Gagal Ditangkap Panji Petualang, Pawang Buaya Australia Coba Tangkap Buaya Berkalung Ban Palu

Pawang buaya Australia Matt Wright akhirnya turun gunung menangkap buaya berkalung ban di Palu, yang gagal ditangkap sejak 2016.

Editor: Tariden Turnip
IG/mattwright
Gagal Ditangkap Panji Petualang, Pawang Buaya Australia Coba Tangkap Buaya Berkalung Ban Palu . Pawang buaya terkenal dari Australia Matt Wright mengunggah postingan buaya berkalung ban di Palu 

Gagal Ditangkap Panji Petualang, Pawang Buaya Australia Coba Tangkap Buaya Berkalung Ban Palu 

Pawang buaya Australia Matt Wright akhirnya turun gunung menangkap buaya berkalung ban di Palu, yang gagal ditangkap sejak 2016.

Matt Wright adalah pembawa acara Outback Wrangler, serial dokumenter yang tayang di National Geographic, dan timnya sudah berada di Palu dan langsung melakukan observasi di sekitar Sungai Palu, Minggu (09/02/2020)  bersama BKSDA Sulteng.

Observasi ini diunggah Matt Wright  di akun instagramnya.

Beragam komentar netizen menanggapi postingan Matt Wright.

Ada yang menyemangati.

Ada juga yang mengingatkan.

Bahkan ada yang memperkirakan setelah berita ini lokasi penangkapan akan macet.

Pakar buaya Australia Matt Wright melakukan observasi di Sungai Palu untuk menangkap buaya berkalung ban
Pakar buaya Australia Matt Wright melakukan observasi di Sungai Palu untuk menangkap buaya berkalung ban (facebook)

afriyni98:  Bae² iko namate percuma digigit buaya leh apa buaya jadi2an itu

erictokaili:  Besok pasti macet jalan dia bikin ini

didi_darmawan25: Good luck sir

agiaprila: Thnks sir i hope u can do it

riaztuayudahna: Good luck sir. Nnti kalo ke tangkap dp buaya, bole jo kitorang makan utakelo atau kaledo tanpa kolesterol

anugrasyuraa: I really hope that you'll do your best, I can't help seeing that poor croc with that thing around his neck any longer 

Seekor buaya muara (Crocodylus porosus) dengan ban yang menjerat lehernya terlihat di sungai Kota Palu, Selasa (20/9/2016).
Seekor buaya muara (Crocodylus porosus) dengan ban yang menjerat lehernya terlihat di sungai Kota Palu, Selasa (20/9/2016). (AFP PHOTO/ARFA)

Dari akun IG Matt Wright terungkap, Matt Wright sudah memantau berita terkait buaya berkalung ban di Palu sejak Februari 2020.

Ia mengunggah rencana membantu menangkap buaya berkalung ban di Palu yang sudah muncul sejak 2016.

Sejak 2016, Dinas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah telah mencoba untuk menyelamatkan dan melepaskan ban dari leher buaya tersebut.

Beberapa usaha di antaranya dengan jala yang diberi pemberat dan menggunakan kerangkeng.

Namun, upaya itu tak berhasil.

Bahkan, Panji petualang pernah mencoba menangkap dan melepaskan kalung ban dari buaya tersebut.

Sayang, upaya itu juga gagal dilakukan.

Pada 2020 ini, BKSDA kemudian mengeluarkan sayembara untuk melepaskan ban di leher buaya.

"Makanya sayembara itu kami buat. Barang siapa yang mampu mengeluarkan ban dari leher buaya itu akan mendapat hadiah yang setimpal. Tapi tidak ada DP, cash. Begitu keluar langsung bayar dengan mendapatkan penghargaan dari BKSDA," kata Kepala BKSDA Hasmuni Hasmar kepada wartawan, belum lama ini.

Hasmuni tak menyebutkan berapa dana yang disiapkan untuk sayembara itu.

Namun, sayembara itu akhirnya dihentikan karena sepi peminat.

Setelah upaya sayembara gagal, BKSDA memutuskan membentuk satgas yang di dalamnya terdiri dari Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda Sulawesi Tengah serta tim dari KKH Jakarta.

Satgas ini dibentuk untuk melepaskan ban yang ada di leher buaya. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pangi BKSDA Sulawesi Tengah Haruna sekaligus Ketua Satgas mengatakan, upaya melepaskan ban di leher buaya tidak akan menggunakan tembakan bius.

"Kami menggunakan harpun (sejenis tombak). Cuma kendala ombak besar dan buayanya timbul tenggelam, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, sehingga menyulitkan teman-teman menggunakan alat itu," kata Haruna.

Harpun yang digunakan BKSDA dibuat lebih aman dan tidak mematikan.

Alat itu lebih aman ketimbang tembakan bius. Bius lebih berisiko karena ketika terkena tembakan bius, buaya akan kaget dan masuk ke dalam air.

"Kalau sudah masuk ke dalam air, tim kita akan mengalami kesulitan untuk mengambil buaya berkalung ban, karena banyak juga buaya lain di sungai Palu itu. Dan dipastikan buaya berkalung ban bisa mati," kata Rino, salah satu tim Satgas buaya berkalung ban, Jumat (7/2/2020).

Populasi

Pasca-bencana alam, BKSDA belum mendata kembali soal populasi buaya yang ada di sungai Palu.

Namun, sebelum gempa pada September 2018, tercatat buaya di sungai Palu ada 37 ekor.

Saat ini diperkirakan jumlahnya semakin bertambah.

Hingga kini, upaya penyelamatan buaya berkalung ban masih terus dilakukan.

Tim mengaku kesulitan jika posisi buaya berada di muara karena arus yang cukup kencang.

"Kita mencoba menggiring buaya ke posisi jauh dari muara. Itu akan memudahkan kita bekerja," ujar Haruna.

Pakar Buaya Australia Matt Wright Turun Tangan Atasi Buaya Berkalung Ban di Palu, Ini Videonya

Sebagian artikel ini dikompilasi dari Kompas.com dengan judul "Sulitnya Lepaskan Ban di Leher Buaya di Palu, Pernah Panggil Panji Petualang hingga Gelar Sayembara".
Penulis : Kontributor Palu, Erna Dwi Lidiawati

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved