Rekrutmen Satpam Dianggap Tak Transparan, Warga Tutup Jalan Akses Tambang PT Dairi Prima Mineral

Setelah itu, penutupan jalan dibuka oleh pekerja PT DPM, sehingga mereka dapat masuk ke area tambang dan bekerja.

TRIBUN MEDAN / DOHU LASE
Peserta aksi tutup jalan berdialog dengan polisi, Senin (16/12/2019). 

TRIBUN-MEDAN.COM, DAIRI - Sejumlah warga berdemo di lokasi tambang timah hitam dan seng PT Dairi Prima Mineral, Dusun Sopokomil, Desa Longkotan, Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Kabupaten Dairi, Senin (16/12/2019).

Mereka masuk lokasi tambang lewat jalan setapak di areal persawahan warga dan menutup akses keluar-masuk tambang.

Mereka protes lantaran janji PT DPM akan memberdayakan warga setempat belum terealisasi.

"(Menyangkut-red) permintaan kerja bang, putra-putri masyarakat dan masyarakat sekitar," kata Dodi Sihaloho, salah satu peserta aksi kepada Tribun Medan.

Terpantau, masyarakat peserta aksi sempat berdebat dengan aparat kepolisian di lokasi.

Tak lama kemudian, masyarakat peserta aksi dan manajemen PT DPM diajak dialog di kantor.

Setelah itu, penutupan jalan dibuka oleh pekerja PT DPM, sehingga mereka dapat masuk ke area tambang dan bekerja.

Informasi dihimpun dari aparat Unit Intel Kodim 0206/Dairi, aksi tutup jalan itu terkait aspirasi mereka yang ingin dijadikan pekerja di tambang PT DPM.

"Sebetulnya, seminggu lalu ada juga aksi tutup jalan juga. Kelompok itu sudah dikumpulkan dan diberi penjelasan. Sementara, kelompok yang melakukan aksi tutup jalan hari ini, kelompok yang lain lagi," kata anggota TNI yang enggan ditulis namanya ini.

Menurut beberapa masyarakat yang ditemui Tribun Medan, aksi tutup jalan tersebut terbilang pemaksaan.

"Sudah banyak warga Dairi diterima kerja di sana. Saya rasa sudah ada 200 orang," kata seorang warga bermarga Purba yang ditemui Tribun Medan di Parongil, ibukota Kecamatan Silima Pungga-Pungga.

Kata dia, protes muncul ketika PT DPM hanya menerima sedikit alias tidak menerima semua.

"Bukan kita membela PT DPM, tetapi pada beberapa kasus dijumpai pelamar itu juga yang salah. Contoh, penerimaan sekuriti. Kebutuhan contohnya hanya 50 orang, sedangkan pelamar ada 200 orang. Nah, yang 150 orang ini enggak lolos dan merasa tak terima," kata dia.

"Saya juga sudah masukkan penawaran mobil (merentalkan-red) ke sana (PT DPM-red). Namun, karena belum diperlukan, ya sabarlah. Mau bagaimana," imbuhnya.

Warga lain, bermarga Manalu mengatakan, penerimaan tenaga kerja yang dilakukan PT DPM betul-betul formal. Pelamar yang tak memenuhi persyaratan, kendati berstatus pemuda setempat, tidak akan diterima.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved