Aktif Jaga Toleransi di Siantar, Humatob Akan Mulai Dengan Berziarah ke Makam Pendiri
Himpunan Masyarakat Batak Toba (Humatob) segera aktif lagi untuk menjaga rasa kondusifitas dan toleransi Kota Pematangsiantar
Penulis: Tommy Simatupang |
TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Himpunan Masyarakat Batak Toba (Humatob) segera aktif lagi untuk menjaga rasa kondusifitas dan toleransi Kota Pematangsiantar.
Organisasi yang dibentuk pada tahun 2003 ini akan melakukan ziarah ke makam para pendiri Humatob.
Ada empat makam pendiri yang akan didatangi yakni Resman Panjaitan, MR Sidabutar, Lian Harianja, dan Mangandar Sidabutar.
Empat makam ini berada di dua daerah yakni Siantar dan Samosir. Lalu, Humatob akan membentuk rapat konsolidasi untuk memilih ketua pengurus baru.
Salah satu Pendiri Humatob Kanor Butarbutar mengatakan kegiatan akan dilaksanakan Sabtu (2/11/2019).
Pria yang akrab dipanggil Garogol ini mengatakan tujuan mengaktifkan lagi Humatob ini untuk menjaga toleransi di Kota Pematangsiantar.
Humatob siap mendukung pemerintah untuk kepentingan pembangunan.
"Untuk menghidupkan kembali diawali dengan ziarah ke makam badan pendiri. Kita mendukung pemerintahan. Selama itu untuk membangun. Kita berikan waktu,"ujarnya, Rabu (30/10/2019).
Garogol menjelaskan Humatob hadir untuk menyatukan seluruh masyarakat Batak Toba.
Kehadiran Humatob sebagai peran elemen masyarakat untuk menjaga kondusifitas suatu daerah.
Ia berharap tidak ada lagi konflik yamg dapat memecah toleransi di Kota Pematangsiantar.
Garogol menceritakan Humatob sebuah organisasi yang berdiri atas sebuah rumor pelarangan menggunakan bahasa Batak Toba di Siantar.
Dan, ada juga rumor tidak boleh pimpinan dari luar suku Simalungun.
Pada tahun 2003, Humatob menggelar Gondang Partangiangan Raja Batak di Lapangan Adam Malik. Setelah dilakukan even itu, muncul struktur organisasi dengan ketua pertama terpilih yakni Teddy Silalahi.
"Kami ingin mempersatukan bahwa orang batak itu satu. Tumbuh kami dulu karena ada wacana tidak ada yang lain memimpin selain Simalungun. Ada pemikiran-pemikiran yg kurang positif melarang menggunakan bahasa Batak Toba di Siantar,"katanya ditemani salah satu pendiri Jayadi Sagala dan Julham Situmorang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pengurus-humatob-usai-rapat-untuk-melakukan-ziarah-ke-makam.jpg)