Kronologi Lengkap Preman Pasar Baru Tewas Minta Nasi Goreng Gratis, Sempat Ayunkan Parang

Mahyudi (38), niat membela diri dan menyelamatkan karyawannya dari amukan seorang pria yang membawa parang malah dipenjara.

Dokumentasi Polrestabes Medan
Pemilik kafe Mahyudi (38), dan dua karyawan, Mursalin (32) dan Agus Salim (32) menjadi tersangka penganiayaan yang menyebabkan kematian Abadi Bangun. 

TRIBUN-MEDAN.com, Medan - Mahyudi (38), niat membela diri dan menyelamatkan karyawannya dari amukan seorang pria yang membawa parang malah dipenjara.

Pria tersebut merupakan pengelola Cafe Mie Aceh Pasar Baru Jalan Bahagia, Kelurahan Titi Rante, Kecamatan Medan Baru.

Syarwani, SH kuasa hukum Mahyudi Melalui stafnya mengatakan, dalam beberapa berita yang sudah tayang baik di media cetak maupun online kronologis kejadian banyak yang tidak benar.

Untuk itu pihaknya hendak meluruskan kronologis kejadian yang sebenarnya terjadi dipagi itu, Sabtu(1/2/2020) sore.

"Pada hari Rabu, 29 Januari 2020 sekitar pukul 01.30 WIB datang dua pemuda yang belakangan diketahui bernama Abadi Bangun dan temannya Jerry ke tempat usaha Mahyudi. Lalu saudara Abadi memesan nasi goreng. Setelah pesanan selesai dikerjakan, lalu dia mengatakan “Abang kenal sama yang berambut samping? Ku suruh nanti dia yang antar duit".

Mendengar pernyataan tersebut maka Agus Salim (karyawan) menyuruh Abadi untuk menunggu, “Kalau seperti itu, sebentar ya bang saya tanya dulu sama yang kelola kedai".

Mendengar hal ini Abadi yang merupakan preman kawasan Pasar Baru justru langsung emosi dan mengancam dengan kata-kata “Awas kau ya”. Sambil melemparkan 2 bungkus nasi goreng ke arah wajah Agus yang saat itu sudah dipegangnya, dan langsung bergegas pergi," kata Hafiz.

Selang 10 menit setelah pergi, Abadi kembali kewarung mie Aceh bersama dia orang temannya untuk melempar steling mie Aceh hingga pecah.

"Setelah itu, berselang waktu lebih kurang 10 menit kemudian Abadi datang lagi bersama Jerry dan satu orang temannya yang tidak diketahui namanya, dimana Abadi seketika setelah turun dari sepeda motornya, langsung melakukan pelemparan batu ke arah steling Mie Aceh hingga menyebabkan kacanya pecah," ucap Hafiz.

Stelah melempar, Abadipun pergi meninggalkan mie Aceh untuk mengambil parang serta mengancam untuk meminta jumpa dengan pemilik.

"Setelah itu Abadi pergi dari lokasi. Melihat itu, karyawan hanya bisa terkejut dan kemudian membersihkan pecahan kaca yang berserakan. 

Namun belum selesai membersihkan pecahan kaca tersebut, Abadi kembali datang dengan membawa parang dan mengacung-acungkannya serta berteriak-teriak dengan ancaman serta meminta dipertemukan dengan Mahyudi (pemilik)," cetus Hafiz.

Mahyudi menghampiri Abadi yang sudah mulai tidak terkontrol, dan tanpa banyak basa basi. Abadi langsung melayangkan parang kearah kepala Mahyudi, namun dengan refleks Mahyudi menahannya dengan tangan yang menyebabkan tangannya sobek.

"Akhirnya Mahyudi datang sebab ancaman yang dilakukan oleh Abadi semakin mengkhawatirkan dan dapat membahayakan," ujar Hafiz.

Mahyudi meminta agar masalahnya dibicarakan baik-baik, namun Abadi langsung membantah dengan mengatakan “kau bosnya" dan seketika itu juga langsung mengayunkan parang yang berada di tangan kanannya ke arah kepala Mahyudi.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved