VIRUS Mengganas akibatkan Ribuan Ekor Babi Mati, Peternak Tak Berani lagi Mengisi Kandang

Sebagian dari peternak kini bingung mengembalikan kredit modal dan tidak berani mengisi kandang dengan bibit babi yang baru.

SHUTTERSTOCK
ILUSTRASI Babi. (SHUTTERSTOCK) 

Warga setempat mengaku sebagian besar babi  mati mendadak baik induk maupun anaknya.

“Di sini Bapak Made yang jual bibit babi.

Hanya  sudah dijual semua karena beberapa babi mati secara mendadak,” kata warga yang enggan disebut namanya.

Menurutnya, sebagian besar masyarakat di Banjar Semana memelihara babi di belakang rumah. 

Made Sudirta, peternak babi di Banjar Semana mengaku belum berani memelihara babi lagi setelah babinya mati secara mendadak dengan ciri-ciri demam, tidak mau makan sama sekali lalu mati.

“Serangannya begitu cepat," katanya.

Pascakejadian, Sudirta langsung menjual babi indukan yang masih hidup dan sehat. 

“Saya langsung ambil tindakan, cepat," ujarnya, Minggu (2/2).

“Indukan ada yang mati, ada yang seusai melahirkan mati juga. Kalau anaknya ada sekitar 50 lebih. Nah saat mati kan diperiksa oleh dinas, jadi yang dinyatakan masih sehat itu yang saya jual,” ungkapnya.

Pria yang sempat memelihara 25 induk babi itu mengatakan, kandang babinya kini dibersihkan saban hari dan disemprot  (disinfektan) seminggu sekali.

Kematian babi membuat Made Sudirta menderita kerugian Rp 50 juta lebih. 

“Yang jelas untuk biaya pakan per ekor induk saya habiskan uang sebesar Rp 3.200.000. Itu rata-rasa sampai induknya memiliki anak hingga dipisahkan dari induknya,” paparnya.

Made Sudirta mengatakan, tim dari  Pemerintah Kabupaten Badung  sudah mengecek tempat  usahanya dua kali.

Hanya hasil tes laboratorium itu belum disampaikan sehingga pihaknya belum berani beternak lagi.

“Kalau Kabupaten Badung sudah turun. Tapi saya kan tidak tahu dinas terkait bekerja atau tidak ya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved