Nasib Kapal Perang Terbesar AL Kebanggaan Sukarno setelah Soeharto Berkuasa, jadi Rongsokan Besi Tua

Kekuatan militer Indonesia pernah menjadi momok menakutkan di Asia hingga membuat Belanda angkat kaki dari Papua (Irian Barat saat itu)

Editor: Tariden Turnip
ISTIMEWA
Nasib Kapal Perang Terbesar AL Kebanggaan Sukarno setelah Soeharto Berkuasa, jadi Rongsokan Besi Tua. KRI Irian 201 

Dengan bobot yang luar biasa besar 16.640 ton dalam keadaan penuh awak kapal dan persenjataan, maka selama mengoperasikannya tidak aneh jika terjadi kesalahan-kesalahan.

Misalnya saja KRI Irian pernah bersenggolan dengan kapal selam yang akan menuju permukaan.

Setelah kampanye militer pembebasan Irian Barat selesai pada tahun 1964, KRI Irian mendapat perbaikan di galangan kapal Dalzavod-Uni Soviet.

Ketika melakukan perbaikan ada hal kecil yang menarik perhatian para teknisi Uni Soviet sewaktu melihat ruang yang tadinya digunakan untuk menyimpan pakaian sudah diubah menjadi tempat ibadah.

Pada bulan Agustus di tahun yang sama perbaikan terhadap KRI Irian selesai dan siap dilayarkan menuju Indonesia.

Dalam perjalanan kembali ke Surabaya untuk menghindari segala kemungkinan buruk, KRI Irian dikawal oleh sebuah destroyer milik Uni Soviet.

Namun, tidak lama kemudian suasana politik di Indonesia pun berubah dari Orde Lama pimpinan Soekarno menjadi Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto.

Pemerintahan Orde Baru ternyata tidak begitu menaruh perhatian pada KRI Irian dan mulai jarang dioperasikan serta malah cenderung terlantar sehingga mengalami kemunduran.

Dengan alasan biaya perawatan yang sangat besar akhirnya KRI Irian dibebastugaskan dan dijadikan besi tua.

Pada tahun 1970 kondisi KRI Irian sudah sangat parah dan sedikit demi sedikit mulai kebanjiran air laut.

Laksamana Soedomo yang saat itu menjabat sebagai KSAL lalu memerintahkan agar KRI Irian dibesituakan (scrap) di Taiwan tahun 1972 dengan alasan kekurangan komponen suku cadang kronis.

Menurut penjelasan Kolonel Laut Purnawirawan Soepono yang pernah menjadi staf Soedomo, untuk membawa KRI Irian ke Taiwan yang tidak berfungsi mesinnya, kapal perang yang pernah berjaya ini ditarik menggunakan kapal tunda dan diawaki oleh sejumlah personel ALRI.

Dalam perjalanan sebuah kapal perang Uni Soviet sempat mencegat pelayaran KRI Irian dan sejumlah perwira militer Uni Soviet memasuki kapal untuk melakukan inspeksi apakah semua persenjata di KRI Irian sudah dicopot.

Setelah memastikan KRI Irian sudah ‘dilumpuhkan’ (disabled) persenjataannya, dengan ditarik kapal tunda, KRI Irian tiba di Taiwan dan menjalani nasib tragis untuk di-scrap serta dijadikan beragam produk otomotif.

PEMBEBASAN IRIAN BARAT

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved