Polisi Belum Tetapkan Satupun Tersangka Pelaku Pembuang Bangkai Babi

belum ada satu pun yang ditetapkan tersangka dalam kasus pembuangan bangkai babi secara sembarangan tersebut.

Penulis: M.Andimaz Kahfi |
Tribun Medan
Personel TNI bakar bangkai babi di Jalan Kapten Sumarsono, Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal, Selasa (26/11/2019) 

Dari pagi hingga sore, Kepala DKPP Sumut, Azhar Harahap maupun Kabid Kesehatan Hewan DKPP Sumut, Mulkan Harahap ketika dihubungi belum memberikan respon.

Sehari sebelumnya, pembuangan bangkai babi secara sembarang oleh orang yang tidak bertanggungjawab ke aliran Sungai Tembung meresahkan masyarakat.

Seorang warga di kawasan perairan sungai Jalan Duku Raya, Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, laki-laki bernama Dian (21) mengaku sangat resah dengan adanya pembuangan bangkai babi secara sembarang ke sungai.

"Tadi saya ada lihat seekor bangkai babi mengambang di sungai sekitar pukul 17.00 WIB" kata Dian, Kamis (28/11/2019).

Warga lain bernama Diah (52) mengaku ada melihat ada lihat dua ekor babi kecil kemarin lewat di aliran sungai.

"Saya lagi duduk di pondok, semalam lihat kira-kira pukul 17.00 WIB juga," kata Diah.

Dijelaskannya, waktu gempar-gemparnya setiap sore tampak babinya besar-besar. Banyak memang karena yang nongkrong disini juga sempat heboh. Babinya ada juga yang dalam posisi diikat kakinya.

"Sebenarnya jijik lihat begitu. Karena kita ambil air mandi dari sungai. Makanya kalau air untuk mandi harus diambil cepat sebelum sore," jelasnya.

Warga sekitar sungai Jalan Duku Raya lainnya, bernama Wagini (52) mengatakan tidak sengaja sore tadi sewaktu melintas naik sepeda motor, dirinya melihat bangkai babi mengambang di Sungai Tembung.

"Tadi saya lihat bangkai babi di sungai sekitar pukul 17.00 WIB. Bangkai babi yang dibuang satu ekor tapi besar kali," kata Wagini.

"Ini yang kedua kali. Seminggu yang lewat, saya nampak satu. Tapi yang sebelumnya lebih dari satu," sambungnya.

Wagini mengungkapkan bahwa dampak dari pembuangan bangkai babi sembarangan di sungai, berdampak pada usaha kedai nasi miliknya. Pelanggan menjadi takut dan jijik untuk memakan ikan.

"Saya kan jualan kedai nasi kecil-kecilan. Semenjak ada pembuangan bangkai babi di sungai, yang beli lauk ikan berkurang. Sekarang pembeli banyak beli ayam dan telur. Mereka takut makan ikan karena adanya pembuangan bangkai babi," bebernya.

"Kami kesal juga kenapa tidak dikuburkan saja malah dibuang sembarang di sungai. Jujur penjualan nasi jadi berkurang gara-gara pembuangan bangkai babi disungai ini. Biasa dulu habis ikan 2 kilo sehari. Sekarang beli 1,5 kilo, bisa habis saja sukur. Malahan kadang enggak habis, cuma dua ikan yang laku," pungkas Wagini.

(mak/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved