Kepala Suku Lembah Baliem (Wamena) Angkat Bicara, dan Detik-detik 500-an Warga Disandera Perusuh
Massa perusuh meminta TNI/Polri membebaskan 6 kawan mereka dibarter dengan pembebasan 500-an warga yang mereka sandera.
Kepala Suku Lembah Baliem (Wamena) Angkat Bicara, dan Detik-detik 500-an Warga Disandera Perusuh
TRIBUN-MEDAN.COM - Berdasarkan hasil penyelidikan sekaligus pemetaan yang dilakukan Polri diketahui yang melakukan pembakaran dan tindak pidana kekerasan di Wamena, Jayawijaya bukan orang asli atau penduduk Lembah Baliem.
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan justru penduduk asli Wamena ikut melindung para pendatang saat terjadi kerusuhan.
“Pelaku pembakaran bukan penduduk asli Wamena (orang Lembah Baliem).
Mereka justru banyak membantu memberi perlindungan kepada para pendatang dengan mengamankan di rumah warga maupun gereja,” kata Dedi Prasetyo kepada wartawan, Minggu (29/9/2019).
Menurut Dedi, kepala suku Lembah Baliem (Wamena) Agus Hubi Lapago secara khusus meminta para pendatang untuk tidak mengungsi karena yakin masyarakat asli Wamena sangat mencintai masyarakat Papua pendatang.
“Karena mereka yakin para perusuh adalah kelompok di luar Wamena,” ujarnya.
Baca: Fadli Zon Tergeser dari Kursi Pimpinan DPR, Prabowo Tunjuk Langsung Sufmi Dasco Ahmad
Baca: Iis Dahlia Kehilangan Uang Ratusan Juta saat Liburan di London, Kesal Pihak Hotel Tak Tanggung Jawab
Baca: Kisah Jenderal Ahmad Sukendro yang Jadi Target Penculikan G30S/PKI, Tapi Akhirnya Selamat
Senada Kadiv Humas Mabes Polri Irjen M Iqbal dalam keterangannya hari Minggu (29/9/2019) mengatakan pelaku kerusuhan di Wamena bukanlah warga asli.
"Pelaku pembakaran bukan penduduk asli Wamena (orang Lembah Baliem).
Mereka justru banyak membantu memberi perlindungan kepada para pendatang dengan mengamankan di rumah warga maupun gereja," paparnya.
M. Iqbal menambahkan kepala suku Lembah Baliem (Wamena) Agus Hubi Lapago secara khusus meminta para pendatang untuk tidak mengungsi karena sangat yakin masyarakat asli Wamena sangat mencintai warga pendatang
"Karena mereka yakin para perusuh adalah kelompok di luar Wamena," ujarnya.
Baca: Janda Muda 22 Tahun Mengaku Diperkosa saat Tertangkap Basah Berhubungan Intim di Semak-semak
Baca: TERUNGKAP Motif Ratmiati Dihabisi Selingkuhannya setelah Berhubungan Badan saat Suami di Warung
M. Iqbal juga meluruskan, bahwa sasaran kekerasan pada kerusuhan sepekan lalu itu tidak hanya ditujukan kepada etnis tertentu saja yang tinggal disana.
"Pelaku mencari korban tidak ditujukan ke etnis tertentu, tapi membabi-buta," ucapnya.
Salah seorang yang lolos adalah Mus Mulyadi yang memulai ceritanya pada Senin pagi Senin pagi sekitar pukul 08.00, 23 September lalu.
Pria asal Sumatera Barat ini sedang berjualan aneka makanan. Sate padang, lontong sayur, dan gado-gado sudah rapi tertata pada wadahnya.
"Saya baru buka. Pembeli baru satu-dua. Langsung pecah (kericuhan). Saya langsung jemput anak saya di sekolah," tutur Mus yang sudah bermukim di Wamena sejak 2006 lalu.
Selang 15 menit, pembakaran terjadi di samping SMP, cerita Mus
"Setelah anak saya bawa pulang, kantor bupati dibakar. Selanjutnya POM bensin dibakar, merembet ke Woma," papar Mus saat ditemui di penampungan Ikatan Keluarga Minang (IKM) di Sentani oleh wartawan Enggel Wolly yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Senin (30/09).
Dalam kondisi tegang, Mus mengaku keluarganya dan ratusan orang lain diselamatkan penduduk asli Wamena.
"Kita 250 orang dibawa ke gereja, diungsikan, diselamatkan. Orang Padang, Jawa, Makassar dimasukkan ke gereja. Yang menyelamatkan asli orang Wamena. Mereka juga yang menjaga serta mengawal kami sepanjang hari itu," ungkapnya.

ANTARA/IWAN ADISAPUTRA / Suasana ruangan Kantor Bupati Jayawijaya yang terbakar saat aksi unjuk rasa di Wamena, Jayawijaya, Papua, Kamis (26/9). Kerusuhan yang terjadi pada Senin (23/9) tersebut mengakibatkan puluhan orang meninggal dan sejumlah bangunan terbakar dan rusak
Setelah kondisi kelihatannya aman, Mus dan keluarganya mengungsi ke Komando Distrik Militer Jayawijaya.
Mereka tinggal di sana selama semalam, untuk kemudian mengungsi ke Jayapura menggunakan pesawat maskapai Trigana.
Mengingat kembali kerusuhan di Wamena, Mus mengaku tidak merasakan tanda-tanda konflik horizontal.
"Saya dan keluarga hidup berdampingan dan sangat rukun. Masyarakat lokal, secara khusus orang Lembah Baliem sudah seperti keluarga saya sendiri. Putra daerah saya malah dekat dengan kita orang Padang. Kita sekolahkan dia, kita kasih makan, kita kasih gaji," paparnya.
Ditambahkan Mus, dia dan keluarganya masih menunggu hingga kondisi kembali kondusif.
"Untuk sementara kita di Sentani dulu, memang sebagian besar harta benda seperti tempat jualan dan sebagian rumah sudah hangus terbakar. Kalau kondisi aman, kita pasti kembali lagi untuk memulai usaha kita dari awal lagi," pungkasnya.
Data yang dirilis Kodim 1702/Jayawijaya mencatat ada 6.784 warga di Wamena yang kini tengah mengungsi ke sejumlah titik pengungsian seperti di kantor polisi, Markas Kodim, gereja dan lainnya.
Komandan Lanud Silas Papare Jayapura Marsma TNI Tri Bowo Budi Santoso kepada Kompas bahkan menyebutkan jumlah warga yang mendaftar untuk dievakuasi ke Jayapura pada hari Minggu (29/9/2019) telah mencapai 10.000 orang.
Mereka umumnya warga pendatang.
"Sekarang yang daftar sudah sekitar 10.000. Ada 2.670 yang sudah diangkut ke Jayapura," ujar Bowo di Jayapura.
Baca: MAHFUD MD Nasihati Najwa Shihab yang Sebut Telah Ada Disinformasi Serangan Jahat Padanya
Baca: Pria Beristri 4 Akui Dirinya LGBT, Ibunya Sewa Lima Pembunuh Bayaran, Beri Uang Rp 20 Juta
Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Candra Dianto mengkonfirmasi jumlah total korban tewas akibat ketusuhan tersebut sebanyak 33 orang.
Namun tidak semua korban tewas karena aksi kekerasan.
"Korban kekerasan 31 orang tewas, tapi yang dua lagi korban karena medis.
Jadi ada satu orang saat kejadian dia jantungan dan meninggal, sementara yang satu karena keracunan asap genset," tuturnya saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Sabtu (28/9/2019).
"Saat kejadian dia lagi di dalam ruang genset, kemudian bersembunyi di dalam ruang itu sampai keracunan dan meninggal," sambungnya.
Menurut dia, kini masyarakat di Wamena mulai kembali menjalankan aktifitasnya, namun mereka masih trauma atas kejadian tersebut.
Selain itu, pemerintah sudah mulai menurunkan tim untuk mendata jumlah kerugian yang disebabkan kerusuhan pada 23 September 2019.
"Sudah 100 persen yang disisir, hari ini ada kegiatan pendataan dari PU terkait berapa jumlah rumah yang rusak," kata Candra.
Diberitakan sebelumnya, dampak kerusuhan Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, masih terus berkembang.
"224 mobil roda 6 dan 4 hangus, 150 motor, 465 ruko hangus, dan 165 rumah dibakar," kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes AM Kamal . Sementara korban luka-luka mencapai 76 orang.
500-an Warga Disandera Perusuh
Akun facebook Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi mengungkap fakta kerusuhan Wamena yang tak banyak diketahui publik.
Ternyata saat kerusuhan meletus, massa perusuh sempat menyandera 500-an warga di pinggiran Wamena, kawasan Pike.
Massa perusuh meminta TNI/Polri membebaskan 6 kawan mereka dibarter dengan pembebasan 500-an warga yang mereka sandera.
500-an warga terdiri balita, anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak ditahan dalam Gereja Kibaid dan Honai.
Sekitar pkl 12.00 WIT negosiasi dilakukan oleh 2 orang negosiator perwakilan TNI/POLRI tanpa membawa senjata berlangsung alot.
Pihak aparat keamanan tidak diizinkan masuk ke wilayah tersebut oleh massa perusuh karena sudah diblokade dan mengancam pihak aparat keamanan apabila melintasi wilayah yang di blokade tersebut maka keselamatan 500-an orang yang tersandera jadi taruhannya.
Proses penyerahan pada pkl 16.30 masih saja berlangsung alot meskipun 6 tersangka massa perusuh sudah dihadirkan untuk ditukarkan dengan 500 warga koban sandera.
Tahap pembebasan warga tersebut belangsung dalam 2 gelombang.
Gelombang pertama penyerahan sandera pukul 19.00 sekitar 400 orang terdiri balita, anak-anak, ibu-ibu dan bapak- bapak yang disandera dihadirkan untuk diserahkan ke aparat keamanan.
Setelah penyerahan gelombang I selesai dilaksanakan, proses penyerahan gelombang ke dua dengan 100 warga yang masih tersandera di Gereja Kibaid dan Honai dilaksanakan pada pkl 22.00 WIT.
Setelah 500 warga berhasil dibebaskan, satu persatu warga koban sandera melintasi blokade disambut haru oleh keluarga yang menunggu di seberang blokade.
Para korban sandera tersebut langsung dievakuasi untuk dibawa ke tempat pengungsian, terlihat pancaran raut muka bahagia, tangis ketakutan dan trauma yang mendalam terpancar dari raut wajah mereka.
5 Tersangka
Hingga Senin (30/9/2019), pihak kepolisian sudah menetapkan sebanyak 5 tersangka terkait kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua, Senin (23/9/2019).
"Dari hasil pemeriksaan, 5 tersangka yang sudah ditetapkan oleh polres Wamena," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo di Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan,
Ia belum merinci lebih jauh mengenai peran kelima tersangka.
Namun, Dedi menuturkan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan para pelaku bukan berasal dari Wamena.
Saat ini, Dedi mengatakan bahwa secara umum situasi di Wamena sudah kondusif.
Saat ini, aparat fokus melakukan perbaikan pada fasilitas publik yang rusak.
Nantinya, jika situasi sudah kondusif dan kondisi psikologis para korban membaik, mereka yang mengungsi akan dikembalikan ke rumah masing-masing.
Kepala Suku Lembah Baliem (Wamena) Angkat Bicara, dan Detik-detik 500-an Warga Disandera Perusuh
Artikel ini dikompilasi dari Tribunnews.com dengan judul Polri: Pelaku Pembakaran dan Tindak Kekerasan Bukan Penduduk Asli Wamena, "Polisi Sebut Ada 5 Tersangka terkait Kerusuhan Wamena"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/warga-asli-papua-bantu-warga-pendatang.jpg)