News Video

Semengerikan Inikah Anak Gunung Krakatau, Ternyata Aktivitas Vulkanik Sudah Terjadi Sejak 1928

sebuah kapal wisata sempat hampir ditabrak oleh 'bom lava' Anak Gunung Krakatau yang meletus, seperti diwartakan South China Morning Post.

Editor: M.Andimaz Kahfi

Semengerikan Inikah Anak Gunung Krakatau, Ternyata Aktivitas Vulkanik Sudah Terjadi Sejak 1928

TRI BUN-MEDAN.com - Pada Sabtu (22/12/2018) Indonesia kembali dirundung duka.

Sebuah bencana tsunami terjadi di pantai Anyer, Carita hingga kawasan Tanjung Lesung, Labuhan Banten.

Menurut keterangan, melansir dari BMKG, tercatat tepat pukul 21.03 WIB Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi dengan gempa tremor terus menerus.

Berdasarkan penjelasan Rahmat Triyono dari BMKG, Tsunami Banten disebabkan oleh dua faktor alam.

Pertama gelombang tinggi akibat faktor cuaca di perairan Selat Sunda.

Kedua, adanya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Melansir AFP pada Minggu (23/12/2018), gunung api mematikan ini ternyata telah berada di bawah pengawasan sejak 90 tahun lalu.

Bahkan tercatat dalam daftar pengawasan letusan tingkat tinggi selama beberapa dekade terakhir.

Anak Krakatau telah aktif sejak Juni, dan beberapa kali mengirim gumpalan besar ke langit pada Oktober.

Bahkan, pada bulan Oktober sebuah kapal wisata sempat hampir ditabrak oleh 'bom lava' Anak Gunung Krakatau yang meletus, seperti diwartakan South China Morning Post.

Para Ahli mengatakan, Anak Gunung Krakatau muncul sekitar 1928 di Kaldera Krakatau.

Sebuah pulau vulkanik yang muncul sejak meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Dengan aliran lava berikutnya, gunung ini tumbuh dan kini berada di ketinggian sekitar 300 meter (1.000 kaki) di atas permukaan laut.

Sejak kelahirannya, Anak Krakatu telah berada dalam aktivitas erupsi semi-terus menerus, tumbuh lebih besar karena mengalami letusan setiap dua hingga tiga tahun sekali, kata profesor vulkanologi Ray Cas dari Monash University Australia.

"Sebagian besar, letusan relatif kecil pada skala letusan eksplosif, dan juga menghasilkan aliran lava," tambah profesor Ray Cas.

Pulau di sekitaran Anak Krakatau ini telah menjadi kawasan terlarang untuk di tinggali tetapi menjadi kawasan populer bagi peneliti dan ahli vulkanologi.

Ketika Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883, ia menembakkan hujan abu hingga lebih dari 20 kilometer ke udara.

Dalam serangkaian ledakan yang terdengar hingga 4.500 kilometer mencapai Australia.

Selain itu, secara geografis, Indonesia berada di persimpangan tiga lempeng benua yang berdesakan, di bawah tekanan besar.

Hal itu membuatnya sangat rentan terhadap gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Saat ini, Indonesia memiliki hampir 130 gunung aktif yang membentuk sebagian besar dari 'Cincin api' pasifik.

Busur aktivitas seismik yang kuat yang membentang dari Jepang yang rawan gempa melalui Asia Tenggara dan melintasi lembah Pasifik.

MISTERI Suara Dentuman hingga Abu Tebal seperti Hujan, Jadi Bagian Erupsi Gunung Anak Krakatau

Sumber suara dentuman pada Sabtu (11/4/2020) dini hari yang terdengar bersamaan erupsi Gunung Anak Krakatau di wilayah Lampung Selatan, masih menyimpan misteri.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ( PVMBG) Kementerian ESDM menjelaskan, suara tersebut bukan berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat (10/4/2020) malam atau pun aktivitas kegempaan.

"Saya sudah konfirmasi petugas pos pengamatan," kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Hendra Gunawan saat dihubungi di Jakarta, Sabtu.

"Mereka tidak mendengar karena letusannya juga kecil," sambungnya.

Menurut Hendra, tipe letusan Gunung Anak Krakatau tersebut tidak eksplosif, hanya semburan.

Di tipe ini, kata Hendra, suara yang terdengar biasanya hanya mendesis.

"Biasanya dalam jarak dua kilometer, kedengaran hanya suara desis saja," ujarnya pula.

Sementara itu, menurut Rahmat Triyono, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG dalam pernyataan yang diterima ANTARA, suara tersebut tidak ada kaitannya dengan gempa tektonik yang terdeteksi di wilayah sekitar Gunung Anak Krakatau.

Dari pantauan BMKG terkait gempa tektonik di Selat Sunda terjadi pada pukul 22.59 WIB, dengan magnitudo 2,4.

Pusat gempa tercatat di koordinat 6,66 lintang selatan (LS) dan 105,14 bujur timur (BT).

Tepatnya di laut pada jarak 70 kilometer (km) arah selatan baratdaya Gunung Anak Krakatau dengan kedalaman 13 km.

Kesaksian warga

Saat Gunung Anak Krakatau erupsi, warganet ramai membahas dentuman di media sosial yang mereka duga ada hubungannya dengan erupsi tersebut.

Salah satunya adalah Vina Trisna Widiatie, warga Cilebut, Kecamatan Bogor Barat, Jawa Barat.

Vina mengaku mendengar suara dentuman sekitar 02.30 WIB.

Saat itu, dirinya mengira bahwa suara tersebut adalah guntur pertanda hujan.

"Iya jam 2 tadi, lagi begadang nonton film. Nah, kedengaran suara gitu," ujar Vina warga Cilebut, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (11/4/2020).

"Saya kira dari tadi geluduk, mau hujan. Ternyata info teman, Krakatau meletus," jelasnya.

Sementara itu, salah satu warga Pancasan, Kecamatan Bogor Barat, Ayda Parlina, juga mengaku mendengar suara dentuman tersebut.

"Suaranya jelas banget, aku pikir mah memang karena mau hujan enggak jadi," ungkapnya.

Namun, Ayda mengaku tak merasakan getaran apapun saat erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut.

Suara dentuman tersebut, menurutnya, membuat takut untuk keluar rumah.

Takut ada tsunami hingga abu tebal

Sementara itu, warga di pesisir Kalianda, Lampung Selatan, Lampung, terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi.

Karena takut terjadi tsunami pasca-erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Warga di pesisir Kalianda langsung mengungsi ke gunung. Trauma karena tsunami kemarin,” kata Umar, warga Lampung Selatan.

Hal sama juga disampaikan Rahmatullah (Rahmat), warga Pulau Sebesi yang berada 19 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.

Menurutnya, akibat letusan itu warga di sekitar pantai memilih untuk mengungsi.

“Tadi warga yang ada tinggal di bibir pantai langsung mengungsi. Ada peringatan tadi,” kata Rahmat.

Rahmat juga menggambarkan, abu tebal ikut menyembur sejak gunung di Selat Sunda itu meletus.

“Abunya tebal, dari jam 12 malam tadi turun. Sampai di depan rumah ini masih ada abunya,” kata Rahmat saat dihubungi, Sabtu (11/4/2020) dini hari.

Artikel ini telah tayang di Intisari.Grid.id dengan judul : "Aktivitas Vulkanik Anak Gunung Krakatau Ternyata Terjadi Sejak 1928, Semengerikan Inikah Anak Krakatau?"

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved