Nasib Kapal Perang Terbesar AL Kebanggaan Sukarno setelah Soeharto Berkuasa, jadi Rongsokan Besi Tua
Kekuatan militer Indonesia pernah menjadi momok menakutkan di Asia hingga membuat Belanda angkat kaki dari Papua (Irian Barat saat itu)
Bahkan untuk melawan kapal selama, KRI Irian dilengkapi 10 tabung torpedo kaliber 533 mm.
KRI Irian sebenarnya sejak awal tidaklah dipersiapkan untuk beroperasi di daerah tropis. Untuk itu sebelum diserahkan ke ALRI rencananya akan dilakukan sejumlah modifikasi.
Tapi begitu mengetahui biayanya yang terlalu tinggi perubahan itu urung dilakukan.
Namun, mengingat kapal ini sejak awal didesain untuk daerah dingin maka ketika dibeli oleh Indonesia yang beriklim tropis mau tidak mau ventilator kapal harus ditambah.
Tujuannya guna menambah sirkulasi udara di dalam ruangan kapal dan untuk memenuhi kebutuhan teknis itu, genset sebagai tenaga penggerak diganti menggunakan kapasitas yang lebih besar.
Di luar Uni Soviet pengguna kapal kelas Sverdlov ini pada zaman itu (1960-an) hanya Indonesia.
Dalam penjualan kapal kelas Sverdlov, Uni Soviet memang sangat selektif dan berusaha keras agar pihak Barat tidak mengetahui teknologi yang dimiliki.
Oleh karenanya Uni Soviet berprinsip tidak akan pernah menjual kapal sebesar itu ke pihak luar selain kepada sahabat dekatnya.
Sebagai negara yang sedang berhubungan baik dengan Uni Soviet, maka saat itu Indonesia tidak hanya membeli kapal perang atas air tapi juga sejumlah kapal selam (bawah air).
Tepat pada 24 Januari 1963 Ordzonnikidze resmi bertugas di Indonesia dan diberi nama KRI Irian (kependekan dari Ikut Republik Indonesia Anti Netherland) dengan nomor lambung 201.
Angka dua di depan menunjukan bahwa semakin kecil angkanya bobot dan ukuran kapalnya semakin besar.
Dilihat dari sejarahnya TNI AL ternyata baru pertama kali menggunakan nomor lambung berkepala dua pada armada kapal perangnya dan sampai sekarang belum ada penggantinya.
Pasalnya memang tidak pernah menggunakan kapal sekelas itu lagi.
KRI Irian memiliki jumlah total anak buah kapal (ABK) mencapai 1.250 orang dengan komandan pertamanya Kolonel Frits Suak.
KRI Irian langsung digunakan dalam Operasi Trikora khususnya untuk mendukung operasi militer secara besar-besaran bertajuk Operasi Jayawijaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kri-irian1.jpg)