Pendiri Lippo Group Mochtar Riady Bicara OVO: Kami Bakar Duit Terus di OVO, Bagaimana Kita Kuat

Pendiri Lippo Group Mochtar Riady mengatakan saat ini, saham Lippo di PT Visionet International (OVO) hanya tersisa 30 persen.

Editor: Tariden Turnip
SELULER.id
Pendiri Lippo Group Mochtar Riady Bicara OVO: Kami Bakar Duit Terus di OVO, Bagaimana Kita Kuat. Aplikasi pembayaran online OVO-Grab 

Ovo menjadi layanan dompet digital yang masuk daftar 5 besar di Indonesia, menurut survei iPrice Group.

Adapun 5 besar aplikasi dompet digital di Indonesia dengan pengguna terbanyak, secara berurutan adalah Go-Pay, OVO, Dana, LinkAja, dan Jenius.

Sementara, jumlah unduhan aplikasi terbanyak dipegang oleh Go-Pay, OVO, Dana, LinkAja, dan i.saku.

STARTUP BAKAR DUIT AWAS BUBBLE 

Perusahaan rintisan atau startup memiliki celah kegagalan cukup besar dan berpotensi menimbulkan gelembung (bubble) ekonomi.

Startup pada umumnya masih dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.

Adapun sebagian besar startup berbisnis di industri digital.

"Dalam pandangan saya fenomena gelembung spekulatif dalam bisnis startup ini mulai muncul. Tinggal tunggu gelembungnya meletus," kata Direktur Generasi Optimis Research and Consulting (GORC), Frans Meroga Panggabean, dalam pernyataan tertulis, Selasa (26/11/2019).

Sebelumnya, perusahaan rintisan sewa properti WeWork, memangkas 2.400 karyawannya guna memotong biaya dan pengeluaran perusahaan yang cukup besar.

Setelah memecat sejumlah karyawan, WeWork berupaya untuk menciptakan organisasi yang lebih efisien dan memfokuskan kembali pada bisnis inti perusahaan.

Pengurangan pekerja mewakili 19 persen dari total tenaga kerja WeWork yang berjumlah 12.500 karyawan per 30 Juni 2019 dilansir CNBC, Jumat (22/11/2019) lalu.

New York Times melansir, tidak kurang dari 1,25 miliar dollar AS adalah kerugian yang diderita WeWork, startup decacorn yang berbasis di New York itu.

Nilai valuasi perusahaan rintisan tersebut yang semula mencapai 50 miliar dollar AS merosot menjadi hanya kurang dari 5 miliar dollar AS.

Tak hanya itu, Softbank Group raksasa investasi dari Jepang juga sebagai investor utama dari WeWork dan Uber menyatakan merugi sampai Rp 100 triliun akibat anjloknya nilai valuasi Uber dan WeWork.

Frans menyebutkan bisnis digital yang selama ini dianggap sebagai lokomotif ekonomi terdepan dalam era industri 4.0 mulai berjatuhan satu demi satu.

“Bahkan Forbes pernah merilis angka kegagalan dalam bisnis startup itu mencapai 90 persen,” ujar dia.

Dalam riset GORC, ia melanjutkan, gejala latah bisnis digital ini hampir sama seperti yang terjadi pada 2000.

Saat itu, banyak perusahaan internet yang sempat mempunyai nilai triliunan berakhir gagal tanpa nilai sama sekali.

“Fenomena ini dikenal dengan internet bubble. Pets.com bangkrut, diikuti dengan Boo.com, Webvan, hingga semua saham perusahaan internet turun 75 persen,” ujarnya.

Strategi jitu Frans menilai bisnis startup tidak mempunyai modal sosial yang kuat dalam ekosistem bisnisnya.

Strategi bakar uang akan terus dilakukan demi tetap eksis dalam persaingan karena pasar hanya loyal terhadap harga dan promo serta diskon.

“Itu akan selalu menjadi lingkaran setan yang tidak ada habisnya jika sebuah startup baru berusaha masuk dalam suatu pasar,” ujarnya.

Menurut Frans, strategi yang benar seharusnya bangun modal sosial yang kuat terlebih dahulu dalam sebuah ekosistem, dengan melibatkan semua stakeholder untuk berkomitmen membesarkan usaha yang ada untuk kesejahteraan bersama.

Ia berpendapat, dukungan aplikasi digital hanyalah sebagai enabler dan akselerator setelah modal sosial tertanam dengan kuat antar semua pemangku kepentingan.

"Jangan terbalik, seharusnya aplikasi digital baru dipakai sebagai kemasan untuk membantu dan mempercepat pencapaian tujuan usaha setelah hubungan antar semua peran dalam rantai pasok sudah terjalin dengan solid," ucap dia.

#Pendiri Lippo Group Mochtar Riady Bicara OVO: Kami Bakar Duit Terus di OVO, Bagaimana Kita Kuat

Artikel ini dikompilasi dari Kompas.com dengan judul "Mochtar Riyadi: Kami Terus Bakar Uang di OVO, Mana Kuat...""Startup Terus Bakar Uang, Waspadai Bubble Ekonomi", dari kontan.co.id berjudul: Lippo lepas 70% kepemilikan sahamnya, OVO jelaskan duduk perkaranya

Sumber: Kompas.com
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved