Ekonomi AS Babak Belur, Ini Pertanda Trump Menyesal Teribat Perang Dagang dengan China

Presiden AS Donald Trump menuai kebingungan dengan komentarnya seakan menyesal sudah terlibat perang dagang dengan China.

AFP/BRENDAN SMIALOWSKI
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan bilateral di sela KTT G-20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuai kebingungan dengan komentarnya seakan menyesal sudah terlibat perang dagang dengan China.

Dalam KTT G7 di Biarritz, Perancis, akhir pekan lalu, Trump mengumumkan kesepakatan dagang bagus dengan Jepang, dan menjanjikan dengan Inggris, begitu Brexit selesai.

Namun pengumuman positif itu segera berubah menjadi keraguan buntut sinyal penyesalan yang dia lontarkan saat mengomentari perang dagang dengan China.

"Saya punya pemikiran kedua tentang apa pun," kata Trump saat ditanya apakah dia menyesal soal keputusannya menaikkan tarif segala impor dari Beijing.

Dikutip AFP Senin (26/8/2019), Trump menerapkan tarif 550 miliar dollar AS, sekitar Rp 7.844 triliun, sebagai balasan atas kenaikan Beijing atas barang AS.

Beberapa jam kemudian, juru bicara Gedung Putih Stephanie Grisham mengeluarkan pernyataan yang intinya menegaskan media sudah salah mengartikan ucapan Trump.

Dalam keterangannya, Grisham mengatakan presiden 73 tahun itu ditanya "apakah dia punya pemikiran lain soal meningkatnya perang dagang dengan China", dan menuding komentarnya ditafsirkan salah.

"Presiden Trump sudah menegaskannya. Yang beliau sesalkan adalah tidak memberikan pajak lebih tinggi kepada China," demikian keterangan Grisham.

Sementara ekonom senior yang menjadi penasihat Trump, Larry Kudlow, memberikan jawaban berbeda. "Beliau tidak mendengar pertanyaannya dengan baik," ujarnya.

Permintaan untuk Tenang

Para pemimpin anggota G7 yang hadir dalam KTT di Biarritz jelas-jelas mengungkapkan supaya AS dan China menunjukkan sikap menahan diri guna menghindari eskalasi.

Para pemimpin Eropa menekan Trump supaya mundur dari "perjuangan habis-habisan" untuk menggeser China yang dituding mencuri intelektual dan tidak adil dalam berdagang selama bertahun-tahun.

Suara Eropa terakhir yang keluar adalah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson Dia memberi tahu Trump dalam sesi sarapan Minggu (25/8/2019) bahwa mereka "tak suka dengan tarif".

"Saat ini kami begitu senang dengan perdagangan yang damai," ujarnya. Presiden Perancis Emmanuel Macron juga berseru bahwa ketegangan dagang sudah tidak sehat.

Apalagi, presiden dari Partai Republik itu sebelumnya telah melontarkan ancaman siap melakukan perang dagang baik dengan Perancis serta Uni Eropa.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved