Presiden AS Donald Trump Terancam Pemakzulan, DPR Umumkan Buka Penyelidikan Resmi

Presiden Donald Trump terancam dilengserkan dari jabatannya sebagai orang nomor satu di Negeri Paman Sam.

Editor: Juang Naibaho
Getty Images via BBC
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Ketua DPR AS Nancy Pelosi. 

Presiden AS Donald Trump Terancam, DPR Umumkan Penyelidikan Pemakzulan Resmi

TRIBUN MEDAN.com - Presiden Donald Trump terancam dilengserkan dari jabatannya sebagai orang nomor satu di Negeri Paman Sam.

Pada Selasa (24/9/2019) kemarin, Ketua Dewan Perwakilan AS Nancy Pelosi mengumumkan resmi membuka penyelidikian formal untuk pemakzulan Presiden Donald Trump.

Langkah tersebut diambil setelah Trump dianggap melanggar konstitusi dengan mencari bantuan dari Ukraina untuk menghalangi saingannya dari Partai Demokrat, Joe Biden.

"Tindakan Presiden Trump mengungkap fakta yang tidak terhormat tentang pengkhianatan presiden atas sumpah jabatannya dan terhadap keamanan nasional serta integritas pemilu kita," ujar Pelosi.

"Karena itu, hari ini saya mengumumkan bahwa Dewan Perwakilan melangkah maju dengan penyelidikan pemakzulan resmi," lanjutnya.

Baca: UPDATE Mahasiswa Faisal Amir Kritis di Rumah Sakit, Pendarahan Otak Pasca Demo Bentrok dengan Polisi

Baca: KPK TERKINI - Rincian 26 Poin Berpotensi Melemahkan KPK dalam UU KPK Hasil Revisi

Dilansir AFP, Nancy Pelosi mengumumkan langkah pemakzulan itu usai bertemu dengan sesama anggota kaukus Demokrat, di mana seruan untuk pemakzulan meningkat meski ada kekhawatiran bahwa langkah itu akan merusak peluang mereka dalam pemilu 2020.

Pengumuman itu turut dipicu oleh laporan skandal bahwa Trump berupaya menekan presiden Ukraina untuk membuka penyelidikan korupsi terhadap Joe Biden, dan putranya, Hunter.

Pemicu konfrontasi ini adalah laporan pengukapan rahasia yang terpusat pada panggilan telepon yang dilakukan Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 25 Juli lalu.

Pihak Gedung Putih telah menolak desakan untuk merilis keluhan dari pengungkap rahasia komunitas intelijen kepada Kongres AS.

Laporan pengaduan itu diduga menggambarkan bagaimana Trump telah mencari bantuan dari Ukraina untuk melawan Biden, yang saat ini menjadi kandidat terdepan dari Partai Demokrat untuk nominasi presiden.

Trump, pada gilirannya, telah mengakui bahwa dirinya berbicara dengan Zelensky tentang Joe Biden dalam panggilan telepon itu dan mengatakan bahwa dia telah menghentikan bantuan ke negara tersebut untuk sementara, sebelum dicairkan minggu lalu.

Baca: VIRAL VIDEO Oknum Polisi Tangkap Mahasiswa di Masjid, Mahasiswa Dipukul Beredar di Whatsapp

Kendati demikian, Trump menolak tuduhan bahwa kedua hal tersebut saling berkaitan dan mengatakan bahwa pembekuan bantuan tersebut guna mendorong negara-negara Eropa untuk meningkatkan dukungan mereka kepada pemerintah Ukraina.

Sementara Pelosi, yang awalnya menentang keras langkah pemakzulan, berharap agar Demokrat dapat tetap fokus dalam mengamankan kursi Senat dan Gedung Putih pada 2020.

Akan tetapi setelah tujuh petinggi Demokrat yang moderat menyatakan mendukung penyelidikan pemakzulan secara penuh pada Senin (23/9/2019) malam, maka sedikitnya 170 dari 235 anggota Demokrat di kursi DPR AS mendukung langkah itu.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved