Rupiah Dekati Rp 17.000, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia, Ekonomi RI Lebih Kuat dari Krisis 1998

Peringkat utang pemerintah pun saat ini sudah masuk dalam kategori layak investasi oleh seluruh lembaga pemeringkat internasional.

tribunnews
Nilai tukar rupiah 

Rupiah Dekati Rp 17.000, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia, Ekonomi RI Lebih Kuat dari Krisis 1998

TRIBUN-MEDAN.com - Sempat menyandang mata uang paling perkasa di kawasan Asia, kini rupiah lemah tak berdaya. Bahkan, kini posisi rupiah tinggal selangkah lagi untuk mencetak rekor terburuk sepanjang masa.

Mengutip Bloomberg via Kontan.co.id, Senin (23/3/2020) pukul 10.45 WIB, rupiah masih berada di level Rp 16.550 per dolar Amerika Serikat, turun 3,69 persen dibanding penutupan Jumat (20/3/2020) di Rp 15.960 per dolar AS.

Selangkah lagi, rupiah mengincar rekor terburuknya sepanjang masa yang sebelumnya dicetak pada 17 Juni 1998, yakni di level 16.650 per dolar AS.

Dengan posisi saat ini pun, rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan. Sepanjang tahun ini, mata uang Garuda tersebut sudah anjlok 19,35 persen.

Mengingat pada 31 Desember 2019 lalu, rupiah masih tenang di posisi Rp 13.866 per dolar AS. Koreksi rupiah sudah jauh di atas mata uang di kawasan lainnya.

Won Korea yang sebelumnya menyandang mata uang dengan pelemahan terdalam, kini ada di level 1.277,57 atau turun 10,53 persen secara year to date (ytd). Pelemahan terbesar lainnya adalah baht Thailand.

Sepanjang tahun ini, baht sudah ambles 10,10 persen ke level 32.995 per dolar AS. Hingga saat ini, rupiah masih dalam tekanan dari penyebaran virus corona.

Jakarta, yang merupakan pusat perekonomian Indonesia, merasakan dampak paling besar.  Di sisi lain, rupiah juga di hadang oleh defisit transaksi berjalan yang masih menghantui.

Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tersebut kian mendekati level rupiah ketika Indonesia mengalami krisis moneter di tahun 1998 yakni Rp 16.650 per dollar AS.

Chief Economist PT Bank Permata (Tbk) Josua Pardede menjelaskan, meski level rupiah sudah jauh melemah, fundamental perekonomian Indonesia sudah jauh lebih kuat dibandingkan dengan dua dekade yang lalu.

Krisis yang kala itu dipicu oleh krisis mata uang bath Thailand dan sebagian utang luar negeri swasta yang tidak dilindungi nilai (hedging) mendorong tekanan pada rupiah mencapai 600 persen dalam kurun waktu kurang dari setahun.

"Krisis mata uang bath Thailand diperburuk dengan pengelolaan utang luar negeri swasta yang tidak prudent karena sebagian utang luar negeri swasta tidak dilindungi nilai, penggunaan utang jangka pendek untuk pembiayaan usaha jangka panjang, serta utang luar negeri yang dipergunakan untuk pembiayaan usaha yang berorientasi domestik," jelas Josua kepada Kompas.com, Senin (23/3/2020).

Dia menambahkan, pada 1998, krisis utang luar negeri swasta tersebut mendorong tekanan pada rupiah.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved