Ikhlas Tangan dan Kaki Diamputasi, Kini Ahmad Prayoga Mampu Hasilkan 200 Karya Lukis Melalui Mulut
Ahmad Prayoga mampu menghasilkan lukisan dengan menggunakan mulut yang menjadi pengganti tangannya.
TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN – Fisik sempurna menjadi dambaan bagi setiap orang.
Hal ini dinilai banyak masyarakat dengan memiliki fisik yang lengkap akan mudah melakukan aktivitas dan dapat berkarya dengan cemerlang.
Namun, sebagian masyarakat yang memiliki fisik tidak sempurna juga mampu untuk berkontribusi dan menghasilkan suatu karya yang cemerlang.
Diantaranya ada Ahmad Prayoga yang mampu menghasilkan lukisan dengan menggunakan mulut yang menjadi pengganti tangannya.
Menjadi penyandang disabilitas bagi Yoga, tidak membuatnya terpuruk akan keadaan.
Bagi anak kedua dari empat bersaudara ini, walau fisik tidak lagi sempurna, ia berusaha untuk tetap dapat bermanfaat dan menginspirasi banyak orang.
Lahir dengan keadaan normal, laki-laki kelahiran 10 April 1998 ini harus rela kehilangan kedua tangan dan kakinya akibat kecelakaan di tahun 2015 silam.
Peristiwa ini bermula saat Yoga diajak temannya untuk melakukan pekerjaan sampingan menjadi tukang las.
Yoga yang kala itu masih berusia 17 tahun tertarik untuk menerima ajakan temannya.
Naas bagi Yoga, saat sedang mengelas, Yoga memegang besi yang terkena listrik bertegangan tinggi.
Yoga mengungkapkan bahwa pada saat itu yoga tidak dapat melakukan apa-apa dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Ia menuturkan bahwa seharusnya pada saat kejadian tersebut, ia harus segera melakukan amputasi untuk kedua tangan dan kakinya.
“Sampai saat itu Yoga tidak bisa apa-apa. Tangan dan kaki ini kaku, dibawa ke rumah sakit dan dibilang harus diamputasi. seharusnya pada saat langsung di rumah sakit harus diamputasi, tapi orang tua masih mengusahakan agar tangan dan kaki tidak diamputasi. tapi memang tidak bisa juga. Sulit untuk digerakkan karena syarafnya tidak berfungsi. Dua minggu setelah operasi baru kemudian di amputasi,” ungkap Yoga, Senin (6/4/2020).
Pandangan Yoga menyiratkan hal-hal yang yang ia kenang saat harus melalui masa-masa sulit untuk bangkit dari keterpurukan usai melakukan amputasi.
Yoga menceritakan bahwa untuk dapat beradaptasi membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
“Masa sulitnya disitu. Saat Yoga harus kembali lagi seperti belajar bagaimana cara duduk, berjalan dan di situ juga Yoga harus menerima kenyataan yang ada di depan Yoga. kita tidak boleh menolak, melawan, berontak, dan memang harus Yoga terima,” tuturnya.
Berjalan setahun pascaoperasi, Yoga memikirkan apa yang dapat ia lakukan walau memiliki kondisi fisik yang tak lagi sempurna.
Bergabung dalam yayasan Smiling Kids, sebuah rumah singgah bagi para pejuang kanker cilik, Yoga pun mulai mengenal dunia lukisan.
Ia mengungkapkan bahwa sebelum kejadian ini, ia tidak pernah terpikirpun untuk melakukan kegiatan melukis.
Ia menuturkan bahwa sebelum kejadian ini, ia sudah terjun dalam pekerjaan yang mengutamakan tenaga.
“Pada waktu keadaan belum seperti ini, Yoga kerjanya buruh kasar sambil sekolah. Waktu masa kecil Yoga sering ke ladang dan kerja bangunan. Waktu SMK itu sering nerima kerjaan untuk jadi tukang las, nggak pernah terpikirkan untuk melukis. Setelah kejadian ini mungkin sudah jalannya dari Allah, Yoga dikenalkan dalam dunia lukis. Mungkin ini yang bisa Yoga kerjakan untuk menjadi semangat Yoga untuk terus bergerak,” ujar Yoga.
Melukis bukanlah sesuatu yang mudah bagi sebagian orang. Haruslah memiliki imajinasi yang tinggi dan skill melukis yang terlatih. Bagi Yoga, melukis bukanlah sesuatu hal yang mustahil untuk dilakukan asal dengan kerja keras dan ketelatenan.
Ia menuturkan bahwa awal latihan melukis ia hampir putus asa.
• Mengasah Kemampuan Melukis Henna sebagai Profesi Sampingan yang Menjanjikan
“Waktu awal belajar melukis itu sulit dan sempat mikir sepertinya tidak bisa untuk melanjutkan melukis ini, karena memang capek sekali itu. Pegal dia waktu melukis itu. Entah habis berapa kertas dan cat tapi tidak menghasilkan. Yoga merasa kenapa seperti ini. Akhirnya Yoga belajar melalui Youtube ataupun Instagram dan Yoga praktikkan sendiri. Dari situ awal belajarnya, makanya sampai sekarang bisa keseharian Yoga,” ungkapnya.
Ketekunannya dalam berlatih melukis selama berbulan-bulan berhasil membuat Yoga hingga akhirnya mampu banjir tawaran orderan lukisan yang hingga kini total ada 200 lukisan yang mampu dibuatnya.
Yoga menuturkan bahwa, melalui lukisannya, ia mampu bertemu dengan para sosok inspiratif.
Pengalaman berkesannya dalam melukis yaitu saat ia harus melukis wajah dari Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution saat acara anniversary Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan.
“Ya sebernarnya Yoga sering melukis wajah tapi inikan sosoknya beda. Karena inikan seorang pemimpin di kota Medan. Awalnya bisa nggak ya. Takutnya tidak sesuai tapi akhirnya dicoba. Akhirnya memang karena Yoga ingin sekali melukis sosok pemimpin dan live langsung di lokasi, dilihat banyak orang dan gugup juga. Waktu Pak Akhyar datang kondisinya 90 persen,” kata Yoga.
Mampu berkarya walau memiliki fisik yang kini tak lagi sempurna, Yoga mengungkapkan siapa sosok yang menjadi inspirasinya.
Ia menuturkan bahwa orangtua lah yang paling berjasa baginya.
Tertegun sejenak, Yoga mengungkapkan bahwa ia tidak akan pernah menunjukkan kelemahannya di depan orang tuanya.
Ia ingin menunjukkan pada orang tuanya bahwa ia sanggup menjalani hari-harinya.
“Yoga malu kalau untuk memperlihatkan air mata di depan orang tua. Juga tidak bisa karena Yoga seperti ini mungkin Yoga bisa menerima, tapi orangtua mungkin terlihatnya ceria menghibur Yoga. Tapi pasti dalam hatinya mungkin terbesit ‘anakku terlahir normal tapi disaat beranjak dewasa jadi seperti ini’ pasti ada perasaan seperti itu. Makanya Yoga selalu menunjukkan bahwasannya Yoga sanggup menerima keadaan seperti ini,” ujar Yoga.
Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk setiap anaknya.
Hal ini jugalah yang disampaikan oleh Ayah Yoga, Sugiono.
Pria yang bekerja sebagai karyawan swasta ini berusaha semaksimal mungkin untuk tetap memberi dukungan penuh kepada anak laki-laki satu-satunya ini.
“Kalau itu sih, saya merasa awalnya sulit, gimana ya mengungkapnnya. Namun karena Yoga masih bersemangat untuk hidup ya kita tetap berusaha untuk menyemangati dan jangan sampai putus asa. Kita berusaha semampu kita, jangan sampai kita menyusahkan orang lain. Kita sebagai orang tua berusaha untuk memenuhi kebutuhan Yoga, jangan sampai dia merasa sendiri ataupun diasingkan,” tutur Sugiono.
Menekuni seni melukis sejak tahun 2016, membuat Yoga yakin bahwa melalui lukisan ini dapat menjadi media untuk memotivasi orang yang memiliki kondisi yang sama seperti dirinya.
Ia juga berharap, kedepannya orang-orang yang memiliki nasib yang sama seperti dirinya dapat terus bersemangat untuk menjalani hidup walau dalam keadaan apapun.
“Yoga akan seriusi ini. Yoga akan belajar terus agar bagaimana lukisan ini dapat diminati banyak orang dan bagaimana lukisan ini menjadi media yoga untuk membangkitkan dan memotivasi orang yang memiliki keadaan seperti yoga. Yoga tidak mau bangkit sendiri, yoga ingin memotivasi mereka melalui melukis. Manatahu dari seperti itu, orang-orang akan terbuka bahwasannya hidup ini kita udah ditentukan memang harus dijalani apapun yang sudah terjadi. Jadi kita tidak perlu menyesal atau menyerah kepada keadaan,” pungkas Yoga.
Hasil karya Yoga dijual dengan harga yang bervariasi.
Mulai dari Rp150-200 ribu untuk ukuran kecil, Rp200-300 ribu untuk ukuran sedang, dan Rp80 ribu per kepala untuk ukuran besar seperti foto keluarga.(cr13/tri bun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/melukis-pakai-mulut.jpg)