidak ada lagi provinsi yang rentan terhadap pandemi corona.
"Tidak ada provinsi di Vietnam yang sekarang dianggap "sangat rentan" terhadap pandemi ini," ujar Nguyen Xuan Phuc dikutip di Telegraph.co.uk.
Meski demikian, Nguyen Xuan Phuc tetap akan menutup beberapa bisnis yang tidak penting.
Diunggah oleh akun media sosial @hanoicapital, Vietnam memang mencatat tidak ada kasus baru selama 8 hari terakhir.
Pada postingan tersebut, juga terlihat kondisi Vietnam setelah social distancing dicabut.
• Gugus Tugas Ingatkan Asupan Gizi Saat Sahur, Jika Tidak Akan Mempermudah Virus Corona Masuk ke Tubuh
Meski lokasi Vietnam tak jauh dari China, di mana virus ini berasal, angka kasus covid-19 di Vietnam sangat sedikit.
Tercatat hanya 268 kasus ditemukan di Vietnam.
Bahkan dari semua kasus, tidak ada angka kematian di negara tersebut.
Menurut data worldometers.info, saat ini Vietnam hanya merawat 43 pasien virus corona.
Lalu, apa saja kunci keberhasilan Vietnam hadapi pandemi virus corona?
Diberitakan Tribunnews.com sebelumnya, ada beberapa angkah hebat Vietnam dalam menekan penyebaran virus corona yang bisa dicontoh oleh Indonesia tanpa menerapkan lockdown :
1. Pemerintah Proaktif dan Konsisten
Pemerintah Vietnam telah mengaktifkan sistem responsif saat tahapan awal wabah.
Kasus pertama terjadi pada 23 Januari lalu, saat dua orang warga China yang sedang berlibur Imlek di Kota Ho Chi Minh dinyatakan positif corona.
Pemerintah langsung mengintensifkan pengawasan, meningkatkan pengujian laboratorium, memastikan pencegahan dan pengendalian infeksi, manajemen kasus yang baik di fasilitas kesehatan, menyampaikan pesan komunikasi ke publik dengan sangat jelas, serta kolaborasi lintas sektor yang erat.
Media dikontrol dengan penyebaran kampanye-kampanye besar-besaran yang positif untuk bersama-sama melawan virus corona.
2. Penerapan Prinsip Dasar dan Protokol Kesehatan dengan Ketat
Langkah berikutnya adalah menerapkan prinsip-prinsip dasar kesehatan dan mengikuti instruksi ketat dari protokol kesehatan, seperti yang disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Nguyan Thanh Long saat konferensi pers pada 10 Februari lalu.
Seperti, dokter diharuskan mengobati segera gejala pada pasien seperti demam. Lalu pasien menjalani diet ketat dan makan-makanan bergizi, serta memonitor asupan oksigen di dalam darah pasien.
Selain melalui sisi medis, pemerintah Vietnam juga mencegah penyebaran virus meluas dengan menerapkan aturan liburan sekolah dan universitas yang panjang di 63 kota.
Meski libur sekolah, para siswa dipantau oleh guru dan terus diingatkan pola hidup bersih yakni mencuci tangan dan mengukur suhu tubuh.
3. Ekspor Satwa Liar Dilarang
Pemerintah Vietnam lebih jauh juga memberlakukan larangan ekspor satwa liar sejak 28 Januari.
Satwa liar yang dilarang juga meliputi hewan yang berhubungan dengan penyakit mematikan lain seperti SARS dan MERS.
Pasar hewan, peternakan, dan restoran diawasi ketat untuk meminimalisir perdagangan hewan liar yang dikomsumsi.
4. Pembatasan Kontak Fisik yang Diawasi Militer
Semua orang ditempatkan di bawah level pembatasan kontak yang ketat.
Sejak awal, siapa pun yang tiba di Vietnam dari daerah berisiko tinggi akan dikarantina selama 14 hari.
Pejabat keamanan atau mata-mata Partai Komunis mengawasi di setiap sudut jalan hingga ke desa-desa.
Tentara dikerahkan untuk melawan Covid-19.
Pengawasan ketat ini berhasil memperkecil jumlah orang yang melanggar peraturan.
5. Test corona sebanyak-banyaknya
Vietnam terlihat serius dalam menangani covid-19 di negaranya.
Terbukti, dari total 268 kasus yang terkonfirmasi, Vietnam telah memberikan tes corona pada 206,253 orang.
Jika dibandingkan dengan Indonesia, yang memiliki kasus lebih tinggi yakni 7,775 kasus per Kamis (24/4/2020)
Indonesia baru memberikan tes pada 59,935 orang.
Konsumsi daging kucing hitam
Salah satu obat yang diyakini oleh orang Vietnam ternyata cukup mengejutkan, karena mereka percaya kucing hitam bisa menjadi obat virus Corona.
Melansir Daily Star pada Kamis (24/4/2020) via Intisari, kucing hitam kini menjadi buruan di Vietnam karena diyakini tubuh mereka bisa menjadi obat virus Corona, lapor sebuah badan amal di Vietnam.
Kelompok No To Dog Meat itu menyelidiki, di negara Asia Tenggara itu mengatakan mereka mengonsumsinya dengan cara tak biasa.
Kucing direbus, kemudian dimasak, lalu diubah menjadi pasta yang diklaim sebagai ramuan penyembuh virus Corona.
• Gugus Tugas Ingatkan Asupan Gizi Saat Sahur, Jika Tidak Akan Mempermudah Virus Corona Masuk ke Tubuh
Dikatakan, praktik ini berpusat di sekitar Hanoi, hingga kucing juga dijual secara online.
Pedagang mengatakan, kucing hitam merupakan daftar solusi yang bisa mereka konsumsi sebagai ramuan.
Sebuah foto menujukkan bahwa bayi juga sudah diberikan campuaran ramuan ini dalam makananya.
Badan amal yang membongkar kekejaman pada hewan itu, menemukan deretan kucing yang mati dijemur setelah disembelih.
• Paman Bejat Tega Cabuli Keponakan Berulang Kali di Kebun, Baru Terungkap Saat Korban Hamil
Rekaman menyedihkan lainnya adalah, seekor kucing hidup di dalam kantung yang diletakkan di panci masak dengan air mendidih di tuangkan di atasnya.
Julia de Cadenet yang mendirikan badan amal ini, langsung mengkampanyekan perhentian perdagangan satwa liar, termasuk daging anjing dan kucing.
Dia mengatakan, "orang-orang seluruh dunia dapat mengerti ketakutan Covid-19, tetapi kekejaman terhadap hewan yang dilakukan orang-orang Vietnam ini tidak bisa dibiarkan."
"Tidak ada bukti apapun, bahwa makan kucing bisa menyembuhkan dari virus Corona, kalaupun ada itu tidak manusiawi ini tingkat kekejaman yang tidak bisa diterima," katanya, dikutip TribunJatim.com, Jumat (24/4/2020).
"Di China virus muncul dan menyebar ke hewan peliharaan, banyak pihak berwenang menangkap dan membunuh hewan tersebut," jelasnya.
"Pandemi ini seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menyakiti hewan-hewan tak berdaya demi mencari perlindungan dari virus Corona," tambahnya.
"Obat yang dibuat dengan menggiling kucing, kemudian dimasak menjadi pasta dan diberikan kepada penderita, ini tidak masuk akal aku harap mereka ditangkap," paparnya.
• Syahrini Pamer Aksi Reino Barack Saat Gendong Bayi, Menggemaskan!
Julia berkali-kali mengatakan pada PBB bahwa daging anjing dan kucing tidak bersih dan bisa menyebabkan krisis kesehatan global.
Dia menambahkan, "Mereka menyadari menyembelih hewan di pasar seperti di China itu tidak sehat, khususnya konsumsi terhadap satwa liar dan spesies yang terancam punah."
Di Vietnam dan wilayah tertentu Indonesia, praktik makan anjing dan kucing dianggap masih sering terjadi.
Sementara di Indonesia, pasar Tomohon yang menjual berbagai satwa liar juga sempat mendapat sorotan karena mirip dengan pasar di Wuhan.
Meski tak ada penelitiannya, beberapa pedagang satwa liar justru mempromosikan hewan eksotis sebagai obat untuk virus Corona.
(*)
Artikel ini sudah tayang di Bangka Pos dengan judul : Vietnam Akhiri Sosial Distancing, Ini Kunci Sukses Nol Angka Kematian karena Covid-19
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/vietnam-akhiri-masa-social-dist.jpg)