Aiptu Pariadi Diduga Bunuh Diri setelah Tembak Istri, Kamis Masih Ikut Gerebek Kampung Narkoba
Pariadi ditemukan tewas, tangan kanannya memegang pistol. Fitri ditemukan dalam keadaan luka di kepala dan telentang di atas kasur depan ruang TV.
SEIRAMPAH, TRIBUN - Warga Dusun VI Desa Lidahtanah, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) mendadak heboh mendengar tiga kali suara letusan, Sabtu (5/10) sekitar pukul 23.00 WIB.
Suara letusan bersumber dari rumah Kepala Tim (Katim) I Satuan Reserse Narkoba Polres Sergai Aiptu Pariadi (45). Tak lama berselang dua anak Pariadi, Faisal dan Chantika berteriak-teriak memanggil kakeknya.
"Ada tiga kali saya dengar letusan. Saya bisa jelas mendengarnya, karena memang lagi sepi kali suasananya. Aku sedang nonton televisi saat itu, karena ada bola. Setelah dengar dor..dor..dor aku yakin itu suara letusan pistol. Pasti ada apa-apa ini, dalam hatiku saat itu," ucap Anto tetangga sebelah rumah Pariadi.
Jarak rumah Pariadi dengan Anto sekitar lima meter alias bersampingan. Ia menambahkan, setelah memastikan itu suara letusan senjata, langsung mematikan televisi dan keluar rumah.
Begitu keluar rumah, Anto melihat Faisal dan Chantika berteriak-teriak memanggil kakek mereka.
"Yang Ical (Faisal) lari ke rumah kakeknya. Menjerit-jerit bilang kakek-kakek cepat lihat bapak...lihat mamak, cepat. Gitulah dibilang orang itu berdua sambil nangis-nangis. Aku enggak berani masuk ke rumah mereka. Yang pertama kali masuk ke rumah mereka, ya kakaknya. Saat itu ia hanya bisa bilang astagfirullahhalazim. Setelah itu barulah kemudian ramai warga," kata Anto.
Pariadi tewas mengenaskan. Ia diduga bunuh diri menggunakan pistol. Sebelum mengakhiri hidupnya, diduga Pariadi lebih dulu menembak istrinya, Fitri Handayani (45).
Pariadi ditemukan tewas dalam keadaan telentang, tangan kanannya memegang pistol. Pariadi memakai kaus oblong putih dan celana hitam. Kepalanya mengalami luka parah.
Fitri ditemukan dalam keadaan luka di kepala dan telentang di atas kasur depan ruang televisi. Fitri memakai pakaian tidur. Di kepalanya juga ada luka parah. Pihak kepolisian, yang mengetahui peristiwa tersebut langsung melakukan pengamanan di rumah korban.
Saat itu, ketiga anak Pariadi dan Fitri, Yuda (20), Faisal (16) dan Silvi (10), hanya bisa terduduk lesu di teras rumah. Ketiganya terduduk ditemani kakek dan nenek mereka. Rumah kakek dan nenek mereka hanya sekitar 50 meter saja dari rumah mereka.
Tetangga Pariadi tidak menyangka pasangan suami istri tersebut meninggal secara tragis. Mereka menyebut, selama ini tidak pernah mendengar rumah tangga Pariadi-Fitri punya masalah besar.
Sore hari, sebelum peristiwa mengenaskan itu, para tetangga mengaku, masih melihat keduanya duduk-duduk di teras rumah mereka.
Anto dan warga lain menduga, apa yang menimpa tetangganya hanya emosi sesaat. Sebab, selama ini mereka tidak pernah mendengar Pariadi dan Fitri cekcok.
"Ya, sorenya itu Kak Fitri masih sempat datang ke rumah. Biasa saja kami lihat enggak ada yang aneh. Dia datang karena mau mecahkan (menukar) uang sama istriku. Katanya dia mau undangan di Desa Pematang Tatal sore itu," kata Anto.
Pihak keluarga Pariadi juga mengatakan, selama ini tidak pernah mendengar keduanya ada masalah besar. Rumah tangga mereka begitu harmonis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/aiptu-pariadi-dan-istrinya-fitri-semasa-hidup.jpg)