Ini Alasan Hilal Sebagai Penentu Ramadan, Sudah Dilakukan Sejak 26 Abad Silam
Marufin menyebutkan dari segi saintifik, aktivitas melihat hilal sudah bermula sejak 26 abad silam. Tepatnya dari masa Babilonia Baru.
Ini Alasan Hilal Sebagai Penentu Ramadan, Sudah Dilakukan Sejak 26 Abad Silam
TRIBUN-MEDAN.com- Penentuan awal bulan Ramadan di Indonesia dilakukan dengan dua metode, yaitu metode hisah dan rukyatul hilal. Kedua metode ini memiliki dasar masing-masing.
Sore ini, Kamis (23/4/2020) Pemerintah melalui Kementerian Agama RI akan menggelar sidang isbat penentuan 1 Ramadan 2020 dan Idul Fitri 1441 Hijriyah setelah melihat hilal.
• INILAH 3 Waktu Mustajab Berdoa saat Bulan Suci Ramadan Agar Terkabul, Serta Doa Hari Kedua Puasa
Untuk menentukan awal bulan Ramadan serta dua hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, para ilmuwan dan pemuka agama Islam di dunia berkumpul untuk melihat hilal.
Apa itu hilal? Mengapa melihat hilal menjadi penentu dimulainya kalender Hijriyah? Sejak kapan praktek ini dilakukan, dan apakah Islam satu-satunya agama yang mempraktekannya?
Astronom amatir Marufin Sudibyo menyebutkan bahwa hilal adalah bulan sabit tertipis yang berkedudukan rendah di atas cakrawala langit barat, dan sudah diamati tepat selepas terbenamnya Matahari.
“Jadi terbenamnya Matahari menjadi patokan. Hilal menjadi penentu bagi awal bulan kalender Hijriyah karena sifatnya. Bilamana pada senja hari ini hilal terlihat, maka di senja hari sebelumnya hilal tidak akan ada di atas cakrawala langit Barat karena Bulan memang tidak ada di sana,” tutur Marufin kepada Kompas.com, Rabu (22/4/2020).
Mengapa melihat hilal?
Marufin menyebutkan bahwa melihat hilal dinyatakan secara tekstual dalam sabda Nabi SAW: “Berpuasalah (dan berhari raya) karena melihat hilal. Jika tidak terlihat, maka genapkanlah.”
Dengan landasan itu, maka rukyatul hilal (observasi hilal) dipahami sebagai ibadah. Selain menentukan awal bulan kalender Hijriyah, hilal juga menentukan awal dua hari raya.
• Yang Perlu Diketahui saat Berinvestasi
“Meski di sini ada sedikit perbedaan. Lembaga seperti Nahdatul Ulama berpedoman seluruh awal bulan kalender Hijriyah harus ditentukan oleh terlihat atau tidaknya hilal, maka rukyatul hilal (observasi hilal) digelar setiap awal bulan,” papar Marufin.
Sementara itu, lembaga yang lain berpedoman rukyatul hilal cukup dilakukan hanya pada awal Ramadan dan dua hari raya.
Sementara di bulan-bulan kalender Hijriyah lainnya, ditetapkan berdasarkan hisab (perhitungan numerik-astronomik) yang bersandar pada sebuah kriteria yang memuat parameter-parameter minimal posisi Bulan.
“Sementara lembaga seperti Muhammadiyah berpedoman, seluruh awal bulan kalender Hijriyah ditetapkan dengan cara hisab berdasarkan kriteria tertentu saja,” tambahnya.
Sudah dilakukan sejak 26 abad silam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pemantauan-hilal.jpg)